Islam; Antara Keesaan dan Kemanusiaan

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Islam; Antara Keesaan dan Kemanusiaan

Nusantaramengaji.com - Salah satu hasil dari Munas ALim Ulama yang diadakan di Lombok NTB baru-baru ini adalah keharaman melakukan ujaran kebencian (hatespeect) dalam berdakwah atau larangan berdakwah dengan cara-cara mungkar (amar ma’ruf bil mungkar). Menganjurkan hal-hal yang makruf dengan cara mungkar jelas bertentangan dengan Syariah Islam. Karena ajaran Islam selalu menekankan berdakwah dengan cara santun dan lemah lembut sehingga menarik perhatian umat. Sejak Rasulullah melaksanakan dakwahnya pertama kali di Mekkah sampai Madinah tidak pernah sekalipun dilakukan dengan cara paksaan dan kekerasan. Hal tersebut menjadi bukti bahwa keberhasilan sebuah dakwah itu harus dilakukan dengan lemah lembut yang didasari oleh akhlak yang mulia.   

Kepribadian beliau yang mempesona dan penuh kharisma serta akhlaknya yang luhur dan mulia disenangi oleh semua orang, baik kawan maupun lawan. Sampai-sampai lawanpun menjuluki beliau Al Amin; orang yang sangat dipercaya. Semua orang merasa senang dan damai berada di sisinya atau di majelisnya. Jika beliau pergi, kedatangannya sangatlah dirindukan. Hal ini, karena beliau penebar kasih sayang dan kedamaian. Namun, beliau pun dalam beberapa kesempatan juga bisa tegas, namun bukan keras.  Keparipurnaan kepribadian Nabi Muhammad Saw inilah yang membuat beliau, dengan izin Allah, mampu menyelamatkan umat manusia dari beragam bentuk kezhaliman (kegelapan) dalam semua aspek kehidupan menuju cahaya Islam. Sehingga sinar Islam pun memancar ke seluruh penjuru dunia.

Kepribadian seorang muslim yang seharusnya melekat pernah Rasulullah sabdakan dalam hadits riwayat Bukhari berikut;

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:" قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ؟" قَالَ: « مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ » (رواه البخاري)

Dari Abu Musa Ra, ia berkata, mereka (para sahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, Islam (seperti) apa yang paling afdhal (paling utama)? Beliau Saw menjawab, “Yaitu orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dan aman dari (gangguan) lisan dan tangannya”.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah Saw menjelaskan bahwa muslim yang sejati adalah orang yang selalu menebar kasih sayang, bukan menebar ketakutan. Selalu hati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang menyakiti dan melukai dan menciderai hati dan fisik orang lain.

Imam Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari mengatakan, bahwa Alif dan Lam pada lafazh ‘Al Muslim’ adalah memiliki makna sempurna.

Ini berarti bahwa kesempurnaan seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana orang-orang di sekelilingnya merasa nyaman, aman dan tenteram dengan keberadaannya. Selalu aktif memberikan kontribusi apa pun; baik ide, pikiran, tenaga, waktu maupun harta benda untuk kebaikan lingkungan sekitarnya. Tutur katanya baik, lembut dan menyejukkan. Perilaku dan tindak dan tanduknya tidak menimbulkan kecurigaan karena akhlak mulia itu transparan dan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Karena itulah kehidupan Rasulullah Saw bagaikan “Kitab Maftuh”, kitab yang terbuka yang bisa dibaca oleh semua lapisan masyarakat; dewasa maupun anak kecil, laki-laki maupun kaum perempuan.

Hadits senada juga diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam kitab “Sunan”nya yang meriwayatkan dengan redaksi berbeda dan ada tambahan yang makin melengkapi makna yang terkandung di dalamnya, yaitu:

Dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda;

« الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ  وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ » (رواه الترمذي و أحمد)

“Orang muslim yang sejati adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya. Dan orang yang mukmin yang sejati adalah orang yang bisa menjaga keamanan (keselamatan) darah dan harta manusia lain”.

