Bolehkan Menggunakan Uang Lembaga/ Yayasan Untuk Kepentingan Pribadi ?

Fikih
Foto: 
Ilustrasi

Bolehkan Menggunakan Uang Lembaga/ Yayasan Untuk Kepentingan Pribadi ?

Nusantaramenagji.com - Sebuah lembaga/yayasan dalam pengelolaanya pastilah membutuhkan uang yang tidak kecil sehingga seringkali Lembaga/yayasan tersebut meminta dana kepada dermawan untuk mencukupi biaya oprasionalnya. Namun tidak jarang ada sebagian pengurus yang mungkin karena terpaksa atau sengaja menggunakan uang Lembaga/yayasan itu untuk kepentingan dirinya. Entah itu untuk membangun usaha atau untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Padahal uang yang dimiliki oleh Lembaga/yayasan tersebut dimaksudkan untuk membiayai seluruh keperluan Lembaga/yayasan. Pertanyaanya bolehkan pengurus menggunakan uang Lembaga/yayasan tersebut demi kepntingan dirinya ?
Jawabnnya adalah dirinci sebagai berikut;
1. Jika Lembaga/yayasan tersebut milik pribadi maka pengurus lain dapat menggunakannya, entah dengan meminjam atau berhutang, atas seizin atau sepengetahuan pemiliknya maka boleh menggunakannya, tapi jika tidak ada izin maka tidak boleh.
2. Tapi jika Lembaga/yayasan tersebut berupa waqaf dan pengurusnya menggunakannya tanpa sepengetahuan pengurus yang lain maka tidak boleh. Sebab penggunaan uang milik Lembaga/yayasan diluar kepentingan Lembaga/yayasan tersebut berarti pengkhianatan terhadap amanat yang diberikan oleh waqifnya.
Misalnya uang masjid yang pada hakekatnya sudah menjadi milik Allah SWT, bukan milik Pengurus atau Ta’mir masjid digunakan tanpa sepengetahuan dan seizin pengurus yang lain maka tidak boleh menggunaknnya. Karena setiap orang yang bersedekah ke masjid dimaksudkan untuk biaya operasional dari pemeliharaan serta pemakmuran masjid tersebut. Sedangkan mengkhianati amanat itu adalah salah satu tanda munafik. Tapi kalau penggunaanya atas persetujuan pengurus yang lain maka boleh menggunakannya atau menurut adat kebiasaan pada umumnya.
Dasar Pengambilan:
Sabda Nabi Besar Muhammad saw:
عَنْ أَبَيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tanda orang munafiq itu ada tiga: Apabila dia berkata dia berdusta, jika dia berjanji dia menyalahinya dan jika dia diamanati dia khianat”. HR. Bukhari
Kitab Muhadzdzab juz 1 hal. 350:
وَلاَ يَمْلِكُ الْوَكِيْلُ مِنَ التَّصَرُّفِ اِلاَّ مَا يَقْـتَضِيْهِ اِذْنُ الْمُوَكِّلُ مِنْ جِهَةِ النُّطْقِ اَوْ مِنْ جِهَةِ الْعُرْفِ لأَنَّ تَصَرُّفَهُ بِاْلاِذْنِ فَلاَ يَمْلِكُ اِلاَّ مَا يَقْتَـضِيْهِ اْلاِذْنُ وَاْلاِذْنُ يُعْرَفُ بِالنُّطْقِ وَبِالْعُرْفِ اهـ.
“Wakil itu tidak memiliki pengelolaan kecuali apa yang ditetapkan oleh idzin dari orang yang mewakilkan melalui ucapan atau melalui adat kebiasaan (pendapat umum), karena mengelolanya dengan idzin, maka ia tidak memiliki pengelolaan kecuali apa yang ditetapkan oleh idzin. Sedangkan idzin itu dapat diketahui dengan ucapan dan berdasarkan pendapat umum adat kebiasaan.“
Kesimpulannya, boleh menggunakan uang Lembaga/yayasan untuk kepentingan atau memenuhi kebutuhan pribadi, baik dengan cara pinjam/hutang atau lainnya, selama diketahui dan seizin pemilik atau para pengurus yang ada di Lembaga/yayasan tersebut. Tapi jika tanpa sepengetahuan dan seizin pemilik/pengurus maka tidak boleh menggunakannya. Wallahu a’lam bisshowab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00