Hukum Bermadzab Bagi Orang Awam

Fikih
Foto: 
ilustrasi

Hukum Bermadzab Bagi Orang Awam

Nusantaramengaji.com - Ada sebagian umat Islam yang dengan keras menolak mazhab fiqih, namun tanpa disadari telah mengamalkannya setiap saat. Mereka mengatakan bahwa Rasulullah tidak mengajarkan untuk bermadzab. Mereka lupa bahwa zaman ketika Nabi hidup setaip persoalan dapat ditanyakan lagsung kepada Nabi. Bagaimana mungkin nabi menyuruh bermadzab jika beliau masih ada. Namun, ketika nabi wafat dan para pembesar-pembesar sahabat meninggal dunia maka muncullah ulama-ulama yang mencoba menjawab semua problem masyarakat yang ada dengan ijtihadnya masing. Para mujtahid yang banyak digunakan pendapat dan metode ijtihadnya sampai hari ini hanya empat orang, yaitu; Imam Hanafi (Hanafiyah), Imam Malik (Mlaikiyah), Imam Syafi’I (Syafi’iyah) dan Imam Ahmad bin Hambal (Hambali).    

Mengamalkan mazhab (bermazhab) merupakan perintah al-Qur’an dan merupakan esensi dalam menjalankan perintah Allah untuk mengikuti para ‘ulama sebagai ahli waris Nabi shalallahu’alaihi wasallam . Sebab mengikuti pendapat ‘ulama berarti mengikuti nabi dan sejatinya bermazhab terhadap pendapat ulama merupakan wujud dari mengikuti Nabi SAW.

Di sisi lain, muncul kesalah pahaman terkait istilah bermazhab. Di mana istilah ini, seringkali dipahami dengan makna mewajibkan diri atau orang lain untuk mengikuti satu mazhab tertentu. Meskipun tanpa disadari mereka yang menolak mazhab yang diakui dalam sejarah Islam, lebih mengidolakan dan mewajibkan orang lain untuk mengikuti “mazhab” tertentu pada hari ini, yang sama sekali belum teruji atau melalui proses seleksi alam, sebagaimana dilalui 4 mazhab fiqih yang ada. Bermadzab memang tidak wajib tapi juga tidak haram. Namun bagi orang awam yang tidak mengenal sama sekalai masalah agama sebagian ulama menyarankan bahkan mewajibkannya untuk bermadzab dengan cara memilih salah satu dari empat madzab yang ada.

Imam azd-Dzahabi (wafat 748 H) seorang ulama besar sekaligus seorang sejarawan ternama, menjelaskan bagaimana kondisi sebagian mazhab-mazhab fiqih pada rentang abad 3 hingga 6 Hijriyyah dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’

“Demikian pula mazhab al-Awza’i sempat masyhur dalam masa tertentu, namun penganutnya sedikit demi sedikit berkurang hingga tiada terdengar lagi. Demikian pula mazhab Sufyan dan lainnya. Hingga tiada tersisa saat ini kecuali empat mazhab saja (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali)…Sementara mazhab Abu Tsaur juga hilang setelah abad ke 3 H, demikian pula penganut mazhab Dawud azh-Zhahiri kecuali sedikit yang tersisa. Adapun mazhab Ibnu Jarir, hanya bertahan beberapa masa setelah abad ke 4 H.”

Bermazhab Atau Mengamalkan Satu Mazhab?

Para ulama sepakat (kecuali kelompok sesat qadariyyah dan Mu’tazilah Baghdad) akan wajibnya masyarakat awam yang bukan mujtahid untuk taqlid kepada mazhab tertentu dalam masalah-masalah ijtihadiyyah (fiqih), dalam arti bermazhab dengan mazhab tersebut. Bahkan Ibnu Qudamah (wafat 620 H) menghukuminya sebagai kewajiban .

Sebagaimana pendapat ini diamini pula oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam I’lam al-Muwaqqi’in dan Imam asy-Syaukani, dalam Irsyad al-Fuhul . Dua tokoh yang sering dirujuk oleh mereka yang menolak taqlid mazhab.

Bahkan Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) menjelaskan bahwa kepentingan masyarakat awam (muqallid awam) pada dasarnya bukanlah bagaimana mereka harus tahu dan meneliti dalil al-Qur’an dan Sunnah atas amalan beragama mereka. Sebab pengetahuan tentang dalil adalah kewajiban ‘ulama, sedangkan masyarakat awam cukup bagi mereka merujuk kepada ahlinya dalam menjalankan agama mereka. Beliau berkata dalam karya monumentalnya, Ihya’ Ulum ad-Din;

وإنما حق العوام أن يؤمنوا ويسلموا ويشتغلوا بعبادتهم ومعايشهم ويتركوا العلم للعلماء فالعامي لو يزني ويسرق كان خيراً له من أن يتكلم في العلم فإنه من تكلم في الله وفي دينه من غير إتقان العلم وقع في الكفر من حيث لا يدري كمن يركب لجة البحر وهو لا يعرف السباحة

“Sesungguhnya kepentingan orang-orang awam adalah mereka cukup beriman, berislam, dan sibuk dengan ibadah dan maisyah/mencari nafkah mereka. Dan menyerahkan kesibukan menuntut ilmu kepada ulama. Seorang awam seandainya ia berzina atau mencuri, itu lebih baik baginya, dari pada ia berbicara tentang ilmu. Sebab jika ia berbicara tentang ilmu dan agamanya tanpa memiliki kecukupan dan kecakapan ilmu, ia dapat jatuh kepada kekufuran tanpa ia sadari. Seperti seorang yang berenang dalam arus ombak laut, padahal ia tidak mengetahui cara untuk berenang.”

Kewajiban atau anjuran bagi orang awam (tidak mengerti agama) untuk bermadzab atau memilih salah satu madzab agar mereka tidak kebingunan dalam beribadah dan bermuamalah. Karena luasnya Ilmu yang dikaji oleh para ulama madzab dan ketidakmungkinan mempelajari ijtihad mereka satu persatu maka yang paling afdhal adalah memilih salah satu madzab untuk diikuti supaya tidak rancu karena banyaknya perbedaan pendapat di antara mereka. Dalam satu madzab saja, Syafiiyyah misalnya, itu banyak sekali perbedaan pandangan dalam menggali Alquran dan Hadis meski metode penggalian hukumnya tetap mengikuti Imam Syafi’I. Jadi, bagi orang awam atau merasa dirinya awam sebaiknya bermadzab dengan madzab tertentu saja supaya lebih mudah dalam menjalankan syariah, Syafi'iyyah saja misalnya yang banyak dianut mayoritas muslim Indonesia. Wallahu A’lam Bisshowab.   

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00