Kita Semua Besaudara (Ukhuwah Basyariyah)

Kolom
Foto: 
ilustrasi

Kita Semua Besaudara (Ukhuwah Basyariyah)

Nusantaramengaji.com - Pada dasarnya manusia diciptakan dari saripati yang sama; yaitu; tanah. Artinya, dari saripati tanah, di mana segala makanan dan minuman tumbuh, lalu menjadi sperma yang kemudian bertemu dengan ovum sehingga terjadi penciptaan manusia. karena itu, semua manusia, pada hakekatnya berasal dari sumber dan bentuk yang sama, tidak ada perbedaan anatara satu dengan yang lainnya.

Basyar artinya adalah manusia sedangkan ukhuwah adalah persaudaraan. Ukuwah Basyariyah memiliki makna persaudaraan manusia yang sifatnya universal, melampui batas-batas agama dan negara. Dalam semua kitab suci dan tidak suci sudah dijelaskan bahwa semua manusia itu berasal dari nabi Adam sebagai bapak pertama umat manusia dan Adam diciptakan dari tanah liat. Maksudnya adalah darinyalah semua manusia lahir dan berkembang menjadi berjuta-juta sampai bermiliyar-miliyara manusia sehinga kemudian disebut dengan bani/kelurga Adam.

Dalam Islam persaudaraan antar umat manusia ini sangat ditekankan. Di samping sebagai keluarga besar Bani adam juga dimaksudkan agar antar sesama manusia saling mengenal dan memahami diri dan kebudayannya masing-masing. Ukhuwah basyaraiyah tidak didasarkan pada etnis atau agama tertentu tapi ukuhuwah ini  murni ukhuwah sebagai sesame  manusia itu sendiri. Pemahaman ini penting dikedepankan mengingat dalam beberapa abad belakangan ini sebagian manusia merasa lebih unggul dari manusia lainnya. Misalnya bangsa  Yahudi Israel yang menganggap lebih unggul dari bangsa lainnya atau ras eropa/kulit putih yang merasa lebih unggul dari ras asia/afrika. Dan tak jarang kerean mengnggulkan bangsa atau golongannya masing-masing sering terjadi konflik dan perang yang mengerikan. Inilah tujuan Ukhuwah Basyariyah.

Oleh karena itu, Islam mengajarkan pentingnya Ukhuwah Basyariyah sebagai basis kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Dalam Al Qur’an surah Al- Hujurat ayat 13 Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Berkenaan dengan ayat ini, Ibnu Katsir mengatakan bahwa pada garis besarnya semua manusia bila ditinjau dari unsur kejadiannya, yaitu tanah liat, sampai dengan Adam dan Hawa a.s. adalah sama derajatnya. Sesungguhnya perbedaan keutamaan di antara mereka karena perkara agama, yaitu ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itu sesudah Allah melarang perbuatan menggunjing dan menghina orang lain, Allah Swt. berfirman mengingatkan mereka, bahwa mereka adalah manusia yang mempunyai martabat yang sama.

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad dari Abu Dzar r.a mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi SAW. pernah bersabda kepadanya: “Perhatikanlah, sesungguhnya kebaikanmu bukan karena kamu dari kulit merah dan tidak pula dari kulit hitam, melainkan kamu beroleh keutamaan karena takwa kepada Allah”.

Dalam hadis lain riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia memandang kepada hati dan amal perbuatan kalian”.

Dalil di atas menunjukkan bahwa persaudaraan itu tidak memandang rupa dan warna kulit. Selama manusia berbuat baik kepada sesama maka ia telah melakukan tugasnya sebagai manusia/khalifah di bumi untuk memakmurkan bumi dan menghindari konflik dan kerusakan. Selain itu, sebagai umat islam yang menjadi bagian dari peradaban manusia seharusnyalah tidak mengedepankan ego dan golongan sehingga dengan mudah menyalahkan dan merendahkan pihak lain. Dalam ajaran Islam yang dikedepnakan adalah keimanan dan ketakwaanya kepada Allah dan Rasulnya, bukan pada kualitas fisik tapi pada kualitas iman yang diimplementasikan dalam dunia nyata.

Andaikata ada sebagian bangsa atau golongan manusia yang merasa diri paling baik dari yang lain tentu ia telah membantah firman Allah dan mengangkangi kenyataaan. Seseorang atau manusia yang betul-betul mendalami ajarang agamanya, apapun agamanya itu, pasti menyadari dan memahami ukhuwah basyariyah ini. Karena semua agama mengajarkan kebaikan dan ketaatan pada Tuhannya yang maha baik. Kalaupun ada yang tidak baik dan mengabaikan pesan penting Tuhannya tentu itu terletak pada manusia itu sendiri yang kurang memahami dan menghayati agamanya, bukan pada ajaran agamanya.

Dengan demikian, Ukuhuwah Basyaraiyah ini harus didahulukan atau dijadikan dasar bagi setiap orang yang mendambakan persatuan dan kedamaian antar sesama umat manusia sebagaimana perintah Tuhan. Mengabaikan pesan ini dipastikan akan menimbulkan kekacauan dan konflik yang tidak berkesudahan seperti saling benci dan caci maki bahkan sampai perang. Orang-orang yang mengabaikan pesan Tuhan ini dipastikan hidupnya tidak tenang dan bahagia karena dipastikan ia selalau terlibat konflik dengan pihak lain.

Untuk itu, Diperlukan pemahaman bersama bahwa kebaikan dan indahnya perdamaian itu tidak harus dipandang dari golongan, bangsa dan agama  tertentu karena hakkekatnya manusia itu butuh ketenangan dan kedamaian untuk mencapai tujuannya masing-masing dan itu hanya mungkin dengan menjalin persudaraan antara satu dengan yabf lainnya. Bukankah persaudaraan itu dapat memanjangkan umur dan memperlancar rizki ?.  Wallahu A’lam Bisshowab. (Lufi Sy)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00