Hukum Harta Syubhat

Fikih
Foto: 
ilustrasi

Hukum Harta Syubhat

Nusantaramengaji.com - Mencari nafkah merupakan kewajiban semua orang. Ada banyak cara yang dilakukan seseorang untuk dapat bertahan hidup baik dengan cara yang halal maupun yang haram. Terkadang ada sebagian orang dikarenakan ingin mendapatkan hasil yang cepat dan menguntungkan melakukan cara-cara yang dilarang agama di antaranya adalah berjualan atau berdagang disekitar tempat-tempat yang diharamkan seperti berjualan/berdagang dikomplek pelacuran karena mayoritas pembelinya adalah para PSK dan hidung belang. Karena di situ ada percampuran antara uang haram (PSK) dan uang halal/tidak diketahui (Hidung Belang).

Bagaimanakah sesungguhnya hukum membuka warung atau toko dalam kompleks pelacuran menurut pendapat ulama? Karena dalam kompleks pelacuran ada 2 macam harta. Yaitu, (a) harta perempuan PSK yang haram; dan (b) harta laki-laki hidung belang yang memakai jasa PSK yang halal atau bercampur halal dan haram (kita tidak tahu).

Pertama, hukum uang yang dihasilkan dari melacurkan diri adalah jelas haram karena uang itu berasal dari perbuatan haram yaitu perzinahan, suatu perbuatan dosa besar. Konsekuensi hukumnya adalah haram bagi siapapun untuk menerima dari uang haram tadi melalui transaksi halal apapun dengan orang yang diketahui hartanya 100% haram. Baik transaksi berupa jual beli, hutang piutang, pemberian, hibah, hadiah atau yang lainnya.

Dengan demikian, hukum yang dihasilkan warung/toko dari pembeli PSK adalah haram.

Kedua, pembeli yang berasal dari laki-laki hidung belang. Latarbelakang uangnya tidak jelas. Bisa halal kalau berasal dari perkara halal atau campuran halal dan haram. Maka jual beli dengan laki-laki hidung belang adalah halal selama tidak diketahui asal uangnya dari usaha yang halal.

HUKUM HARTA BERCAMPUR HALAL DAN HARAM

Nah, dengan demikian maka uang yang dihasilkan pemilik warung atau toko di kompleks pelacuran adalah campuran antara halal dan haram. Bagaimana hukum uang yang bercampur antara uang halal dan haram? Para Ulama ada 2 (dua) pendapat:

Pendapat pertama, apabila yang haram lebih banyak dari yang halal, maka status uang pemilik toko/warung hukumnya haram. Alasan lain adalah karena orang yang jualan di tempat haram itu sama dengan membantu secara tidak langsung terhadap orang-orang yang berbuat dosa.

Pendapat kedua, hukumnya halal walaupun yang halal lebih sedikit daripada yang haram. Ini disebut harta syubhat. Dan harta syubhat statusnya makruh (tidak sampai haram). Ini adalah pendapat yang dianggap lebih unggul dibanding yang pertama. Berdasarkan pada hadits sahih riwayat Bukhari Muslim:

فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام، ‏كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يقع فيه

Artinya: Barangsiapa yang takut syubhat maka dia telah membebaskan diri dari agama dan harga dirinya. Barang siapa yang terjatuh pada perkara syubhat, maka ia jatuh pada perkara haram. Sebagaimana penggembala yang menggembala di sekitar pagar, maka dia hampir mengenai pagar itu.

Dalam hadits di atas seorang muslim dianjurkan untuk menghindari situasi syubhat supaya tidak jatuh pada keharaman. Namun, tidak ada larangan di situ. Lalu Ulama menyimpulkan bahwa harta syubhat adalah makruh.

