Bolehkan Wanita/Istri Merokok ?

Fikih
Foto: 
ilustrasi

Bolehkan Wanita/Istri Merokok ?

Nusantaramengaji.com - Fenomena kesetaraan gender telah berdampak luas terhadap relasi lelaki dan perempuas saat ini. Apa yang sebelumnya tabu bagi kaum wanita sekarang sudah tidak lagi. Seperti bepergian sendirian, bekerja di luar rumah, bahkan sampai kebiasaan nongkrong sambil ngopi dan ngerokok di ruang publik. Hal ini terjadi karena ada pergeseran nilai antara lelaki dan perempuat sehingga perlu disikapi secara bijak dan berwawasan luas.

Terkait fenomena perempuan yang suka ngopi dan ngerokok di rumah atau di ruang publik, baik itu belum menikah atau yang sudah menikah, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum rorkok itu sendiri. Seperti kita tahu bahwa hukum merokok terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama antara yang mengharamkan dan yang membolehkan/makruh.

Kalau di Indonesia, para ulama yang menggabungkan diri dengan MUI dan Muhammadiyah menganggap rokok itu HARAM yang berarti menjual dan mengkonsumsinya juga HARAM. Sedangkan Ulama yang ada di Nahdhatul Ulama (NU) menganggapnya MAKRUH/BOLEH menjual dan mengkonsumsinya bahkan jika dengan perantara rokok dapat ibadah seseorang menjadi lebih baik maka rokok menjadi sunnah/wajib.

Misalnya dalam mengakaji kitab Allah dan kitab para ulama, para pengkaji menjadi lebih giat dan serius sebab kopi dan rokoknya. Maka hukum rokok dalam hal ini dapat menjadi sunnah atau wajib. Hal ini sudah maklum bahwa hukum itu tergantung illatnya/alasanya.  

Namun, terlepas dari kum rokok tersebut bagaimana jika ada seorang istri yang suka ngopi dan ngerokok, apakah suami wajib memenuhi kebutuhan kedua hal tersebut seperti kebutuhan-kebutuhan lainnya ?

Dalam hasyiah Al Bajuri, disebutkan;

ويجب لها أيضا الفاكهة التي تغلب في أوقاتها كخوخ ومشمش وتين ونحو ذلك. وما جرت به العادة من الكعك والسمك والنقل في العيد والحبوب في العشر, وما يفعل في أربعاء أيوب ويوم صباغ البيض والقهوة والدخان ان اعتادت شربهما

Termasuk kewajiban bagi suami adalah memberi nafaqoh kepada istri yang taat. Bagi suami yang longgar secara ekonomi (muusir) yang wajib baginya adalah memenuhi kebutuhan makanan yang menjadi kebiasaan istri, wajib juga memberi lauk pauk, pakaian, dan apapun yang sudah menjadi kebiasaan istri.

Bahkan umpamanya jika si istri punya kebiasaan NGOPI dan MEROKOK, maka bagi suami yang longgar ekonominya (muusir), wajib memenuhi kebutuhan ngopi dan merokok istrinya tersebut. (Hasyiah al-Bajuri Dar el-Fikr juz 2 hlm 276-277). Wallahu A’lam Bisshowab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00