Insan Kamil; Menguak Dimensi Kesempurnaan

Mutiara Alquran
Foto: 
ilustrasi

Insan Kamil; Menguak Dimensi Kesempurnaan

Nusantaramengaji.com - Kita selalu mengatakan bahwa shalat memiliki fungsi utama dalam hidup dan kehidupan seorang muslim/muslimah. Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, meski nyatanya kita masih dan selalu saja terjebak ke dalam laku yang tidak baik dan tercela. Mulai dari hal-hal kecil dan sepele sampai hal-hal yang besar dan penting.
Misalkan saja kita rutin melakukan ibadah ritual seperti Shalat dan berpuasa, tapi sayangnya bekasnya mudah hilang dan hampa. Kita rajin melaksanakan shalat tapi untuk bersyukur saja berat melakukannya. Kita mungkin termasuk orang yang gemar menolong, tapi terkadang masih menceritakan kebaikan tersebut kepada orang lain dengan bangga, meski seolah tak merasakannya.
Melihat contoh di atas, maukah kita kembali terjebak ke dalam ibadah ritual atau sosial tanpa nilai dan kualitas ibadah? Jangan-jangan perbuatan keji dan mungkar masih menjadi catatan pribadi sehari-hari. Di sinilah pentingnya ihsan dalam agama.
Pengertian ihsan yang mudah untuk kita pahami adalah seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW., :
“Kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, tetapi jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu”. (H.R Bukhari).
Dengan kata lain, ihsan berarti suasana hati dan perilaku kita yang senantiasa merasa dekat dengan-Nya.
Para ulama memberikan dua syarat agar seseorang dapat menghadirkan Allah SWT dalam sanubarinya. Kapan dan di mana pun ia berada. Yaitu, bersihnya hati (nurani) dari noda dan dosa plus ikhlas beribadah semata-mata karena Allah SWT. Awalnya, mungkin kita dapat bercermin dari shalat. Karena ibadah yang istimewa ini menegaskan bahwa hati adalah media utama dalam setiap syarat dan rukun shalat.
Shalat mengandung tiga dimensi rukun. Pertama, rukun yang berkaitan dengan ucapan atau pelafalan (qauly). Seperti takbiratul ihram, membaca surah al-Fatihah, dan lain-lain. Kedua, rukun yang berkaitan dengan gerakan (fi’ly). Misalnya ruku’, yakni posisi membungkuk seperti yang kita maklumi, sujud, duduk tahiyyat akhir dan lain-lain. Dan ketiga, rukun yang berkaitan dengan keadaan hati (qalby), yakni niat. Dimensi terakhir ini memiliki ruang dinamika luar biasa. Salurannya sungguh panjang, jauh dan mendalam. Lain halnya rukun qauly dan fi’ly tadi. Lafadz takbiratul ihram, tetap berbunyi “Allahu Akbar”. Sementara Sujud tetap seperti tuntunan awalnya, menempelkan dahi ke sajadah atau tempat sujud, ditopang kedua telapak tangan, lutut dan ujung telapak kaki. Tidak ada yang berubah dari kedua dimensi rukun tersebut. Sedangkan rukun qalby (niat dan kepasrahan) memiliki dinamika luar biasa, sungguh luas dan kaya makna. Dengannya kualitas shalat tidak saja diukur dari gerakan dan ucapan, tapi juga keadaan hati. Karena hati adalah media yang menghadirkan Allah SWT. Untuk itu, bagaimana dengan shalat kita dapat melatih hati untuk benar-benar pasrah kepada Allah SWT dan dapat menghadirkan-Nya dalam diri. Dengan demikian kita akan menuju dan mencapai kedudukan ihsan. Karena ihsan merupakan suatu tingkatan di mana seseorang melaksanakan syariat yang dijiwai dengan hakikat syariat itu sendiri.
Lantas, persoalan yang lebih penting saat ini adalah bagaimana kemampuan menghadirkan Allah SWT dalam Shalat tadi (ihsan) dapat merambah kepada praktek ibadah lainnya? Misalkan, hadirnya Allah dalam diri seorang pegawai atau karyawan tatkala ia sedang berada di ruang kerja, ihsan bertetangga, ihsan pada diri seorang pedagang tatkala menjalankan usahanya, dan ihsan dalam segala profesi lainnya. Sehingga jika ada upaya seseorang mendapatkan ihsan, ia tidak hanya menemukan ihsan di ruang ibadah seperti shalat saja, tapi juga di ruang-ruang ibadah lain dalam kehidupan nyata. Sehingga kita benar-benar menjadi Insan kamil. Yakni manusia utuh yang bernaung di bawah Iman, Islam dan Ihsan.
Oh ya, tentang shalat ia dapat menjadi media awal  bagi seseorang untuk dapat menghadirkan Allah dalam relung hatinya (Qalb, Afidah, Lubb) yang paling dalam untuk kemudian mewarnai rentang kehidupannya di dunia, baik di dunia, Hasanah fi ad-Dunya menuju keabadian kelak, baik pula di akhirat, Hasanah fi al-Akhirah. (Daus)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00