Kilas Balik Bulan Haji, Tolong Menolong Menuju Peradaban

Oleh : Firdaus M Siddiq

Suatu kisah di bulan Dzulqa’dah saat umat Islam berangkat haji dari madinah menuju Mekkah. Kisah itu adalah Perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian Hudaibiyyah adalah sebuah perjanjian yang diadakan di sebuah tempat di antara Madinah dan Makkah pada bulan Maret 628 M (Dzulqaidah, 6 H).

Kisahnya adalah ketika di tahun 628 M, sekitar 1400 Muslim berangkat ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka mempersiapkan hewan kurban untuk dipersembahkan kepada kaum Quraisy.

Quraisy, walaupun begitu, menyiagakan pasukannya untuk menahan muslim agar tidak masuk ke Mekkah. Pada waktu itu, bangsa arab benar benar bersiaga terhadap kekuatan militer Islam yang sedang berkembang.

Nabi Muhammad SAW mencoba agar tidak terjadi pertumpahan darah di Mekkah, karena Mekkah adalah tempat suci.

Akhirnya kaum muslim menyetujui langkah Nabi Muhammad SAW, bahwa jalur diplomasi lebih baik daripada berperang.

Ulasan mengenai perjanjian hudaibiyah ini mengingatkan penulis dengan sebuah dialog dengan seseorang melalui Handphone. Dalam kesempatan tersebut Ia membacakan dua ayat awal surah Al-Maidah.

Sambil mengkerutkan dahi, saya pun jadi penasaran dengan kedua ayat ini: ”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu (janji setia prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya).

Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakiNya.”

Lalu ayat kedua, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syiar Allah (segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadah haji dan tempat-tempat mengerjakannya).

Dan jangan melanggar bulan-bulan haram (zulqa’dah, Zulhjjah, Muharram dan Rajab). Jangan mengganggu) binatang-binatang “hadya” (binatang sebagai denda karena meninggalkan salah satu rukun haji,) dan binatang-binatang Qalaid (binatang yang ditandai untuk “hadyu”), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi  baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridlaan dari TuhanNya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu, dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum karena menghalang-halangi kamu dari masjidil haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaan Nya. (Al Maidah (5) : 1-2)

“Saya”, kata penelpon tadi, sebut saja namanya Ahmad “Memahami bahwa ayat ini membicarakan tentang haji dengan segala prosesinya yang menggambarkan seperti apa tata sistem masyarakat beradab. Bagaimana kita sebagai individu bertanggungjawab kepada Allah Swt dan kita sebagai makhluk sosial ikut membina kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan berkemanusiaan yang baik.”

Ahmad nampaknya menggaris bawahi ujung ayat, saling tolong menolonglah kamu …dst.

Saya balik bertanya, “Bagaimana Anda bisa memahami ayat ini seperti itu?” Ahmad meneruskan ceritanya.

“Ada nilai yang saya bidik pada ayat ini.” Kata Ahmad dengan nada meyakinkan. “Selain hukum boleh dan tidak boleh, Allah berpesan kepada hamba-Nya untuk saling tolong menolong dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

Mendengar analisa Ahmad, saya pun terpikir seperti apa “kebajikan dan takwa” dan apa yang dimaksud “pelanggaran dan perbuatan dosa”. Dalam hal ini saya menjadi pendengar yang baik dan tentunya ikut berpikir.

 Pikir punya pikir, saya harus merujuk kepada kitab tafsir dan saya pun meraihnya, karya Muhammad Ali Ash Shabuni, Shafwah At Tafasir jilid 1. Ahli tafsir dan pengkaji ilmu al-Qur’an terkenal dari Mekah ini menjelaskan bahwa maksud saling tolong menolong adalah tolong menolonglah kalian dalam melakukan kebajikan dan setiap amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah serta meninggalkan kemungkaran.

Walaupun saya tidak menangkap secara detil maksud Ash-Shabuni, karena beliau tidak mencontohkan maksud ayat ini, saya masih bisa menangkap gambaran umum tentang kemungkaran yang menjauhkan diri dari Allah dan amalan yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya.

Dengan rujukan Ash-Shabuni saya jadi sedikit lebih paham atas apa yang dimaksudkan teman saya ini.

Sambil memegang kitab Tafsir tadi, saya pun bertanya dengan Ahmad yang masih mengudara, “lalu, maksud detil ayat tersebut seperti apa?”.

