Hukum Beli Mobil/Rumah dengan Cara Kredit

Fikih
Foto: 
Ilustrasi

Hukum Beli Mobil/Rumah dengan Cara Kredit

Nusantaramengaji.com - Dalam masyarakat kita dewasa ini, sudah lazim jual beli secara kredit dengan mudah dilakukan. Bahkan ada yang beranggapan dengan cara kredit seseorang dapat memenuhi kebutuhannya dengan gampang, padahal sesungguhnya membeli dengan cara kredit sangat memberatkan tapi apa daya kita bisa jadi tidak punya apa-apa jika tidak kredit, begitulah kira-kira alasan yang sering dikemukakan. Persoalannya kemudian, banyak orang tidak tau bagaimana cara jual beli ini sah secara syariat dan tidak mengandung riba ?

Jual beli – termasuk dengan cara kredit – dalam fiqh Islam termasuk dalam kategori “ Fiqh Mu’amalah “, yang hukum asalnya adalah “ boleh “, selama terbebas dari unsur-unsur haram, seperti  ;  riba ( sistem bunga ), gharar ( tipuan ), dharar/dhulm ( bahaya ), jahalah ( ketidak jelasan ), maisir ( judi ) dan barang atau jasa yang dibisniskan haram ( haram ), Hal tersebut sesuai dengan kaidah fiqh sebagai berikut :

" الاصل  في الاشياء  الاباحة  مالم يرد الدليل  علي  تحريمها"                  

 “Hukum asal segala sesuatu adalah boleh, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya “

Adapun ketentuan syar’i yang harus terpenuhi dalam jual beli secara kredit adalah sebagai berikut:

1. Harga barang telah ditentukan secara pasti dan diketahui serta diridhoi oleh   pembeli dan penjual, agar terhindar dari “  جهالة”/ketidak jelasan.

2.  Pembayaran angsuran telah disepakati oleh kedua belah fihak dan waktu pembayarannya dibatasi dalam waktu yang telah disepakati, agar terhindar dari “ غرر“/unsur penipuan.

3. Harga yang semula disepakati tidak boleh dinaikkan disebabkan karena pelunasannya melewati batas waktu, agar terhindar dari praktik “ ربا“/riba

Adapun Jual Beli dengan sistem kredit yang banyak berlaku di Indonesia, karena banyak ( kalau tidak boleh dikatakan seluruhnya )  terkandung didalamnya unsur “ Riba “ yaitu ditetapkannya “ Denda “ apabila pembeli terlambat dalam membayar angsuran dari waktu yang telah disepakati, maka hukumnya tidak sah dan haram

Dan untuk itu, kalaupun seorang muslim harus membeli secara kredit dari penjual yang memberlakukan sistem riba tersebut, maka baru diperbolehkan bila berada dalam kondisi  “ ضرورة“ (terpaksa) sesuai dengan  kaidah fiqh : 

 الحاجة تنزل منزلة الضرورة (kebutuhan/pokok itu, dikategorikan sebagai dhoruroh/terpaksa), dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Barang yang dibeli merupakan kebutuhasn pokok ( mis. Rumah, obat )

2. Harus ada jaminan/keyakinan dan niat yang kuat bahwa ia mampu melunasi hutangnya tepat waktu, sehingga terhindar dari pembayaran bunga tunggakan

Kesimpulannya, jika akad jual beli melalui kredit jelas akad harganya di awal maka sah tapi jika tidak maka tidak sah. Misalnya, harga rumah dari pengembang 300 juta tapi karena di bayarin melalui bank maka harganya menjadi 350 juta dengan cara kredit. jika akad disepakati dengan harga 350 juta dengan pihak bank maka akadnya menjadi sah dan tidak ada unsur riba, menurut sebagian pendapat ulama, tapi yang sering terjadi dilapangan adalah harga belum di sepakati di awal tapi pihak pembeli hanya disuguhi cicilan perbulannya tanpa memberitahu harga total jualnya sehingga adanya ketidakjelasan serta kemungkinan mengandung gharar/penipuan dan penzaliman. Ditambah adanya DENDA jika terlambat bayar. Akad seperti ini jelas mengandung unsur riba dan mayoritas ulama mengharamkanya. Maka dari harap diperhatiakn betul akad jual beli melalaui kredit ini. Wallahu A’lam bisshowab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00