Hukum Pengeroyokan dan Pembunuhan terhadap Pencuri

Fikih
Foto: 
Ilustarsi

Hukum Pengeroyokan dan Pembunuhan terhadap Pencuri

Nusantaramengaji.com - Baru-baru ini, kita dikejutkan oleh peristiwa pembakaran terhadap seseorang yang dituduh mencuri sound system di sebuah musolla dibekasi. Peristiwa pembakaran tersebut dilakukan oleh sekelompok masyarakat terhadap salah satu warga lainnya entah dengan cara sengaja atau tidak telah menewaskan terduga pencuri tersebut. Sebagian warga melakukan main hakim sendiri tanpa proses pengadilan sehingga merugikan pihak korban yang kemudian diketahui istri korban sedang hamil besar dan sedang menunggu kelahiran anaknya. Namun, sayang sekelompok warga telah membunuh suaminya dengan cara membakarnya. Lalu, bagaimana hukumnya, menurut fiqih islam, bagi sekelompok warga tersebut, apakah semuanya terkena qishas ?

Menurut pendapat syaikh Taqiyuddin Abu bakar Al Husaini Ad-Dimsyaqi dalam kitabnya Kifatul Akhyar, mengatakan;

(وَتقتل الْجَمَاعَة بِالْوَاحِدِ)

إِذا اشْترك جمَاعَة فِي قتل وَاحِد قتلوا بِهِ بِشَرْط أَن يكون فعل كل وَاحِد لَو انْفَرد لقتل لعُمُوم قَوْله تَعَالَى {وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُوماً فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَاناً} يَعْنِي الْقصاص وَقتل عمر رَضِي الله عَنهُ سَبْعَة أَو خَمْسَة من أهل صنعاء الْيمن بِوَاحِد وَقَالَ لَو توالى عَلَيْهِ أهل صنعاء لقتلتهم بِهِ وَقتل عَليّ رَضِي الله عَنهُ ثَلَاثَة بِوَاحِد وَقتل الْمُغيرَة سَبْعَة بِوَاحِد وَقَالَ ابْن عَبَّاس رَضِي الله عَنْهُمَا إِذا قتل جمَاعَة وَاحِدًا قتلوا بِهِ وَلَو كَانُوا مائَة وَلم يُنكر عَلَيْهِم أحد فَكَانَ ذَلِك اجماعا

“ ketika sekelompok orang bersekutu/bersama dalam pembunuhan satu orang maka kesemuanya dibunuh ( diqishosh ) sebab pembunuhan itu dengan syarat perbuatan masing-masing orang dari kelompok itu walaupun dilakukan oleh satu orang maka dapat menyebabkan pembunuhan. hal ini berdasar keumuman firman Allah Ta’ala surat al-isra’ ayat 33 :

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ ۖ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

” ……. barang siapa yang dibunuh secara dholim . . maka kami memberikan kuasa pada walinya (ahli warisnya). ……… ” (yakni hukum qishosh). Sayyiduna Umar bin Al Khattab r.a membunuh (menghukum qishosh) tujuh atau lima orang penduduk shon’a’ (sana’a), yaman, sebab melakukan pembunuhan pada satu orang dan beliau berkata; jika penduduk sana’a berturut-turut melakukan pembunuhan pada satu orang maka aku akan membunuh mereka semua sebab hal itu. Ali k.w juga pernah mengqishas/membunuh tiga orang sebab pembunuhan satu orang. Al-Mughiroh mengqishas tujuh orang sebab pembunuhan pada satu orang. Abdullah bin Abbas r.a berkata; jika ada sekelompok orang membunuh satu orang maka mereka dibunuh (diqishosh sebab hal itu) meskipun mereka berjumlah seratus orang. Dan tidak ada satupun yang mengingkari pada (keputusan) para sahabat itu tersebut sehingga hal ini telah menjadi ijma’.

Oleh karena itu, semua orang yang terlibat, menghajar dan membakar/membunuh terduga pencuri tersebut, menurut hukum islam, mendapat hukuman qishas dengan cara dibunuh pula. Karena mereka secara beramai-ramai melakukan pembunuhan yang tidak benar dan bukan haknya, sebab “pencuri” aturannya “dipotong tangannya” bukan dibunuh.

Namun, perlu dikethui bahwa Pembunuhan itu ada tiga macam’ yaitu; pertama, Sengaja. Artinya, membunuh dengan alat dan memang ada niat untuk membunuh. Kedua, Semi sengaja. Maksudnya, ada alatnya yang memang biasa digunakan membunuh, tapi tidak niat membunuh. Ketiga, Tidak sengaja, dalam arti, ada alat tapi tidak untuk membunuh, dan tak ada niat untuk membunuh. Jadi, Jika niatnya tidak ingin membunuh atau tidak sengaja maka di duhukumi khatha’/salah sasaran dan hukumannya bertaubat dan bayar diyat atau kaffarat. Sebagaimana tercantum dalam surah An-nisa’ ayat 92 berikut ini;

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Ayat di atas menjelaskan tentang kaffarat, diyat atau puasa dua bulan tanpa jeda bagi pembunuh yang tidak disengaja tapi kalau sengaja maka qishasnya adalah dibunuh pula. Hal tersebut menujukkan bahwa menumpahkan darah orang lain itu tidak boleh sembarangan dan termasuk dosa yang sangat besar karena tidak hanya dosa kepada Allah tapi juga berdosa kepada anak Adam sehingga hukumannya sangat berat. Dengan kaffarat dalam rangka taubat kepada Allah, sedangkan diyat dibayarkan dalam arti meminta maaf dan mengganti kerugian terhadap ahli warisnya dan jika tidak mampu maka ia wajib berpuasa dua bulan berturut-turut.

Mencuri atau membunuh yang terkena qishssh (pencuri dipotong tangan, membunuh dibunuh atau bayar diyat) itu harus sesudah ditetapkan pengadilan. Melalui proses hukum islam. Bukan hak individu atau kelompok untuk menghakimi dan memutuskannya. Institusi kehakiman dan pemerintahlah yang menegakkan. Karena itu, tindakan main hakim sendiri tidak dibenarkan dalam islam.

Kesimpulannya, dari kasus yang terjadi di atas berupa pembakaran terhadap seorang terduga pencuri harus diproses oleh pengadilan untuk memutuskannya namun karena peristiwa pembakaran itu sudah terjadi dan hukum kita belum menerapkan hukum islam maka yang paling mungkin adalah memberi pencerahan kepada sekelompok warga tersebut dengan cara membayar kaffarat sebagai bentuk taubat kepada Allah dan membayar diyat kapada ahli warisnya sebagai wujud penesalan dan permintaan maaf kepadanya. Wallahu a’lam bisshowab. (NM)

ً

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00