Hukum selametan Janin dalam Kandungan

Fikih
Foto: 
Ilustrasi

Hukum selametan Janin dalam Kandungan

Nusantaramengaji.com - Beberapa kalangan dari muslim di masyarakat kita ada yang menolak selamatan 4-7 bulanan janin dalam kandungan karena dianggpa bid’ah dan tidak pernah dipraktekkan oleh baginda Nabi. padahal maksud dari selametan itu adalah dalam rangka mendoakan si janin agar menjadi anak yang soleh atau solehah. Memang petunjuk hadis yang secara gamblang menganjurkan hal tersebut belum ditemukan tapi dari beberapa hadis di berikut ini bisa dijadikan sandaran akan kebolehan mendoakan janin yang masih dalam kandungan terutama yang sudah terasa berat;

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mendoakan untuk Abu Thalhah dan Ummu Sulaim:

ﻟﻌﻞ اﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺒﺎﺭﻙ ﻟﻜﻤﺎ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺘﻜﻤﺎ - رواه البخاري

“Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian berdua pada malam kalian (bersetubuh)". [HR Al Bukhari]

Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Dalail An-Nubuwwah menjadikan hadis diatas sebagai dalil anjuran mendoakan janin selama dalam kandungan:

بَابُ مَا جَاءَ فِي دُعَائِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَرَكَةِ لِحَمْلِ أُمِّ سُلَيْمٍ مِنْ أَبِي طَلْحَةَ

"Bab tentang riwayat doa Nabi Muhammad Saw dengan keberkahan untuk kehamilan Ummu Sulaim dari Abu Thalhah…"

Jadi, hadis ini bersifat umum umutk mendoakan janin dalam kandungan dan tidak berpatokan pada 4-7 bulanan. Namun ayat berikut ini layak untuk dipertimbangkan;

ﻫﻮ اﻟﺬﻱ ﺧﻠﻘﻜﻢ ﻣﻦ ﻧﻔﺲ ﻭاﺣﺪﺓ ﻭﺟﻌﻞ ﻣﻨﻬﺎ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻟﻴﺴﻜﻦ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻓﻠﻤﺎ ﺗﻐﺸﺎﻫﺎ ﺣﻤﻠﺖ ﺣﻤﻼ ﺧﻔﻴﻔﺎ ﻓﻤﺮﺕ ﺑﻪ ﻓﻠﻤﺎ ﺃﺛﻘﻠﺖ ﺩﻋﻮا اﻟﻠﻪ ﺭﺑﻬﻤﺎ ﻟﺌﻦ ﺁﺗﻴﺘﻨﺎ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﻟﻨﻜﻮﻧﻦ ﻣﻦ اﻟﺸﺎﻛﺮﻳﻦ الأعراف ١٨٩-

"Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian *tatkala dia merasa berat,* keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (Al-'A`rāf: 189)

Dalam ayat ini sangat jelas bahwa doa yang dibaca setelah kandungan terasa berat / besar. Ulama ahli tafsir berkata:

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺟﻌﻔﺮ: ﻭاﻟﺼﻮاﺏ ﻣﻦ اﻟﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ: ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﺃﺧﺒﺮ ﻋﻦ ﺁﺩﻡ ﻭﺣﻮاء ﺃﻧﻬﻤﺎ ﺩﻋﻮا اﻟﻠﻪ ﺭﺑﻬﻤﺎ ﺑﺤﻤﻞ ﺣﻮاء، ﻭﺃﻗﺴﻤﺎ ﻟﺌﻦ ﺃﻋﻄﺎﻫﻤﺎ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺑﻄﻦ ﺣﻮاء، ﺻﺎﻟﺤﺎ ﻟﻴﻜﻮﻧﺎﻥ ﻟﻠﻪ ﻣﻦ اﻟﺸﺎﻛﺮﻳﻦ.

