Hukum Bunga Deposito

Fikih
Foto: 
ilustrasi

Hukum Bunga Deposito

Nusantaramengaji.com - Keberadaan sebuah Bank telah melahirkan kontroversi dikalangan umat Islam karena prakteknya yang dianggap mengarah pada riba. Meskipun pihak perbank-kan telah menjelaskan tentang pola praktek penggunaannya tetap saja kontroversi itu tidak selesai karena perbedaan sudut pandang dan dalil yang digunakan oleh masing-masing kelompok.

Namun, dalam realitasnya keberadaan bank sudah tidak mungkin ditolak karena sudah merupakan dari sistem keuangan dunia. Menolakanya berarti mengajak mundur ke beberapa abad ke belakang di mana traksaksi masih menggunakan emas dan perak. Maksudnya adalah keberadaan bank tidak mungkin dihindari beserta praktek yang ada didalamnya, yang terpenting adalah bagaimana pola kerja bank itu dapat dilihat dalam konteks kekinian yang sesuai dengan perkembangan zaman. Bukankah sebuah hukum itu dapat berubah karena perubahan zaman dan tempat.

Demikian, pula dengan bunga/nisbah dari deposito uang di bank. Deposito bank, baik bank konvensional maupun bank syariah, pada dasarnya disiapkan bagi nasabah yang ingin melakukan investasi melalui wakilnya, yaitu perbankan. Hal ini bisa dilihat dari situs resmi bank-bank tersebut untuk mengetahui maksud dari deposito ini.

Investasi dalam istilah fiqihnya dikenal dengan istilah istishna’, yaitu aqad investasi usaha. Dalam investasi terdapat nisbah rasio keuntungan yang harus diberikan kepada pihak shahibul maal (nasabah) oleh pelaku usaha melalui wakilnya yaitu mudlarib (bank). Nisbah rasio ini sifatnya tetap dan diketahui bersama saat awal nasabah mendaftarkan diri ke bank untuk mendepositokan uangnya. Biasanya bank konvensional menetapkan istilah nisbah rasio keuntungan ini sebagai bunga deposito.

Misalnya, anda mendeposito/investasikankan uang 1 Miliyar disebuah bank tertentu. Pihak bank biasanya punya syarat dan ketentuan sendiri dalam memberikan bunga deposit ini setiap bulan 5 persen misalnya yang berarti tiap bulannya anda (nasabah) mendapat 5 juta dari uang yang didepositokan. Artinya, uang anda nantinya akan diputar/dibelanjakan oleh pihak bank untuk mendapat keuntungan bersama. Dalam hal ini pihak bank sebagai wakil anda dalam meingvestasikan/membelanjakan uang anda dalam mendapatkan keuntungan yang nantinya dibagi berdasarkan akad bersama pihak bank dan anda.

Oleh karena itu, bagi hasil/nisbah rasio dari uang anda yang dideposito tidaklah termasuk riba. Karena salah satu syarat dari riba itu adanya kezalimaa/pemaksaan dalam memperoleh keuntungan. Tapi apa yang dilakukan oleh bank adalah mewakili anda dalam mendapatkan keuntungan dari uang yag diinvestasikan ke bank. Pihak bank selanjutnya memberi keuntungan sesuai dengan akad depsosito di awal. Hal ini bukalah riba tapi hasil/keuntungan yang anda dapat dari akad deposito tersebut.

Al-Imam Ala’uddin Abi Bakr bin Mas'ud Al-Kasani Al-Hanafi dalam kitab Badai’us Shana’i, juz VI, halaman 80-81, menjelaskan:

إذَا عُرِفَ هَذَا، فَنَقُولُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ إذَا سُمِّيَ لِلْمُضَارِبِ جُزْءًا مَعْلُومًا مِنْ الرِّبْحِ، فَقَدْ وَجَدَ فِي حَقِّهِ مَا يَفْتَقِرُ إلَى اسْتِحْقَاقِهِ الرِّبْحَ فَيَسْتَحِقُّهُ، وَالْبَاقِي يَسْتَحِقُّهُ رَبُّ الْمَالِ بِمَالِهِ

Artinya: “Bila [jenis Aqad] sudah dikenali, maka dapat kami katakan di sini bahwa: bilamana disampaikan kepada mudlarib satu nisbah yang ma’lum dari laba, maka nisbah laba itu merupakan haqnya, sedangkan sisanya merupakan haq pemilik harta (rabbul mal) sebab modalnya,” (Lihat Al-Imam Ala’uddin Abi Bakr bin Mas'ud Al-Kasani Al-Hanafi, Badai’us Shanai, Kairo, Darul Hadit, juz VI, halaman 80-81).

Ada sebuah kaidah fiqih yang menyebutkan:

العبرة فى العقود للمقصاد والمعاني لا للألفاظ والمباني

Artinya, “Pada dasarnya, suatu akad bergantung pada niat dan maknanya, bukan pada lafal dan bentuknya,” (Lihat Muhammad Az-Zuhaily, Al-Qawa’idul Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fil Madzahibil Arba’ah, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 404).

Maksud dari ibarat ini adalah, meskipun namanya adalah bunga, namun karena praktiknya adalah nisbah keuntungan usaha yang diberikan kepada pemilik modal (nasabah), maka istilah tersebut mengikut maksud dari produk tersebut diciptakan.

Dengan demikian, kesimpulan hukumnya adalah bahwa bunga/ nisbah keuntungan dari uang deposito di bank tidaklah haram dan bukan riba. Wallahu a’lam bisshowab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00