Bolehkah Menindik telinga/Hidung bagi laki-Laki ?

Fikih
Foto: 
ilustrasi

Bolehkah Menindik telinga/Hidung bagi laki-Laki ?

Nusantaramengaji.com - Fenomena kenakalan remaja tak lepas dari kesalahpahaman dalam memahami kemodernan. Mereka menganggap bahwa yang modern adalah yang penting berbeda dari adat-istiadat yang berlaku bahkan dengan agama. Menjadi modern berarti mengikuti gaya hidup yang berkembang terlepas apakah itu baik atau buruk dalam pandangan agama atau tradisi. Yang menjadi tolak ukur adalah fashion dan gaya hidup yang penuh hura-hura. Hal ini selanjutnya menciptakan generasi yang hanya mementingkan asesoris bagi tubuh tapi tidak dari segi intelektual maupun spiritual.

Pola hidup yang hanya mementingkan aspek lahiriyah semata ini pada akhirnya hanya melihat kemodernan dari sisi permukaan saja. Misalnya, fenomena menindik telinga dan hidung dari kalangan remaja laki-laki dianggap sebagai dari modernitas dan kemudian menganggap diri keren, hebat dan sesuai dengan gaya hidup kekinian.

Padahal bergaya dengan cara menindik telinga atau hidung bagi laki-laki sangat bertentangan dengan hukum agama dan tradisi yang ada terutama tradisi ketimuran. Lalu bagaimana pandangan hukum islam terhadap menindik telinga atau hidung bagi anak laki-laki atau laki-laki dewasa ?

Para ulama telah memberikan pandangan yang begitu luas terhadap permasalahan ini karena terkait dengan perilaku genenrasi muda yang kurang memahami agamanya. Penjelasannya sebagai berikut;

a. Menurut ulama Syafi’iyah; Haram mutlak, bagi anak atau orang laki-laki menindik/ melubangi hidung atau telinganya.

b. Menurut sebagian Ulama Hambaliyah hanya Makruh.

Namun, mayoritas ulama bersepakat bahwa menindik telinga atau hidung bagi perempuan adalah BOLEH karena ada hak baginya untuk memperindah dan menghiasi dirinya. Asalkan saat menindik tidak menimbulkan dampak negatif. Seperti dalam kitab I’anah At-Thalibin, Juz 4 hal 175 – 178 :

وَحَرَمٌ تَثْقِيْبُ أَنْفٍ مُطْلَقًا(وَأُذُنِ) صَبِيٍّ قَطْعًا وَصَبِيَّةٍ عَلَى اْلاَوْجُهِ لِتَعْلِيْقِ الْحَلْقِـــ كَمَا صَرَحَ بِهِ الْغَزَالِى وَغَيْرُهُ ـــ ِلأَنَّهُ إِيْلاَمٌ لَمْتَدْعُو إِلَيْهِ حَاجَةٌ وَجَوَّزُهُ الزَّرْكَشِى وَاسْتَدَلَّ بِمَا فِي حَدِيْثِ أُمِّ زَرْعٍ فِي الصَّحِيْحِ ، وَفِي فَتَاوِى قَاضِيْخَان مِنَ الْحَـــنَفِيَّةِ أَنَّهُ لاَبَأْسَ بِهِ ِلأَنَّهُمْ كَانُوْا يَفْعَلُوْنَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمْ يَنْكِرُ عَلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَفِي الرِّعَايَةِ لِلْحَنَابِلَةِ يَجُوْزُ فِي الصَّبِيَّةِ لِغَرْضِ الزِّيْنَةِ . وَيَكْرَهُ فِي الصَّبِيِّ . إهـــ وَمُقْتَضَى كَلاَمُ شَيْخِنَافِي شَرْحِ الْمِنْهَاجِ جَوَازُهُ فِي الصَّبِيَّةِ لاَالصَّبِيِّ لِمَا عُرِفَأَنَّهُ زِيْنَةٌ مَطْلُوْبَةٌ فِي حَقِّهِنَّ قَدِيْمًا وَحَدِيْثًا فِي كُلِّ مَحَلٍ وَقَدْ جَوَّزَ صلى الله عليه وسلم اللَّعْبَ لَهُنَّ بِمَا فِيْهِ صُوْرَةٌ لِلْمَصْلَحَةِ ، فَكَذَا هَذَا أَيْضًا . وَالتَّعْذِيْبُ فِي مِثْلِ هَذِهِ الزِّيْنَةِ الدَّاعِيَةِ لِرَغْبَةِ اْلأَزْوَاجِ إِلَيْهِنَّ سَهِلَ مُحْتَمِلٌ وَمُغْتَفِرٌ لِتِلْكَ الْمَصْلَحَةِ . فَتَأَمَّلَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ . (فتح المعين بها مش إعانة الطالبين الجزء الرابع ص: ۱۷٥ – ۱۷۸دارالفكير)

“Haram mutlak menindik (melubangi) hidung. Para ulama sepakat atas keharaman menindik telinga anak laki-laki yang masih kecil guna memasang anting, sedangkan pada anak perempuan yang masih kecil menurut qoul yang lebih unggul juga haram sebab hal itu dapat menyakiti sebelum ada keperluan. Sedangkan, Imam Zarkasyi memperbolehkannya berdasarkan hadits Ummi Zar’in di dalam hadits Shahih. Fatwa-fatwa Syech Qodikhon pengikut Madzhab Hanafi, menyatakan bahwa tidak mengapa melakukan hal itu sebab pernah dilakukan pada zaman jahiliyah,sedangkan Nabi SAW tidak mengingkarinya. Dalam kitab ri’ayah karangan pengikut madzhab Hanbali menyatakan boleh menindik anak perempuan yang masih kecil, sebab bertujuan sebagai perhiasan, sedangkan pada anak laki-laki yang masih kecil hukumnya makruh.

Perkataan Syaikhina dalam Syarah Minhaj menetapkan,diperbolehkannya itu pada anak perempuan saja tidak pada anak laki-laki, karena perhiasan itu dianjurkan bagi wanita mulai dahulu hingga sekarang dan di mana saja. Sesungguhnya Nabi Saw Memperbolehkan permainan yang bergambar (boneka) bagi anak perempuan untuk kemaslahatannya, begitu juga menindik (boleh). Sedangkan menyakiti demi untuk perhiasan yang dapat menimbulkan rasa cinta suami pada istrinya itu sangat ringan dan tidak masalah sebab ada unsur kemaslahatan”.

Dengan demikian, kesimpulan dari uraian di atas adalah mayoritas dari ulama Syafi’iyah menghukumi haram mutlak menindik telinga atau hidung bagi seorang anak/dewasa dan menurut pendapat yang paling unggul juga haram menindik telinga/hidung bagi anak perempuan kecil yang belum ada hajat akan hal tersebut karena dapat menyakitinya tapi imam Zarkasyi membolehkannya. Begitu pula ulama Hanafiah membolehkan bagi anak perempuan kecil ditindik telinga atau hidungnya. Sedangkan ulama Hambali menghukumi makruh bagi anak laki-laki ditindik telinga/hidungnya dan boleh bagi anak perempuan. Wallahu A’lam Bisshowab. (NM)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00