Ia melanjutkan.  “Saya menoleh kepada setting (latar belakang keadaan) sosial di saat ayat ini turun. Karena ayat ini turun setelah terjadinya perjanjian Hudaibiyah”

Lalu ia menjelaskan karya Husein Haikal. Kisah di buku tersebut menghidupkan pikiran dan hatinya tentang apa yang diinginkan dari ayat ini.

Ada beberapa latar belakang terjadinya perjanjian Hudaibiyah. Di antaranya masyarakat muslim yang sudah enam tahun berada di Madinah dan rindu ingin hijrah ke Mekkah menunaikan ibadah haji dan umrah. Kemudian keinginan mereka itu di larang oleh kafir Quraisy dll.

Singkat cerita terjadilah perjanjian antara pihak kaum muslimin di Madinah dengan masyarakat kafir Quraisy di Mekkah. Catatan, pada masa ini pula Nabi mengumumkan ibadah haji yang juga diwajibkan dalam agama-agama orang Arab sebelum itu.

Karena panjangnya cerita tersebut, teman saya ini hanya mengambil kesimpulan umum bahwa perjanjian Hudaibiyah adalah suatu kemenangan yang nyata sekali. Perjanjian yang berisikan hasil politik yang bijaksana dan pandangan yang jauh, visioner, yang besar sekali pengaruhnya terhadap masa depan Islam dan masa depan masyarakat Arab.

Semua Quraisy mencurahkan perhatiannya pada perluasan perdagangan mereka, dengan harapan kalau-kalau semua kerugian yang dialaminya selama perang antara muslimin dengan quraisy dan ketika jalur perdagangan ke Syam tertutup dan perdagangannya terancam akan mengalami kehancuran, dapat ditarik kembali.

Sebaliknya Nabi Saw, mencurahkan perhatiannya terkait kelanjutan dakwah ajarannya kepada seluruh umat manusia di segenap penjuru dunia. Pandangannya diarahkan dalam langkah mencapai sukses untuk ketentraman umat muslim di seluruh semenanjung.

Masa ini (perjanjian Hudaibiyyah) adalah masa menuju kemenangan umat Islam dan umat manusia umumnya. Di masa ini turun ayat 1 dan 2 Surah Almaidah. Dan di masa ini pula diumumkan kewajiban haji.

Dan dari sini pula, haji dengan segala prosesi ibadahnya mencerminkan tata sistem yang lebih baik dan beradab. Bisa dimaknai saling tolong menolonglah kalian menuju keadaban dengan memperhatikan kebajikan dan menghindari kemungkaran serta menjadikan takwa sebagai sistem kontrol sosial.”

Sembari mencerna dalam hati, saya masih tetap mendengarkan suara Ahmad dan ia melanjutkan pandangannya. “Takwa yang saya pahami sebagai sistem control individu dan sosial, kata Ahmad, di dalamnya terdapat nilai kepercayaan kepada hal ghaib, kepada apa yang diturunkan untuk dijadikan petunjuk (Al Quran dan kitab-kitab sebelumnya), yakin akan hari akhir, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian harta menuju kemenangan (Al Baqarah 2-5).”

Lalu dengan nada sedikit lebih prihatin, Ahmad mengevaluasi dirinya sendiri, meski saya pun terasa untuk diri saya sendiri.

Kata Ahmad, “Saya jadi berpikir, bagaimana saya dapat melatih diri di saat menunaikan ibadah haji nantinya untuk kemudiannya menciptakan masyarakat yang beradab, bukan hanya kesalehan individu, bukan hanya cerita bagaimana Masjidil Haram sedang direnovasi oleh puluhan kontraktor hebat, bukan cerita megahnya lokasi jumrah ‘Aqobah yang dibangun lima lantai, bukan bangga dengan ONH plus, tapi saya mengambil pesan universal akan dua ayat ini dengan berkaca dari sejarah dibelakangnya.”

Kemudian saya berkomentar, “Walaupun kita belum berangkat haji, maksud ayat ini tidak harus ditemukan di Masjidil Haram, tapi bagaimana kita menerapkan atau mendapatkannya di lingkungan sekitar kita berupa sikap saling tolong menolong meraih perdamaian, ketentraman dan kemakmuran yang diwakili oleh kata keadaban atau beradab.”

Pembicaraan yang membuat hati saya padat dan basah ini tak terasa hampir satu jam. Lalu kamipun berpamitan. Terima kasih Anda telah menceritakan kisah berharga ini wahai Ahmad” lantas ia pun ucapkan terima kasih, pamit dan mengucapkan Assalamu’alaikum ... Teman saya tadi ternyata Jama’ah calon haji.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00