Kajian Tafsir di Pesantren, Menggali Potensi yang Terpendam

Sampai hari ini, lembaga pesantren masih dianggap sebagai pilihan terbaik dalam menanamkan nilai-nilai keislaman, baik melalui jalur formal di kelas maupun jalur non-formal, seperti pengajian weton di gotha’an (tempat tinggal santri selama di pesantren). Sebagai lembaga alternative, pesantren masih tetap diandalkan untuk bisa melahirkan tokoh-tokoh agama yang mumpuni (mutafaqqih fid-din).

Dalam ukuran pragmatis, juga bisa dilihat bahwa lulusan Perguruan Tinggi Islam baik negeri maupun swasta, yang menduduki ranking tertinggi seringkali jebolan pesantren. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa SDM  pesantren adalah SDM yang paling siap untuk melakukan kajiaan-kajian keislaman dalam bidang apapun, baik tafsir, hadis, fiqh, ushul fiqh, dan lain-lain.

Namun, realitas di atas pada akhir-akhir ini mulai memudar bersamaan dengan terjadinya disorientasi di kalangan santri. Mereka sudah tidak lagi merasa bangga bisa membaca kitab kuning. Justru SDM-SDM unggulan  pesantren banyak diarahkan kepada dunia eksakta. Bukan hal yang salah, tetapi menurut hemat penulis adalah “salah alamat”. Sebab, sejak awal berdirinya pesantren  adalah tempat untuk mencetak sosok-sosok yang mutafaqqih fid-din. Hal ini ditengarai semakin gemuknya kurikulum pesantren yang banyak mengadopsi kurikulum-kurikulum umum yang justru semakin menjauhkan santri dari kajian-kajian agama secara intensif.

Kajian Tafsir di Pesantren

Pada akhir-akhir ini, kajian tafsir al-Qur’an telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama sekali di kalangan mahasiswa perguruan tinggi Islam. Bahkan, kajian kealqur’anan juga mulai diminati oleh kalangan masyarakat umum. Tentu saja, fenomena ini merupakan suatu indikasi yang positif dan menggembirakan. Terlepas apakah fenomena tersebut sejajar simetris dengan dampak positif yang ditimbulkan atau tidak, yang jelas hal ini mengindikasikan bahwa umat Islam mulai bergairah untuk melakukan kajian-kajian kealqur’anan, yang bukan hanya terbatas dalam  tataran membaca atau menghafal saja.

Hanya saja, kegairahan terhadap kajian kealqur’anan ini ternyata tidak cukup mendapat respons bagi kalangan pesantren. Seandainya ada, itupun tidak cukup signifikan jika dibanding dengan kecenderungan mereka untuk melakukan terobosan-terobosan kurikulum baru, demi menjadikan dunia pesantren semakin eksis. Tentu saja, ini bukanlah suatu kesalahan; akan tetapi apabila melihat sejarah, di mana pesantren sebenarnya telah memiliki posisi perannya sendiri sebagai garda terdepan dalam mengembangkan ilmu-ilmu keislaman, pada umumnya, dan tafsir al-Qur’an, pada khususnya, maka kita akan cukup terkejut jika melihat perkembangan dunia pesantren saat ini. Alih-alih, memberikan porsi yang cukup terhadap kajian kealqur’anan, pesantren saat ini, justru lebih asyik dengan hal-hal yang sebenarnya bukan konsumsi utamanya, seperti kursus komputer,  latihan karate, olah raga, drum band, dan lain-lain. Bahkan, dunia pesantren merasa bangga jika telah dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas, seperti lab. fisika, lab. biologi, lab. bahasa, GOR,  dan lain-lain.

Memang, realitas ini cukup menggembirakan karena dunia pesantren tidak lagi dikenal sebagai tempat yang hanya membicarakan masalah-masalah “keakhiratan”, tetapi juga memberi perhatian dalam masalah-masalah “keduniaan”. Namun, kenyataan menunjukkan kebalikannya, sebab pesantren sebagai tempat menuntut ilmu, yang sejak semula telah dirancang oleh the founding fathers (para pendirinya), sebagai sarana mendalami ilmu-ilmu agama, ternyata saat ini, hampir-hampir kita kesulitan mencari sosok santri yang mumpuni di bidang ilmu-ilmu keislaman, khususnya masalah-masalah kealqur’anan. Di sisi lain, ilmu-ilmu umum, yang akhir-akhir dijadikan semacam core competensi baru, tidak juga dikuasai secara baik, apalagi harus bersaing dengan sekolah-sekolah umum, (baca: SMU), sehingga alumni pesantren menjadi kurang jelas orientasi keilmuannya. Hal ini, sangat tidak sesuai dengan jargon yang selalu digembar-gemborkan “al-muhafazah ‘alal qadim al-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Upaya Sinergis Potensi Pesantren

