Hijrah; Antara keimanan dan Keduniawian

Kolom
Foto: 
ilustrasi

Hijrah; Antara keimanan dan Keduniawian

Nusantaramengaji.com - Kosa kata hijrah mendadak kembali mengemuka belakangan ini. Hal ini terkait dengan banyaknya para artis yang memproklamirkan dirinya sudah merasa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dari yang tidak pakai jilbab sudah memakai jilbab, dari yang biasa mengumbar aurat sampai sampai menutup aurat bahkan ada yang pakai baju/jilbab jenis burqa yang meliputi seluruh tubuh dan mukanya. Lalu bagaimana konteks dan makna dari hijrah itu sendiri.

Kalau kita melihat pada sejarah peristiwa hijrahnya Nabi maka kesimpulan yang kita dapat adalah bukan semata karena adanya gangguan dan ancaman kafir Quraisy tapi sejatinya disebabkan adanya perintah Allah kepada Nabi untuk berdakwah dan berhijrah. Kita harus memahami bahwa apa yang dilakukan Nabi tidak pernah lepas dari konteks keimanan dan pewahyuan. Artinya, hijrah Nabi bukanlah karena tidak amannya dakwah Islam tapi karena Allah memerintahkannya demikian. Peristiwa-peristiwa yang melatarbelakngai terjadinya hijrah hanya merupakan akibat dan bukan faktor utamanya. Faktor utamanya adalah perintah dakwah dan hijrah. Dengan kata lain, andaikata Allah tidak memerintahkan Nabi untuk berdakwah dan berhijrah maka dipastikan Nabi tidak akan dakwah dan hijrah ke Madinah.

Sebagaimana dijelaskan oleh hadis Nabi dari Ibnu Abbas berikut ini;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أُنْزِلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ أَرْبَعِينَ فَمَكَثَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً ثُمَّ أُمِرَ بِالْهِجْرَةِ فَهَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فَمَكَثَ بِهَا عَشْرَ سِنِينَ ثُمَّ تُوُفِّيَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasûl SAW  menerima wahyu ketika berusia empat puluh tahun, kemudian tetap di Mekkah selama tiga belas tahun, kemudian diperintah hijrah. Beliau hijrah ke Madinah dan berada di sana selama sepuluh tahun hingga wafat. (HR. Ahmad dan Al-Bukhari)

Menelisik hadis di atas secara jelas menunjukkan bahwa faktor utama Nabi hijrah adalah karena perintah wahyu. Sehebat apapun ganngguan kafir Quraisy terhadap Nabi dan para sahabatnya tidak membuat Nabi SAW lemah dan putus asa tapi dengan tegas dan berani terus mendidik para sahabatnya dengan pancaran keislaman sampai kemudian ada perintah hijrah.

Memang secara tersurat hijrah Nabi seolah takut dan pindah dari medan yang penuh ancaman tapi secara tersirat tidaklah demikian. Nabi adalah sosok yang agung yang sudah disiapkan Allah untuk menerima segala rintangan dan cobaan. Tempaan batin selama di Gua Hira telah menjadikan Nabi tidak hanya memiliki batin yang kuat tapi juga punya sikap welas asih kepada sesama sehingga beliau tidak tega melihat orang lain terlebih para sahabatnya menderita. Nabi mengajarkan sahabat-sahabatnya sabar dan tabah dalam menghadapi ancaman dan siksaan sebagai konsekuensi dakwah dan keislaman mereka.

Oleh karena itu, berhijrah merupakan keharusan sebagaimana berdakwah. Namun, keharusan hijrah ini bukan dalam arti fisik tapi batiniahnya. Fisiknya hijrah tapi batinnya tetap gelap maka hijrahnya tidak bermakna apa-apa. Karena hakikinya orang yang sudah hijrah dari hal yang tidak baik menjadi lebih baik merupakan hidayah yang Allah berikan kepada sesorang dan bukan karena upaya orang itu sendiri meski upaya meraih hidayah juga memiliki peran tapi sekunder sifatnya. Maksudnya, dilihat dari sisi keimanan, hidayah itu merupakan anugrah dari Allah untuk hamba yang dikehendakinya.

