Jadikan Ikhlas Sebagai Perekat; Teladan Keluarga Ibrahim AS

Oleh: Nashih Nashrullah

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik untuk keluarganya, dan Aku (Muhammad) ialah (teladan) terbaik untuk keluarga.”

(HR at-Tirmidzi dari Aisyah RA)

 Haji, bagi Ali Syariati, cendekiawan asal Iran, tak ubahnya sebuah drama kemanusiaan yang menakjubkan. Ibadah ini tak sekadar ritual yang ala kadarnya, terpenuhi rukun, lalu gugurlah pelaksanannya. Tidak demikian.

Menurut Ali Syariati, ibadah haji adalah gambaran kehidupan umat manusia pada masa lalu, sekarang, dan pada masa yang akan datang. Semuanya telah diatur sesuai dengan skenario, yang sutradaranya adalah Allah SWT.

Aktor dan aktrisnya adalah Adam, Ibrahim, Ismail, dan Hajar. Dan, tokoh antagonisnya adalah setan. Latar adegan-adegan  itu bervariasi meliputi Masjidil Haram, wilayah Makkah, Shafa dan Marwah, Arafah, serta Mina. Sedangkan, latar waktu pertunjukkannya yaitu siang, malam, dan petang.

Lantas, siapakah aktor utama yang menjadi penentu pertunjukan sukses itu di saat sekarang ini? Tak lain adalah tiap-tiap jamaah haji. Tiap Muslim yang berhajilah yang akan melakukan pementasan ini. Umat Islam yang datang dari penjuru dunia turut bergabung dalam aksi pementasan kolosal tersebut.

Masing-masing mempunyai peran yang sama. Perbedaan suku, warna kulit, dan daerah atau negara tak lantas membedakan lakon yang harus diperankan. Aturan ini sesuai dengan prinsip kesetaraan dan persamaan antarindividu dalam Islam. (Syariati: 1980)

Haji merupakan manivestasi dari keteladanan yang luhur dari keluarga Nabi Ibrahim AS. Sebuah keluarga yang dibangun atas landasan iman, ketakwaan, dan keikhlasan. Pelajaran berharga bagi umat Muhammad SAW dari risalah Ibrahim AS tersebut.

Di antara faktor rapuhnya institusi keluarga abad ini, adalah hilangnya keikhlasan menjalankan peran masing-masing. Ketika sang ayah tak lagi ikhlas berperan sebagai kepala keluarga, saat seorang ibu jauh dari keridhaan sebagai

Ikhlas berkeluarga adalah menerima dan menjalankan sebaik-baik tugas dan kewajiban yang diemban sebagai langkah penting menunaikan hak bagi anggota keluarga.

Ritual haji menggambarkan keikhlasan Ibrahim AS, keridhaan Hajar, dan ketulusan si buah hati, Ismail AS.

Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’ menukilkan sebuah riwayat dari Bukhari dan Muslim, tentang kisah keluarga teladan itu. Dua titik kecil di tengah gurun pasir Semenanjung Arab. Seorang lelaki pergi bergegas diikuti perempuan yang menggendong bayi.

Hanya sebuah buntalan berisi kurma dan segeriba air pada mereka. “Hai Ibrahim. Hendak ke mana kau pergi dan meninggalkan kami di lembah tanpa teman atau perbekalan untuk mencukupi kebutuhan kami di sini?” (HR Bukhari)

Hajar, perempuan itu, terus membuntuti Ibrahim. Ia lontarkan pertanyaan berulang kali, tapi Ibrahim bergeming. Hatinya resah. Ia seorang perempuan, membawa anak bayi, dan hendak ditinggalkan begitu saja di tengah padang pasir. Tak mendapat jawaban, Hajar pun bertanya, “Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?”

“Ya,” jawab Ibrahim singkat. “Kalau begitu, Ia tidak akan menelantarkan kami.”

Peristiwa itu terjadi semasa Ismail bayi. Saat itu, setiba di bukit Tsaniyah, tempat Hajar dan Ismail sudah tidak kelihatan lagi, Ibrahim menengadahkan tangan.

“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat.”

Dalam kisah yang terabadikan  di surah Ibrahim ayat ke-38, Ibrahim pun meminta, “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

 Ketulusan Ismail

Ismail tumbuh besar sebagai pemuda yang shalih, kendati sang ibu, telah meninggal dunia. Padang pasir tempat keduanya ditinggalkan telah berubah menjadi tempat pemberhentian kafilah yang ramai.

Sebuah sumber mata air menghidupi mereka dan orang-orang di sekelilingnya. Ismail pun dikisahkan kemudian menikah dengan salah satu perempuan dari keluarga pendatang di sana.