Warisan atau tradisi keilmuan yang telah dibangun dengan susah payah oleh para pendiri pesantren ternyata tidak terawat dengan baik –jika tidak bisa dikatakan telah disia-siakan--. Belum lagi, pengotakan penyebutan terhadap pesantren, yang disinyalir, paling tidak, ada empat bentuk, yakni pesantren kitab, pesantren a-lQur’an, pesantren sekolah, dan pesantren bahasa.

Pesantren kitab adalah pesantren yang memberi porsi kajian kitab cukup besar dan mendalam, terutama dalam bidang fiqh, ushul fiqh, nahwu dan balaghah, misalnya, pesantren Lirboyo, Sarang, Langitan. Sementara pesantren al-Qur’an, adalah pesantren yang memiliki spesifikasi hafalan al-Qur’an, misalnya Sunan Pandanaran, Krapyak, Madrasatul Qur’an Tebuireng. Kemudian Pesantren Sekolah, yaitu pesantren yang lebih menekankan pada sekolah formal, seperti pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Manba’ul Ulum Denanyar, Darul Ulum Rejoso, dan Tebuireng, yang keempatnya berada di Jombang, Jatim. Yang terakhir adalah pesantren bahasa, yaitu pesantren yang menonjolkan pada penguasaan bahasa, dalam maknanya muhadatsah, seperti Pesantren Gontor.

Keempat jenis pesantren di atas realitasnya memang ada, dan masing-masing memiliki spesifikasi sekaligus gengsinya sendiri-sendiri. Bagi pesantren kitab, ukuran keberhasilannya adalah kemampuan seorang santri dalam membaca dan memahami kitab-kitab kuning, meskipun tidak bersekolah formal, mengaji al-Qur’an juga tidak standar, termasuk kemampuan muhadatsahnya. Sementara pesantren al-Qur’an ukurannya adalah ia hafal al-Qur’an dan lancar. Sedangkan pesantren sekolah, ukurannya adalah ia menduduki ranking tertinggi di sekolah formalnya dengan ditunjukkan pada IP-nya. Dan pesantren bahasa, ukuran keberhasilannya adalah  ia mampu berbahasa Arab dengan baik lancar ngomongnnya .

Melihat realitas di atas, kita telah melakukan garis demargasi di dunia pesantren secara khusus, dan kajian-kajian kaislaman dalam skala makro. Padahal, jika dicermati, yang dikenal sebagai pesantren kitab, mereka hanya asyik dengan seluk beluk kekitabannya, yang sebenarnya hanya dibatasi dalam persoalan-persoalan fiqh. Indikasi ini bisa dilihat betapa banyaknya nama-nama kitab fiqh yang mereka kenal sekaligus mengkajinya, berbeda dengan kitab-kitab tafsir.

Sedangkan pesantren al-Qur’an pun, atau pesantren yang berbasis al-Qur’an, pada kenyataannya, juga kurang memberikan perhatian dalam masalah kajian kealqur’an --jika tidak bisa dikatakan, juga kajian ilmu-ilmu keislaman secara umum--. Sementara di pesangtren sekolah santri hanya mengejar nilai formalitas IPK itupun terkadang tidak ada hubungannya dengan pelajaran-pelajaran yang akrab dengan dunia pesantren. Sebab, pesantren berbasis sekolah itu biasanya menerapkan kurikulum umum yang bersifat eksakta, sehingga ilmu-ilmu yag menjadi terbengkalai. Padahal, hasilnya juga tidak maksimal. Sebab, kenyataannya mereka masih meski realitasnya belum tentu memahami haSehingga muncul satu anggapan, lebih tepatnya “tuduhan” dari masing-masing pesantren yang berlainan basis tersebut.

