Bolehkah Makan-Minum dan Merokok Di Masjid/Musholla

Fikih
Foto: 
Ilustrasi

Bolehkah Makan-Minum dan Merokok Di Masjid/Musholla

Nusantaramenagji.com - Ada tradisi dalam masyarakat santri ketika ada hajat atau acara pengajian atau majlis taklim lainnya biasanya mengadakan hataman Alquran terlebih dahulu siangnya dan dilanjutkan pengajian umum pada malam harinya. Tidak jarang hajatan atau kegiatan tersebut dilakukan di masjid atau musolla yang ada disekitar lingkungan masyarakat tersebut.

Pada akhir acara umumnya dilanjutkan dengan ramah tamah atau sekedar meminta penjelasan lebih lanjut dari uraian penceramah. Seringnya pada saat ramah tamah disuguhi makanan dan rokok agar ramah tamahnya lebih rileks dan santai. Sehingga hampir kebanyakan jamaah yang ikut pengajian ikut makan dan merokok di dalam masjid tersebut begitu pula pada acara sebelumnya berupa hataman Alquran disuguhi makanan dan rokok untuk para qori, nya.  Lalu bagaimana sebenarnya hukum makan-minum dan merokok di masjid/musolla tersebut mengingat kedua temapt itu sangat dimuliakan.

Menurut ulama makan-minum serta merokok di tempat-tempat seperti itu adalah sebagai berikut:

1. Kalau terjadi idza' (menyakiti atau mengganggu orang lain) hukumnya makruh menurut sebagaian pendapat. Dan menurut pendapat yang lain hukumnya haram.

2. Apabila terjadi taqdzir (mengotori masjid) atau bertujuan menghina (Ihanah) kemulyaan masjid maka hukumnya haram.

3. Hukum-nya dapat berubah menjadi sunnah apabila keberadaannya dapat menimbulkan semangat untuk taklim (mengajar) atau imaroh masjid (meramaikan masjid) dengan tetap menghindri taqdzir dan ihanah.

Hadis yang membolehkan makan dan minum di masjid selama tidak mengotorinya adalahhadis riwayat Ibnu Majah dari Sahabat Abdullah bin Harits az-Zubaidi yang mengatakan;

كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْمَسْجِدِ الْخُبْزَ وَاللَّحْمَ

Artinya; “Di zaman Nabi Kami makan roti dan daging di dalam masjid”.

Imam An-Nawawi mengatakan:

قال الشافعي والأصحاب: يجوز للمعتكف وغيره أن يأكل في المسجد ويشرب ويضع المائدة، ويغسل يده بحيث لا يتأذى بغسالته أحد، وإن غسلها في الطست فهو أفضل، …. قال أصحابنا: ويستحب للآكل أن يضع سفرة ونحوها ليكون أنظف للمسجد وأصون

As-Syafi’i dan para ulama syafi’iyah mengatakan; boleh bagi orang yang I’tikaf atau yang lainnya untuk makan, minum, dan membawa makanan di masjid. Demikian pula cuci tangan di masjid, selama kotorannya tidak mengganggu orang lain. Jika cuci tangan dilakukan di wadah, itu lebih bagus…. Para ulama syafi’iyah  mengatakan, “Dianjurkan bagi orang yang makan untuk memasang alas atau semacamnya agar lebih menjaga kebersihan masjid.” (al-Majmu’, 6/534).

Namun, dalam masalah merokok dalam tempat tempat-tempat tersebut ada beberapa ulama' yang langsung mengharamkannya secara mutlaq di antaranya:

* Syaikh Ismail Utsman Zain Al-Yamani Al-Makki,

Beliau berkata: "Merokok di samping majlis Alqur'an, majlis ilmu hadits, majlis ilmu-ilmu syar'I atau tempat-tempat yang harus di jaga adab dan ketenangannya hukumnya haram karena termasuk su'ul adab {tidak sopan} dan meremehkan majlis-majlis yang harus di mulyakan dan terlebih-lebih bila dilakukan di masjid yang merupakan rumah Allah SWT, dan termasuk bagian syi'ar-syi'ar Allah SWT. Barang siapa yang mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati".

* Syaikh As-Sabrowi As-Syafi'i,

Beliau Berkata: "Guruku berkata masalah yang saya pasrahkan terhadap Alloh SWT, Adalah keharaman merokok di majlis Alqur'an dan tidak ada jalan bagi pendapat Makruh. Ketika berbincang-bincang urusan dunia di samping majlis Alqur'an itu di larang, maka merokok dalam majlis itu lebih utama untuk di larang karena adanya bau yang tidak enak, walaupun pelakunya tidak merasakannya karena senang atau sudah terbiasa, seperti halnya orang yang bekerja di tempat-tempat kotoran maka mereka tak akan terganggu. Ketika orang-orang berakal mengetahui bahwa termasuk adab atau sopan santun menghadap raja di dunia dan mentri-mentrinya adalah tidak merokok, maka apakah mereka tidak mengetahui bahwa merokok ketika menghadap Allah dengan membaca Alqur'an termasuk sesuatu yang merusak sopan santun ?

Banyak sekali sesuatu ketika tidak menghadap raja, itu tidak dilarang tetapi ketika menghadapnya itu di larang. Atas dasar ini merokok itu makruh di luar majis Alqur'an, tapi ketika di majlis Alqur'an karena termasuk merusak sopan santun di hadapan kalam Allah maka hukumnya haram. Ketahuilah hanya sekali perbuatan di luar sholat itu diperbolehkan tapi ketika di tengah-tengah sholat maka hukumnya haram. Walaupun tidak membatalkannya, keharaman ini karena tidak adanya kesopanan di hadapan Allah SWT"

* Al-Imam Al-Hifny

Beliau menukil adari beberapa gurunya, beliau berkata: "Merokok di majlis Alqur'an dikhawatirkan menjadi penyebab SU'UL KHOTIMAH, semoga Allah melindungi kita semua". Oleh karena itu, atas segala keadaaan berhati-hatilah, karena berhati-hati {ikhtiath} adalah perbuatan orang-orang yang takut kepada Allah SWT.

Dengan demikian, kesimpulannya adalah makan dan minum di dalam masjid/musholla diperbolehkan selama tidak membuatnya kotor dan menjaga kebersihannya. Sedangkan merokok sebagian ulama mengharamkannya sedangkan sebagian lain memakruhkannya. Hal ini terkait dengan perbedaan pandangan mereka tentang hukum merokok yang memang khilaf di antara ulama tentang keharaman dan kemakruhannya. Wallahu A;lam Bisshowab.

 

Referensi :

Al-Ghuror Al-Bahiyah Syarh Al-Bahjah,1/409.

Qurrotul Ain Bi Fatawa Ismail Zain 199-200/193-194.

Al-Mahally: 1/227.

Al-Anwar: 1/83.

Tukhfah Ma'a Syarwani: 1/23.

Asnal Matholib Iii/100.

Yas'alinaka Fi-Ad-Din Wa Al-Hayat,2/227.

Talkhisul Murod: 96.

Syarh Mandhumah Arsyadul Ikhwan: 258-259.

Al-Wajiz: 1:59. Is'adur Rofiq: 1:59.

Bughyah Mustarsidin: 65

At-Turmusi,3/34-36

Al-Majmu' 6/543

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00