Kalau dilihat dari sisi realitasnya, ada banyak orang yang lahirnya telah hijrah tapi batinnya belum hijrah, dari tidak menutup aurat menjadi menutup aurat, dari jarang ibadah menjadi giat ibadah namun jika hatinya masih dipenuhi sikap ujub, riya, sombong dan lainnya berarti masih belum hijrah secara hakiki padahal yang terpenting dari hijrah itu adalah batinnya/niatnya. Kalau niatnya hanya untuk urusan duniawi atau karena laki/wanita maka ia hanya akan mendapatkan apa yang ia inginkan tapi jika hijrahnya betul-betul karena Allah dan rasulnya  maka ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah

Seperti disabdakan Rasulullah SAW dalam hadisnya tentang niat berikut ini;

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Artinya; “ Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa hijrah itu memiliki arti lahir dan makna batin. Arti lahirnya adalah berpindahnya seseorang dari suatu tempat yang tidak baik menuju tempat yang baik. Secara historis, hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah menggambarkan kondisi Makkah yang sudah tidak kondusif bagi penyebaran dakwah Islam. Nabi dan para sahabatnya seringkali menerima siksaan dan ancaman dari kaum kafir Quraisy sehingga logis bagi Nabi dan sahabatnya melakukan hijrah.

Sedangkan makna batinnya adalah hijrahnya Nabi semata-mata karena keimanan dan mengharap rahmat Allah. Hal ini dibuktikan bahwa meski ada beragam gangguan dan ancaman pembunuhan dari kafir Quraisy Nabi masih terus bertahan di Makkah selama 13 tahun sampai kemudian perintah hijrah turun dan Nabi pun melaksankannya.

Dengan demikian, memaknai hijrah bukan semata dalam arti fisik tapi yang terpenting adalah arti batiniahnya. Haijrah batin membutuhkan niat yang kuat dan riyadhah (latihan batin) yang istiqomah. Hal ini berarti dalam latihan batin ini dibutuhkan seorang pembimbing sejati (mursyid kamil) dalam menundukkan dan mengalahkan hawa nafsu berupa syahwat dan penyakit hati. Para arifin telah sepakat bahwa latihan batin ini wajib dalam bimbingan seorang mursyid atau guru. Karena tidak mudah membersihkan batin tanpa bimbingan seorang guru seperti orang menyapu lantai tidak pakai sapu atau murid belajar tanpa guru tentu akan bertindak semau sendiri.

Tujuan sebenarnya dari hijrah adalah berjihad melawan hawa nafsu dalam rangka meraih rahmat Allah. Makanya jihad jenis ini disebut dengan jihad akbar. Berbeda dengan jihad fisik/kecil yang ada temponya, jihad akbar adalah jihad sepanjang hayat bagaimana tetap istiqamah dijalan Allah dan Rasulnya. Menjadi keliru kemudian jika hanya fokus pada jihad kecil itu dan melupakan jihad akbar. Karena berjihad dalam arti berperang dengan musuh atau memberantas kemaksiatan jika terselip sedikit saja unsur riya di dalamnya maka menjadi sia-sialah amalnya seperti api membakar kayu bakar.

Makna hijrah yang ada dalam beberapa surah Alquran, seperti dalam surah Al Baqarah ayat 218, An-Nisa’ ayat 100, Al- Anfal 72-75, dan lainnya, sejatinya terkait dengan sisi batiniah seseorang untuk menguatkan keimanan dan mendapatkan rahmat Allah. Berhijrah hakikinya bermakna melaksanakan semua perintah Allah dan                                    menjauhi semua larangan-Nya. Semua istilah berbeda yang ada dalam Alquran, baik hijrah, jihad, sabar, syukur, ridha dan lain sebagainya, hakikinya bermuara pada pengertian taqwa ini.

Jadi, sebetulnya yang dimaksud makna hijrah dalam Alquran adalah hijrah batin/niat dari sebelumnya yang kurang baik menjadi baik. Hijrah dari beramal tidak pernah ikhlas menjadi ikhlas, dari merasa kurang menerima pemberian Allah menjadi ridha dan seterusnya. Hal ini dibuktikan oleh Nabi dengan memilih menempa ruhaniah para sahabat daripada lahiriahnya. Sehingga semua perbuatan mereka dilandasi keimanan, keikhlasan dan mencari ridha Allah.

Sahabat Ali misalnya tidak jadi membunuh musuhnya karena ketika mukanya diludahi saat itu pula muncul amarahnya dan beliau tidak ingin membunuh musuhnya karena hawa marah bukan karena Allah. Artinya, hijrah fisik itu perlu tapi hijrah batin itu lebih perlu karena inti dari semua hijrah adalah hijrah batin dan jihad batin agar tetap dijalan Allah. Inilah inti taqwa.

Berdakwah boleh saja, berjihad fisik monggo saja tapi tanpa landasan batin yang kuat maka setan selalu mempunyai celah untuk membelokkannya. Di sinilah letak pentingnya seorang mursyid kamil dalam membimbing batin seseorang agar selalu berada dijalan Allah karena merekalah pewaris ruhaniah Nabi yang tidak diajarkan pada semua sahabat selain sahabat-sahabat tertentu saja. Wallahu A’lam bisshowab. (Luthfi Sy)     

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00