Di kalangan pesantren kitab, seseorang baru dianggap mumpuni jika telah menguasai ilmu-ilmu keislaman –khususnya fiqh--, walaupun kemampuan mengajinya kurang begitu bagus, apalagi sampai hafal al-Qur’an. Sementara di pesantren al-Qur’an, ukuran keberhasilan seseorang hanya dilihat bagaimana kelancaran hafalannya, meskipun dalam penguasaan ilmu-ilmu agama ia minim sekali. Sehingga setinggi apapun ilmu agama seseorang kalau tidak bagus dan benar bacaannya, apalagi sampai tidak hafal al-Qur’an, ia kurang begitu dianggap. Begitu juga sebaliknya,  selancar apapun hafalan al-Qur’an seseorang, jika pengetahuan agamanya minim, khususnya fiqh, ushul, fiqh, nahwu, sharaf, dan balaghah, ia bukanlah orang yang istimewa. Kedua anggapan ini, tentu saja, tidak menguntungkan bagi kalangan pesantren, khususnya, dan umat Islam, pada umumnya.

Padahal, di dalam al-Qur’an, seruan untuk membaca al-Qur’an menggunakan dua redaksi yang berbeda, yakni qara’a-yaqra’u-qira’ah dan talâ-yatlû-tilawah. Kedua redaksi ini memang memiliki arti yang sama, yaitu “membaca”. Namun, menurut al-Isfahani, secara substansi keduanya berbeda. Qara’a lebih mengacu kepada makna analisa, penelitian, dan sejenisnya, atau secara sederhana, diartikan “pengkajian”. Sementara kata talâ, sifatnya lebih umum, namun yang paling banyak digunakan untuk merujuk kepada makna “mengaji”. Jika kedua kata ini digabungkan, maka setiap muslim dituntut untuk mampu membaca dengan baik dan benar, sebagai perwujudan dari kata talâ, juga harus melakukan kajian-kajian dengan berbasis al-Qur’an, sebagai perwujudan kata qara’a. Dan kemampuan ini, secara jujur harus kita akui, hanya dimiliki oleh SDM-SDM dari pesantren.

Indikasi ini bisa dilihat, meskipun bersifat subsyektif, bahwa rata-rata lulusan terbaik di beberapa perguruan tinggi Islam adalah alumni pesantren. Ini menunjukkan bahwa SDM pesantren sebenarnya yang paling siap untuk melakukan kajian-kajian kealqur’an secara lebih mendalam. Kita tidak boleh menyia-nyiakan SDM ini, dengan memberikan beban pelajaran yang sebenarnya bukan porsi utamanya. Ini hanya bisa ditolerir jika mata pelajaran primernya, baik yang berbasis agama maupun, secara khusus, yang berbasis al-Qur’an tidak terbengkalai. Bahkan, jika ini bisa disenergikan secara proporsional, maka akan menghasilkan kualitas santri yang handal dan siap menghadapi tantangan zamannya. Mereka akan mampu berfikir sistematis, kritis, dan argumentatif.

Oleh karena itu, perlu dilakukan reformasi kurikulum pesantren, khususnya yang berbasis kealqur’anan, agar kualitas SDM pesantren dapat termanfa’atkan secara optimal. Seperti penambahan porsi pelajaran ulumul Qur’an, meliputi pengenalan sejarah dan pemikiran tafsir, pengenalan kitab-kitab tafsir dari masa klasik sampai modern, bahkan kontemporer, pengenalan metodologi penafsiran, kaidah-kaidah penafsiran, studi naskah tafsir, tafsir dan masalah-masalah kontemporer. Jangan katakan tidak mampu!! Mereka sebenarnya sudah cukup teruji untuk melakukan kajian-kajian keislaman yang terbilang berat. Seharusnya alumni pesantren memiliki tingkat ke-PD-an yang tinggi (self confidence) dibanding mereka yang bukan santri. Mental ini harus tumbuh di kalangan civitas pesantren. Kita jangan mudah latah dengan keunggulan kurikulum yang dimiliki oleh sekolah-sekolah unggulan yang bukan berbasis pesantren. Sikap semacam ini hanya akan melahirkan SDM-SDM santri yang “tanggung” karena orientasi keilmuannya tidak jelas.

Oleh: Dr. H.A. Husnul Hakim IMZI, SQ. MA. Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ) Jakarta, dan Pengasuh Pondok Pesantren  eLSiQ (Lingkar Studi al-Qur'an)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00