Bolehkah Bersuci dengan Air di Wadah yang Kurang dari dua Qullah ?

Fikih
Foto: 
Ilustrasi

Bolehkah Bersuci dengan Air di Wadah yang Kurang dari dua Qullah ?

Nusantaramengaji.com - Bagi orang yang ngontrak rumah atau kosan biasanya jarang ada bak mandi/jeding di dalamnya, para penghuni kontrakan atau kosan umumnya memakai ember yang ukuran daya tampung airnya kurang dari dua qullah/270 liter. Mereka mandi junub/biasa dan berwudhu juga dari ember tersebut serta dipastikan air ember tersebut seringkali kena cipratan air ketika mandi atau wudhu (air musta'mal/air yang sudah dipakai). pahal menueurt ulama fiqh air suci dan dapat mensucikan itu harus mencapai dua qullah atau lebih, bisa kurang dua qullah asal tidak terkena najis yang merubah, warna, rasa dan baunya. Lalu bagaimana hukumnya mandi dengan ar kurang dari dua qullah dan kecipratan air yang sudah dipakai ? apakah air tersebut dianggap suci dan mensucikan ?
Kalau yang anda maksud air musta'mal itu adalah air suci kurang dua kulah yang terkena tetesan air musta'mal,  dalam madzhab Syafi'i ada pendapat yang menyatakan bahwa tetesan air musta'mal yang sedikit yang mengenai atau memercik ke dalam air suci kurang dua qulah itu dimaafkan (ma'fu anhu) dan status air tetap suci dan menyucikan.
Imam Nawawi dalam Al-Majmuk ala Syarh al-Muhadzdzab, hlm. I/151, menyatakan:
ويعفى عن يسير الماء المستعمل الواقع في الماء؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلم وأصحابه كانوا يتوضؤُون من الأقداح، ويغتسلون من الجفان، واغتسل النبي وعائشة من إناء واحد، تختلف أيديهما فيه، كل واحد منهما يقول لصاحبه: أبق لي، ومثل هذا لا يسلم من رشاش يقع في الماء. فإن كثر الواقع وتفاحش لم تجز الطهارة به على الرواية الراجحة، وهو مذهب الشافعية أيضاً كما بينت
Artinya: Dan dima’fu (diampuni) sedikitnya air musta’mal yang jatuh kedalam air karena Rasulullah dan para sahabat biasa wudhu dengan air dari gelas, dan mandi dengan air dari mangkuk besar, dan Nabi bersama ‘Aisyah sering mandi bersama dalam satu wadah air, tangan keduanya saling bergantian di dalamnya, saling berkata dengan pasangannya "Tuangkan untukku!" Yang semacam ini tentu tidak akan terselamatkan dari percikan-percikan dalam air. Bila percikan yang jatuh tersebut banyak dan membuat keruh maka tidak boleh bersuci memakainya menurut riwayat yang kuat, pendapat ini juga pendapat madzhab syafi’iyyah seperti yang telah kami jelaskan dimuka.
Ibnu Qudamah (ulama madzhab Hanbali) dalam Al-Mughni, hlm. 1/27, mengutip pendapat ulama Syafi'iyah sbb:
وإن كان الواقع في الماء مستعملا عفي عن يسيره .... وإن كثر الواقع وتفاحش منع على إحدى الروايتين، وقال أصحاب الشافعي إن كثر المستعمل منع وإن كان الأقل لم يمنع.
Artinya: Apabila air yang jatuh (ke air suci yang kurang dua qulah itu) berupa air musta'mal maka dimaafkan apabila sedikit .. apabila banyak maka tidak dimaafkan. Menurut ulama madzhab Syafi'i apabila air musta'mal (yang mengenai/memercik air suci kurang dua kulah) itu banyak, maka tidak dimaafkan. Apabila sedikit maka dimaafkan (tidak dicegah menggunakannya untuk bersuci).
Imam Nawawi dalam Raudhah At-Thalibin, hlm. 1/3, menyatakan:
فرع إذا اختلط بالماء الكثير أو القليل مائع يوافقه في الصفات كماء الورد المنقطع الرائحة وماء الشجر والماء المستعمل فوجهان أصحهما إن كان المائع قدرا لو خالف الماء في طعم أو لون أو ريح لتغير التغير المؤثر يسلب الطهورية وإن كان لا يؤثر مع تقدير المخالفة لم يسلب. والثاني إن كان المائع أقل من الماء لم يسلب وإن كان أكثر منه أو مثله سلب وحيث لم يسلب فالصحيح أنه يستعمل الجميع وقيل يجب أن يبقى قدر المائع وقيل إن كان الماء وحده يكفي لواجب الطهارة فله استعمال الجميع وإلا بقي
Artinya: Ketika tercampur pada air banyak ataupun sedikit, cairan yang serupa sifatnya dengan air tersebut semisal air mawar yang tak berbau lagi dan air tanaman dan air musta'mal maka ada dua pendapat: (a) Yang paling shahih jika cairan tersebut diperkirakan saat mencampuri memiliki rasa, warna atau bau dapat merubah dengan perubahan yang dianggap (perubahan yang besar) maka tidak menyucikan (ghairu tahur), dan jika diperkirakan tidak berpengaruh maka suci dan menyucikan.
Pendapat kedua, jika cairan tersebut lebih sedikit dari air yang dicampurinya maka air tetap menyucikan, dan jika cairannya lebih banyak atau setara maka tidak menyucikan (menjadi musta'mal). Pendapat yang shahih boleh menggunakan air tersebut (yang telah tercampur) keseluruhannya. Pendapat lain: Wajib menyisakan air tersebut sebanyak cairan yang mencampuri. Pendapat lainnya lagi: Jika air tanpa pencampur cukup untuk membasuh bagian yang wajib maka boleh menggunakan seluruhnya, dan seterusnya. wallahu A'lam Bissowab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00