Sampai tibalah satu hari yang mengubah sejarah anak cucu Ibrahim. Hari itu, Ibrahim datang menemui Ismail. Ia membawa sebuah amanah penting dari Tuhannya. “Wahai anakku! Sesungguhnya, aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” ucap Ibrahim setiba bertemu putranya.

Dikisahkan oleh Ibnu Katsir dalam //Qashash al-Anbiya’//, terus terang Ibrahim utarakan perintah itu agar ia pun lebih rela dan ringan dalam menjalankannya.

Seperti dikatakan Ibnu Abbas, “Impian para nabi adalah wahyu.” Lewat mimpi itu, Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih Ismail. Ini tentu menjadi ujian yang berat bagi Ibrahim. Ismail baru lahir setelah Ibrahim lanjut usia.

Kini, ia diperintahkan menyembelih anak yang bertahun-tahun lalu dia mohon sepenuh hati kepada Tuhannya. “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.”

Kemudian, Allah karuniakan kepadanya seorang anak yang sangat sabar bernama Ismail. Seorang anak yang dulu, atas perintah Rabb-nya, dia tinggalkan di tengah padang pasir tak berpenghuni, tanpa perbekalan yang cukup. Hanya berbekal iman dan tawakkal, bahwa Allah akan memberi jalan keluar bagi mereka.

Ismail beranjak dewasa, Allah justru menyuruh untuk menyembelihnya. Ibnu Katsir menjelaskan, Ismail disembelih “ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya,” artinya ketika ia beranjak dewasa dan bisa berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sendiri seperti ayahnya.

Demi mendengar perkataan ayahnya, Ismail menjawab. “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Inilah puncak ketaatan seorang anak kepada ayahnya, sekaligus kepada Allah, Sang Pencipta. Keduanya berserah diri pada kehendak Allah.

Ibrahim kemudian membawa putranya ke suatu tempat dan membaringkan tengkurap layaknya hewan saat akan disembelih. Ketika pisau hendak digerakkan ke arah leher Ismail, Allah memanggil. “Wahai Ibrahim, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Tujuan perintah itu telah tercapai. Allah hanya ingin menguji dan menyaksikan ketaatan Ibrahim. Allah gantikan Ismail dengan seekor hewan kurban yang besar, sebagaimana dulu Allah lindungi Ibrahim dari kobaran api. “Sesungguhnya, ini benar-benar suatu ujian yang nyata,” firman Allah dalam surah as-Shaffat: 99-113.

Kualitas iman

Dalam konteks kehidupan berkeluarga, penegasan Syariati sebenarnya saling berkorelasi dengan esensi dan subtansi ibadah haji. Ia menekankan bahwa pelaksanaan ibadah haji seharusnya menjadi kesempatan bagi setiap jamaah untuk meningkatkan kualitas keimanannya. Sebab, itulah tujuan dari pelaksanaan ibadah haji, yakni menggapai haji mabrur.

Bila ibadah haji berhasil dilaksanakan dengan baik, sesuai dengan syarat dan rukunnya, niscaya dirinya akan menjadi seorang Muslim yang baik, patuh, dan taat dalam menjalankan ibadah. Disinilah, tegas Syariati, pentingnya seorang Muslim memahami dan mengambil manfaat dari manasik haji.

Menjadi haji mabrur tidaklah mudah. Banyak godaan dan rintangan yang siap menghadang. Karena itulah, setiap Muslim diperintahkan untuk senantiasa tulus dan penuh keyakinan mengharapkan rida Allah dalam menjalankan ibadah.

Orang yang mampu meraih rida Allah dalam melaksanakan haji itulah yang mendapatkan haji mabrur (diterima). Dan, sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW bahwa tidak ada balasan lain bagi haji mabrur, kecuali surga.

Seorang Muslim yang selesai menunaikan ibadah haji sudah semestinya perilakunya menjadi lebih baik dibandingkan saat belum berhaji. Perilaku positif ini diterapkan ketika telah kembali ke negaranya masing-masing.

Pelaksanaan ibadah haji merupakan penempaan fisik dan mental. Ia telah memenuhi panggilan Allah melalui lisan Ibrahim dengan jawaban “Labbaik Allahumma Labbaik” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah).

Pernyataan ini bukan sekadar jawaban biasa, melainkan perjanjian terbuka dengan Allah yang disaksikan oleh jutaan manusia lainnya.

Sebab, dengan jawaban itu pula, ia telah memasrahkan dirinya untuk senantiasa patuh dan tunduk pada perintah Allah, serta menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Setiap jamaah juga telah berjanji melepaskan semua atribut keduniawian dan senantiasa bermunajat kepada Allah, sebagaimana ia berjanji dalam shalatnya, //Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardh.//

(Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah, Pencipta langit dan bumi).

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00