“Abu Ja'far berkata: Pendapat yang benar bahwa Allah mengabarkan, bahwa Adam dan Hawa berdoa kepada Allah sebab kehamilan Hawa. Keduanya bersumpah bahwa jika Allah memberikan dalam kandungan seorang anak yang shaleh, keduanya akan bersyukur kepada Allah”. (Tafsir Ath-Thabari)

Dengan demikian, mendoakan janin dalam kandungan sangat dibolehkan apalagi jika hal tersebut dalam rangka tafaul atau mengambil berkah dari para nabi atau orang-orang soleh sehingga diharapkan nanti janin tersebut akan menjadi anak yang soleh dan solehah. Sebagai mana hadis berikut ini;

ﻗﺎﻝ ابو هريرة ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ: «ﻻ ﻃﻴﺮﺓ، ﻭﺧﻴﺮﻫﺎ اﻟﻔﺄﻝ» ﻗﺎﻟﻮا: ﻭﻣﺎ اﻟﻔﺄﻝ؟ ﻗﺎﻝ: «اﻟﻜﻠﻤﺔ اﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﻳﺴﻤﻌﻬﺎ ﺃﺣﺪﻛﻢ» رواه البخاري

“Abu Hurairah mendengar bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh meyakini sial (seperti dari suara burung). Sebaik-baiknya adalah Tafaul (mengharap kebaikan)”. Para Sahabat bertanya: “Apa Tafaul?” Nabi menjawab: “Kalimat yang bagus, yang didengar oleh kalian” (HR Bukhari)

Hadis di atas menegaskan bahwa Tafaul berbeda dengan Tathayyur atau Tasyaum (merasa sial). Tafaul dibolehkan. Nah, yang kita amalkan adalah Tafaul kandungan dengan dibacakan surat dalam Al-Quran, seperti surat Yusuf dan Surat Maryam atau surat-surat lainnya dengan harapan janin tersebut nantinya dapat mewarisi kebaikan Nabi yusuf dan kesucian siti Maryam. Jadi intinya adalah mengharap kebaikan terhadap janin dengan bacaan-bacaan Al qur’an.

Namun hukum Tafaul dengan Surat dalam Al Quran memang diperselisihkan oleh para Ulama, dan kita bisa memilih dan mengikuti pendapat yang membolehkan dan yang tidak. Tapi sebaiknya kita memilih yang membolehkan Karena mengambil berkah dari bacaan Al Qur’an untuk kebaikan anak-anak kita kelak:

(ﻭاﺳﺘﻔﺘﺎﺡ اﻟﻔﺄﻝ ﻓﻴﻪ) – ﺃﻱ: اﻟﻤﺼﺤﻒ (ﻓﻌﻠﻪ) ﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪ اﻟﻠﻪ (اﺑﻦ ﺑﻄﺔ) – ﺑﻔﺘﺢ اﻟﺒﺎء – (ﻭﻟﻢ ﻳﺮﻩ) اﻟﺸﻴﺦ ﺗﻘﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﻭﻻ (ﻏﻴﺮﻩ) ﻣﻦ ﺃﺋﻤﺘﻨﺎ. ﻭﻧﻘﻞ ﻋﻦ اﺑﻦ اﻟﻌﺮﺑﻲ ﺃﻧﻪ ﻳﺤﺮﻡ، ﻭﺣﻜﺎﻩ اﻟﻘﺮاﻓﻲ ﻋﻦ اﻟﻄﺮﺳﻮﺳﻲ اﻟﻤﺎﻟﻜﻲ، ﻭﻇﺎﻫﺮ ﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ اﻟﻜﺮاﻫﺔ

“Mengawali mendapatkan kebaikan dari Al Qur’an telah dilakukan oleh Abu Ubaidillah ibn Battah. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah dan imam kita lainnnya (Hanabilah) tidak sependapat. Ibnu Arabi mengharamkannya. Al-Qarafi meriwayatkan hukum haram ini dari Thurthusi Al-Maliki. Sedangkan pendapat secara dzahir Madzhab Syafiiyah adalah makruh” (Mathalib Uli An-Nuha, 1/159).

Jadi, kesimpulannya adalah mendoakan janin dalam kandungan sangat dianjurkan tapi tafaul/mengharap kebaikan dengan bacaan tertentu dalam Al Qur’an ada yang mengatakan boleh seperti dalam hadis, makruh bahkan ada yang mengharamkannya seperti yang digambarkan Ar-Ruhaibani di atas. Wallahu A’lam Bisshowab

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00