Bolehkan Menikahi Wanita Yang Hamil Duluan

Fikih
Foto: 
Ilustrasi

Bolehkan Menikahi Wanita Yang Hamil Duluan

Nusantaramengaji.com - Pada zaman now, pergaulan bebas sudah menjadi kewajaran. Tidak ada lagi batas-batas antara pria dan wanita dan bergaul sehingga sering terjadi perselingkuhan, perzinahan, wanita hamil di luar nikah dan lain sebagainya. Agama seolah terdesak ke masjid dan musolla saja, di luar itu kehidupan seperti tidak mengenal agama.

Tak jarang kita jumpai, anak-anak remaja berpacaran selayaknya sudah seperti suami istri, saling peluk dan saling cium akibatnya si perempuan membelendung duluan sehingga mau tidak mau harus disahkan dalam pernikahan yang sah. Istilah skerang disebut Married By Accidet (MBA). Lalu muncul pertanyaan bolehkah atau sahkah nikah karena MBA ini ?

Menurut madzhab Syafi'i dan Hanafi pernikahan tersebut hukumnya sah dan memang seharusnya seperti itu suapay status anak tidak hilang dari ayah biologisnya. Sedangkan menurut madzhab Hanbali dan Maliki tidak sah.

As-Syairazi dalam Al-Muhadzab 2/113 menyatakan:

وَيَجُوزُ نِكَاحُ الحَامِلِ مِنَ الزِّنَا لأَنَّ حَمْلَهَا لاَيَلْحَقُ بِأَحَدٍ فَكَانَ وُجُودُهُ كَعَدَمِهِ

Artinya: Boleh menikahi wanita hamil dari perzinahan, karena sesungguhnya kehamilannya itu tidak dapat dinasabkan kepada siapapun, sehingga wujud dari kehamilan tersebut adalah seperti tidak ada.

Al-Jaziri dalam Al-Fiqh alal Madzahibil Arbaah juz 4/533 menyatakan:

أَمَّا وَطْءِ الزِّنَا فَإنَّهُ لاَ عِدَّةَ فِيْهِ وَيَحِلُّ التَّزْوِيْجُ بِالحَامِلِ مِنَ الزِّنَا وَوَطْءِهَا وَهِيَ حَامِلٌ عَلَى الأصَحِّ وَهَذَا عِنْدَ الشَّافِعِى

Artinya: Adapun hubungan seksual dari perzinahan, maka sesungguhnya tidak ada 'iddah padanya. Halal mengawini wanita yang hamil dari perzinaan dan halal menyetubuhinya sedangkan wanita tersebut dalam keadaan hamil menurut pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini adalah pendapat Syafii.

Adapun status anaknya dinasabkan pada ayah biologis yang menikahi ibu si anak sebelum anak lahir.

Wahbah Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, hlm. 9/140, menyatakan:

يحل بالاتفاق للزاني أن يتزوج بالزانية التي زنى بها، فإن جاءت بولد بعد مضي ستة أشهر من وقت العقد عليها، ثبت نسبه منه، وإن جاءت به لأقل من ستة أشهر من وقت العقد لا يثبت نسبه منه، إلا إذا قال: إن الولد منه، ولم يصرح بأنه من الزنا. إن هذا الإقرار بالولد يثبت به نسبه منه

Artinya: Ulama sepakat halalnya pria pezina menikahi wanita yang dizinahi. Apabila melahirkan anak setelah enam bulan akad nikah maka nasabnya ke pria itu. Apabila kurang dari 6 bulan dari waktu akad nikah maka tidak dinasabkan padanya kecuali apabila si pria membuat ikrar dengan mengatakan bahwa anak itu darinya dan tidak menjelaskan bahwa ia berasal dari zina. Maka dengan ikrar ini nasab anak tersebut tetap pada ayah biologisnya.

Imam Abu Hanifah - pendiri madzhab Hanafi - yang paling sharih (eksplisit) menegaskan sahnya status anak zina dinasabkan pada bapak biologisnya apabila kedua pezina itu menikah sebelum anak lahir. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 9/122, mengutip pandangan Abu Hanifah demikian:

لا أرى بأسا إذا زنى الرجل بالمرأة فحملت منه أن يتزوجها مع حملها, ويستر عليها, والولد ولد له

Artinya: Seorang lelaki yang berzina dengan perempuan dan hamil, maka boleh menikahi perempuan itu saat hamil. Sedangkan status anak adalah anaknya.

Kesimpulannya, boleh/sah seorang lelaki menikahi wanita yang dizinahi/dihamilinya menurut imam Syafi’I dan Imam Hanafi sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Hambali tidak boleh dan tidak sah. Wallahu a’lam busshowab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00