Bolehkah Istri Mengambil Uang Suami Tanpa Izin ?

Fikih
Foto: 
Ilustrasi

Bolehkah Istri Mengambil Uang Suami Tanpa Izin ?

Nusantaramengaji.com - Dalam menjalani kehidupan rumah-tangga, seorang suami dan istri harus sama-sama memahami hak dan kewajibannya masing-masing. Suami tidak boleh melanggar hak istri berupa nafkah lahir dan batin begitu juga istri harus mentaati suami bagaimanapun bentuknya selama tidak menyuruh pada kemaksiatan. Kesaling pengertian dan memahami inilah kunci dari keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Karena itu, seorang suami harus tahu dan paham betul hak dan kewajiban terhadap istrinya begitu juga sebaliknya seorang istri harus mengerti akan hak dan dan kewajibannya terhadap suami.  

Namun, terkadang seorang suami, sengaja atau tidak, mengabaikan kewajibannya untuk memberi nafkah sehingga tidak jarang kemudian seorang istri nekat mengambil uang suaminya tanpa izin/pengetahuannya. Lalu bagaimana hukummya istri yang mengambil uang suaminya tanpa izin dengan alasan suami lupa/sengaja tidak memberi nafkah atau memberi uang belanja sehari-hari.

Jawabnnya; Istri yang mengambil harta atau uang suami hukumnya tidak boleh/ berdosa KECUALI mengambil haknya istri yang wajib atas suaminya seperti uang belanja, sandang-pangan, dan lainnya.

Syaikh Abdurrahman bin husein bin Umar Al Masyhur dalam kitabnya Bughyatul Mustarsyidin halaman 242, mengatakan;

 

ـ (مسئلة) امتنع الزوج أو القريب من تسليم المؤن الواجبة عليه أو سافر ولم يخلف منفقا ، جاز لزوجته وقريبه أخذها من ماله ولو بغير إذن الحاكم ، كما أن للأم وإن علت أن تأخذ للطفل من مال أبيه الممتنع أو الغائب أيضا ، لكن يتعين الأخذ من جنس الواجب فيهما إن وجد ، فإن لم يكن له مال أنفقت الأم من مالها ، أو اقترضت ورجعت على الطفل أو على من لزمته نفقته إن أذن القاضي لها في ذلك ، أو أشهدت على نية الرجوع عند فقده وإلا فلا رجوع وإن تعذر الإشهاد على الأوجه لندرته ، وكالأم فيما ذكر بقيده قريب محتاج وجد لطفل غاب أبوه أو امتنع ـ اهـ بغية المسترشدين ص ٢٤٢

 

" [Masalah]  Ada seorang suami atau kerabat tidak mau memberikan nafkah sehari hari yang menjadi kewajibannya, atau pergi dengan tanpa meninggalkan biaya nafkah untuk istri / kerabatnya maka bagi istri / kerabat tersebut diperbolehkan mengambil nafkahnya dari harta suaminya walaupun tanpa ada ijin dari hakim, Seperti halnya diperbolehkan bagi ibu / nenek mengambil nafkah anaknya dari suaminya yang tidak mau memberi nafkah anaknya atau karena pergi, hanya saja jenis harta disini hanya tertentu pada jenis harta yang wajib untuk nafkah bila ada, Apabila tidak ada maka ibu yang wajib menafkahinya dengan hartanya atau harta dari berhutang, dan nanti untuk membayarnya bisa minta ke anak tersebut (apabila sudah besar) atau minta kepada orang yang seharusnya wajib menafkahi anak tersebut dengan catatan bila qodli memberi ijin, atau dengan memakai saksi (bahwa ibu telah berhutang) yang nantinya akan meminta ganti rugi apabila tidak ada qodli, apabila kedua hal ini tidak terpenuhi (ijin qodli dan saksi) maka ibu tidak boleh meminta ganti rugi menurut qoul awjah karena jarang terjadi demikian (tidak dapat menghadirkan salah satu dari ijin qodli maupun saksi). Seperti halnya ibu, kerabat juga mempunyai kewajiban yang sama dengan ibu bila menjumpai anak yang ditinggal pergi atau tidak diberi nafkah oleh ayahnya ".

Dengan demikian, alangkah lebih baik jika seorang istri tetap menjaga adab kepada suaminya dengan cara memintanya secara baik-baik dan mengingatkannya akan kewajibannya tersebut, mungkin karena suatu hal, kewajiban tersebut tidak terpenuhi bukan Karena disengaja tapi memang betul-betul lupa karena kesibukannya.

Jadi, kesimpulannya seorang istri BOLEH mengambil uang suami selama itu merupakan haknya yang diabaikan/lupa oleh suami tapi diluar itu maka TIDAK BOLEH. Misalnya untuk hura-hura dan traktir teman-temannya atau diperuntukkan yang bukan kebutuhan kelurga. Oleh karena itu, saling komunikasi antar pihak suami-istri sangat dianjurkan oleh agama sehingga jurang kesalahpahaman dapat dihindari dan keretakan dalam rumah tangga dapat dijauhi. Wallahu a’la Bisshowab. (NM).

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00