PENDAPAT MADZHAB SYAFI'I TENTANG HARTA CAMPURAN HALAL DAN HARAM

Madzhab Syafi'iyah berpendapat bahwa uang yang bercampur antara halal dan haram hukum penggunaannya adalah makruh. Imam Suyuthi berkata dalam kitab Al-Ashbah wan-Nadzair

ومنها: معاملة من أكثر ماله حرام، إذا لم يعرف عينه لا يحرم في الأصح لكن يكره، وكذا الأخذ من عطايا السلطان، إذا غلب الحرام في يده، كما قال في شرح المهذب: إن المشهور فيه الكراهة لا التحريم، خلافاً للغزالي

Artinya: Transaksi seseorang yang kebanyakan hartanya haram, apabila tidak diketahui harta apa yang haram, maka tidak haram menurut pendapat yang paling sahih akan tetapi hukumnya makruh. Begitu juga hukum menerima hadiah dari raja apabila mayoritas harta raja itu haram seperti pendapat Nawawi dalam Al-Majmuk Syarah Muhadzab bahwa yang masyhur dalam masalah ini adalah makruh, bukan haram. Ini berbedda dengan pendapat Al-Ghazali (menurutnya hukumnya haram).

PENDAPAT IMAM MALIK DAN HANAFI TENTANG HARTA SYUBHAT (CAMPUR HALAL HARAM)

Madzhab Malik sependapat dengan madzah Syafi'i bahwa harta yang bercampur antara halal dan haram adalah makruh. Menurut salah satu pendapat dari madzhab Maliki hukumnya haram memakan harta syubhat dan menerima hadiah dari harta syubhat.

Sedang Muhammad bin Mustafa Al Khadimi dari madzhab Hanafi dalam kitab Bariqah Mahmudiyah menyatakan bahwa menurut pendapat terpilih di kalangan ulama Hanafi adalah apabila mayoritas harta itu haram, maka status harta dan penggunaannya adalah haram. Dan apabila mayoritas dari harta itu halal, maka hukumnya makruh. Lihat teksnya di bawah:

أن المختار عندهم أنه إن كان الغالب حراماً فحرام، وإن كان الغالب حلالا فموضع توقفنا.

PENDAPAT MADZHAB HANBALI TENTANG HARTA CAMPURAN HALAL DAN HARAM (SYUBHAT)

Ada 4 (empat) pendapat dalam Madzhab Ahmad bin Hanbal (Hanbali) terkait dengan masalah harta syubhat seperti diterangkan oleh Ibnu Muflih dalam kitab Al-Furu' II/660 sebagai berikut:

Pertama, apabila diketahui bahwa dalam harta itu terdapat harta halal dan haram, maka hukumnya haram.

Kedua, apabila perkara yang haram itu melebihi 1/3 (sepertiga), maka haram semuanya. Kalau kurang sepertiga maka halal.

Ketiga, apabila yang haram lebih banyak, maka hukumnya haram. Apabila harta yang halal lebih banyak, maka hartanya halal. karena yang sedikit ikut pada yang banyak Seperti dinyatakan Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Minhaj.

Keempat, tidak haram secara mutlak. Baik harta yang haram itu sedikit atau banyak tapi makruh. Kemakruhannya meningkat atau menurun berdasarkan kadar banyak atau sedikitnya harta yang haram. Ini pendapat Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni.

MEMAKAN HARTA YANG HALAL ADALAH YANG UTAMA

Namun demikian, memakan harta yang pasti halalnya 100% sangat dianjurkan dalam Islam seperti tersurat dalam QS Al Baqarah ayat 172 sebagai berikut;

 .....يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم

Artinya; “Wahai orang yang beriman, makanlah dari rizi yang halal..”.

Dalam QS Al-Mukminun ayat 51 Allah berfirman;

 ...يا أيها الرسل كلوا من الطيبات واعملوا صالحاً

Artinya; :Wahai para Rasul makanlah makanan yang baik [halal] dan berbuatlah amal shalih..”.

Dalam hadits sahih riwayat Muslim Nabi bersabda:

إن الله طيب لا يقبل إلا طيباً، وإن الله تعالى أمر المؤمنين بما أمر به المرسلي

Artinya: Allah itu baik dan Ia tidak menerima kecuali perkara yang baik (halal). Allah memerintahkan orang yang beriman perkara yang telah diperintahkan pada para Rasul (yakni untuk memakan makanan halal dalam QS 23:51 di atas).

KESIMPULAN:

1. Harta yang 100% haram, maka haram menggunakannya dan bertransaksi dengannya.

2. Harta syubhat atau campuran halal dan haram hukum menggunakannya adalah makruh.

 

Sumber Tulisan: PISS KTB

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00