Bolehkah Mejadi Muallaf Karena Cinta

Fikih
Foto: 
ilustrasi

Bolehkah Mejadi Muallaf Karena Cinta

Nusantaramengaji.com - Cinta memiliki kekuatan yang tidak mudah ditaklukkan oleh siapapun. Banyak para raja yang  jatuh karena cinta dan banyak pula kaum budak yang terangkat derajatnya karena cinta. Artinya, cinta merupakan dorongan sunnatullah yang berlaku di alam ini. Cinta tidak mengenal batasan usia, warna kulit bahkan agama. Bahkan kita dapat menjumpai dari beberapa orang di sekitar kita yang rela pindah agama karena faktor cinta. Lalu, apakah boleh dan berpahala pula jika seorang non muslim menjadi muallaf karena cinta ?

Menjadi mualaf atau masuk Islam dari agama sebelumnya adalah hal terbaik dalam hidup seseorang. Itu berarti dia telah mendapat hidayah Allah menuju kebenaran. Bahwa jalan menuju Islam itu melalui jalur cinta tidak mengurangi kebaikan yang ada di dalamnya. Cinta atau rasa sayang pada lawan jenis itu sendiri tidak berdosa karena itu urusan hati. Yang haram adalah apabila dua lawan jenis melakukan khalwat (berduaan) dan/atau perbuatan yang lebih dari itu.

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits sahih sebagai berikut;

إذا أسلم العبد فحسن إسلامه؛ كتب الله له كل حسنة كان أزلفها، ومحيت عنه كل سيئة كان أزلفها، ثم كان بعد ذلك القصاص: الحسنة بعشر أمثالها إلى سبع مائة ضعف، والسيئة بمثلها إلا أن يتجاوز الله عز وجل عنها

Artinya: Apabila seseorang masuk Islam dan keislamannya baik maka Allah akan menulis setiap amal baiknya pada masa sebelum Islam... Amal baiknya akan ditulis 10 kali lipat sampai 700 lipat, sedang amal buruknya akan ditulis sebanding kecuali yang sudah dimaafkan Allah.

Hadits di atas menurut Imam Nawawi menunjukkan bahwa orang kafir yang masuk Islam, maka amal baik di masa kafirnya juga akan dicatat sebagai amal baik dan mendapat pahala seperti dikutip oleh Ibnu Hajar Asqalani dalam Fathul Bari I/123 sebagai berikut:

وقال المازري : الكافر لا يصح منه التقرب ، فلا يثاب على العمل الصالح الصادر منه في شركه ; لأن من شرط المتقرب أن يكون عارفا لمن يتقرب إليه والكافر ليس كذلك . وتابعه القاضي عياض على تقرير هذا الإشكال ، واستضعف ذلك النووي فقال : الصواب الذي عليه المحققون - بل نقل بعضهم فيه الإجماع - أن الكافر إذا فعل أفعالا جميلة كالصدقة وصلة الرحم ثم أسلم ومات على الإسلام أن ثواب ذلك يكتب له ، وأما دعوى أنه مخالف للقواعد فغير مسلم لأنه قد يعتد ببعض أفعال الكافر في الدنيا ككفارة الظهار فإنه لا يلزمه إعادتها إذا أسلم وتجزئه

 

Nabi bersabda dalam hadits riwayat Muslim;

من دل على خير فله مثل أجر فاعله

“Barangsiapa yang menunjukkan pada kebaikan, maka ia akan mendalpat pahala seperti pelaku kebaikan itu”.

Dalam hadits yang serupa, juga riwayat Muslim, Nabi bersabda:

من دعا إلى هدى كان له من الأجور مثل من تبعه، لا ينقص من أجورهم شيئا

"Barang siapa yang menunjukkan jalan kebaikan, maka baginya pahala kebaikan  yang serupa  tanpa dkurangi sedikitpun”

Kesimpulannya adalah bahwa masuk Islam karena cinta tidaklah mengapa atau BOLEH justru seseorang akan mendapatkan pahala, cicatat sebagai pahala semua kebaikannya di waktu masih kafir serta dihapus dosa-dosanya yang lalu karena keislamannya. dan orang yang mengajaknyapun akan mendapt pahala di sisi Allah. Bahkan Islam mengajarkan dakwah dengan penuh kasih sayang dan rasa cinta supaya lebih manusiawi dan lebih mengena ke semua orang karena Islam agama cinta yang membawa rahmat bagi sekalian alam. wallahu A'lam bisshowab.   

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00