Bahkan, dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi ini disebutkan bahwa masalah ini termasuk dalam Qadhaya Imaniyah (diskursus keimanan). Artinya melukai hati dan fisik orang lain dapat menurunkan kualitas keimanan seorang muslim. Menjaga keselamatan jiwa dan keamanan harta orang lain termasuk barometer iman.

Penggunaan redaksi “An Naas” yang berarti manusia, bukan “Al Muslimun” (orang-orang Islam) seperti pada kalimat sebelumnya, menunjukkan bahwa Islam juga sangat menghormati pluralitas.  Nabi Saw pun pernah berwasiat kepada Abu Dzar Ra,

« اِتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ » (رواه الترمذي و أحمد)

“Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada. Ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia (kebaikan) akan menghapusnya. Dan pergauilah manusia dengan akhlak mulia” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Jadi, menerapkan akhlak mulia dalam bergaul dengan manusia, apa pun etnis, suku dan agama dan kebangsaannya, termasuk bagian dari takwa. Karenanya perasaan aman, nyaman dan tenteram ini juga  hendaknya mencakup komunitas non muslim selama mereka tidak memerangi dan memerangi kita. Semangat inilah yang sesungguhnya juga disuarakan sangat nyaring oleh Al-Quran dalam surah Al Mumtahanah ayat 8;

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

Ayat tersebut menunjukkan bagaimana seharusnya sikap kaum muslimin terhadap orang-orang yang tidak seagama dengan cara bertoleransi dengan agama yang mereka anut selama tidak memerangi kaum muslimin.

Dalam sebuah hadisnya yang diriwayatkan oleh Bukhori, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الدِّيْنِ إِلَى اللهِ الْحَنِيْــفِيَّةُ السَّـمْحَةُ

“Agama yang paling dicintai allah adalah agama yang hanif (lurus) dan toleran.” [HR Bukhari]

Al-Hanif adalah pandangan hidup yang lurus, yang sesuai dengan fitrahnya sebagi manusia. Hanif merupakan ciri semua ajaran yang dibawa para rasul sebelum Nabi Muhammad. Agama hanif dalam hal ini berarti agama yang secara teologis berpijak pada Tuhan yang satu dan secara sosiologis memanusiakan manusia sesuai fitrahnya. Seperti dikatakan dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 123:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا  وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Dalam QS. 'Ali `Imran: 67, Nabi Ibrahim dikatakan bukan bagian dari Yahudi ataupaun Nasrani, melainkan seorang yang hanif lagi berserah diri kepada Allah. Golongan Yahudi dan Nasrani pada zaman Rasulullah, dikenal sebagai kelompok yang sektarian, merasa paling benar sendiri-kendatipun klaim ini juga bisa dilakukan oleh kaum muslim zaman sekarang. Nabi Ibrahim sebagai hanif karena beliau mengusung ajaran tauhid yang mengakui tuhan hanya Allah semata, dan keharusan berserah diri total kepada-Nya. Hal ini yang membedakan ajaran tersebut dari pandangan hidup kaum musyrikin penyembah berhala, fanatik terhadap suku, dan tak memandang manusia sebagai makhluk yang setara.

Selain hanif, ciri lain dari agama yang dicintai Allah adalah samih atau yang murah hati dan toleran. Maksudnya adalah Islam bukan agama bengis, yang tega menjatuhkan kelompok-kelompok di luar dirinya demi “tegaknya” Islam. Namun, ia membuka pergaulan dan komunikasi dengan pihak-pihak berbeda pandangan. Kalaupun harus berdakwah, maka ajakan itu dilakukan dengan metode-metode yang ramah dan cerdas sebagaimana yang ditunjukkan oleh sejarah peradaban Islam periode awal.

Dengan demikian, beberapa ayat dan Hadits tersebut di atas menunjukkan tentang karakter agama Islam yang al-hanafiyah assamhah, yaitu, Islam yang tegak di atas pondasi iman akan Keesaan Tuhan (tauhid) yang kokoh, namun tetap lembut dalam berdakwah, menembus batas-batas suku, ras, warna kulit, status sosial, bangsa, dan lain-lain. Inilah makna yang terkandung dalam Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Wallahu A’lam Bisshowab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00