Hukum Memakai Anting Bagi Laki-Laki

Fikih
Foto: 
ilustrasi

Hukum Memakai Anting Bagi Laki-Laki

Nusantaramengaji.com - Gaya hidup kebarat-baratan telah banyak menjangkiti kaum remaja bangsa ini. Dari memakai anting ditelinga bagi laki-laki, bertato, mabuk-mabukan sampai dengan sek bebas seolah sudah menjadi gaya hidup yang tidak boleh ditinggalkan.

Pemahaman seperti ini harus diluruskan mengingat bahwa apa yang mereka lakukan bertentangan dengan syariah dan tidak baik bagi bagi perkembangan pribadi mereka ke depan.

 Bergaya boleh saja tapi tetap dalam batasan-batasan syariah tidak asal meniru gaya hidup budaya lain. Karena memahami modernitas tidak identik dengan hal-hal yang dilarang tapi sebaliknya harus disikapi dengan baik dan benar.

Baik dan buruk tetap ada dalam setiap budaya apapun di dunia ini, tinggal kita mengikuti yang baik dan meninggalkan yang buruk. Salah satu contoh kecil misalnya menindik telinga/memakai anting bagi laki-laki.

Dalam budaya lain hal tersebut dianggap sesuatu yang biasa dan merupakan gaya hidup budaya tertentu tapi dalam masyarakat yang mayoritas muslim seprti di negara kita maka perbutan tersebut sangan dilarang alias Haram karena dianggap tasyabbuh/menyerupai wanita.

Memakai anting adalah ciri khas kaum hawa namun jika ada laki-laki yang memakai anting maka dia telah menyerupai wanita. Dalam islam seorang lelaki yang menyerupai/meniru wanita dalam sikap dan tindak tandukanya maka hukumnya Haram. Begitu juga sebaliknya wanita yang menyerupai/meniru lelaki.

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 604 disebutkan;

مسألة: ي): ضابط التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه ما ذكروه في الفتح والتحفة والإمداد وشن الغارة، وتبعه الرملي في النهاية هو أن يتزيا أحدهما بما يختص بالآخر، أو يغلب اختصاصه به في ذلك المحل الذي هما فيه.

" Batasan penyerupaan yang di haramkan pada kasus penyerupaan orang laki-laki pada perempuan dan sebaliknya adalah apa yang diterangkan oleh Ulama Fiqh dalam kitab Fathul Jawad, Tuhfah, Imdaad dan kitab Syunul Ghorroh. Imam Romli juga mengikutinya dalam kitab An-Nihayah, yaitu; apabila salah satu dari lelaki atau wanita tersebut berhias memakai barang yang dikhususkan untuk lainnya atau pakaian yang biasa digunakan pada tempat lelaki dan wanita tersebut”.

Imam Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya mengatakan,

ثقب الأذن لتعليق القرط مِن زِينَةِ النساء, فلا يحل للذكور

“Melubangi telinga untuk dipasangi anting termasuk perhiasan wanita, karena itu tidak halal bagi lelaki.” (Raddul Muhtar, 27/81).

Dengang dmikian, kesimpulannya menindik telinga dan mencentelinya dengan anting hukumnya adalah haram karena tasyabbuh/meniru ciri khas yang ada pada wanita. Jadi, memberi pemahaman terhadap gaya hidup yang keliru bagi remaja kita merupakan kewajiban kitas semua sebagai seorang muslim. Bergaya boleh saja tapi harus tetap dalam koridor syariah tidak asal bergaya atau gaya-gayaan. Wallahu A’lam Bisshowab.  

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00