Bijak Dalam Beragama

Kolom

Bijak Dalam Beragama

Nusantaramengaji. com - Sikap bijaksana memang tidak semua orang memilikinya. Karena dalam kebijaksaan terkandung makna pengetahuan yang luas serta sikap rendah hati yang tidak gampang menilai dan menghukumi sesuatu tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Seorang bijak mengatakan bahwa kebijaksaan itu berdiri di atas kebaikan dan keburukan. Maksudnya adalah kebijaksanaan itu tidak melihat persoalan dari sisi baik dan buruk semata, untung dan rugi tapi melihatnya dari beragam sisi sampai akhirnya lahir sebuah keputusan yang dapat diterima oleh semua pihak.

Demikian pula dalam beragama, sikap bijak ini sangat diperlukan. Tidak mudah marah dan memebenci karena dalam amarah dan benci tesimpan sikap tidak adil dan bijaksana. Bagaimana ia dapat adil dan bijaksana jika di dalam hatinya menyimpan amarah dan kebencian. Padahal dalam setiap agama apapun sikap bijaksana ini sangat ditekankan agar orang tidak mudah jatuh pada hawa amarah. Karena amarah hanya akan mengarah pada keburukan dan kerusakan.

Orang yang beragama tapi seringkali marah dan mudah mencaci maka dapat dipastikan ia tidak banyak belajar akan agamanya. Anehnya, belakangan ini banyak diantara masyarakat kita,  yang kataya umat beragama, menyimpan amarah dan kebencian dalam hatinya, entah itu kepada saudara satu agama atau kepada yang beda sehingga tidak jarang terjadi saling ejek dan saling maki terhadap agama masing- masing bahkan terhadap tuhan dan nabinya segala.

Hal tersebut dapat kita lihat secara telanjang di dunia maya atau medsos. Dunia medsos yang seharusnya digunakan untuk menyebar salam dan kebajikan justru dibuat sebagai ajang melampiaskan amarah dan caci maki. Mungkin karena panik terhadap kemajuan teknologi jadinya cara menggunakannya pun menjadi salah kaprah. Ditambah penghayatan terhadap agamanya hanya setengah dengkul.

Tidak jarang maraknya grup-grup yang ada dalam medsos tersebut justru digunakan untuk menyebarkan perseteruan hal-hal yang berbau SARA bahkan di dalamnya tidak jarang saling menghina tuhan dan simbol-simbol agama masing-masing. Bahkan ada di antara orang islam tanpa disadari, karena menghina tuhan dan simbol agama lain maka kemudian dibalas dengan menghina Allah dan rasul yang kita junjung tinggi. Padahal dalam islam dilarang keras menghina tuhan atau simbol agama lain karena akan berbalik mereka akan menghina tuhan dan simbol agama kita. Dan bisa jadi sebab menghina dan mencaci tuhan agama lain kita telah melakukan dosa besar yang dilarang syariah.

Seperti Firman Allah dalam Alquran surah Al-An’am ayat 108 sebagai berikut;

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya, Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan; Allah melarang terhadap Rasul-Nya, Muhammad saw, dan orang-orang yang beriman dari mencaci tuhan-tuhan kaum musyrikin, meskipun cacian itu mengandung kemaslahatan, namun hal itu menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan itu sendiri, yaitu balasan orang-orang musyrik dengan cacian terhadap Ilah orang-orang mukmin, padahal Allah adalah “Rabb, yang tiada Tuhan (yang berhak diibadahi) selain Dia.”

Sebagaimana yang dikatakan `Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu `Abbas, mengenai ayat ini, “Orang-orang musyrik itu berkata: `Hai Muhammad, engkau hentikan makianmu itu terhadap tuhan-tuhan kami, atau kami akan mencaci-maki Rabbmu.’ Lalu Allah melarang Rasulullah dan orang-orang mukmin mencaci patung-patung mereka; fa yasubbullaaHa ‘adwam bighairi ‘ilmi (“Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui baias tanpa pengetahuan.”)

Dalam sebuah hadits juga disebutkan :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن من أكبر الكبائر أن يلعن الرجل والديه ، قيل يا رسول الله وكيف يلعن الرجل والديه ؟ قال يسب أبا الرجل فيسب أباه ويسب أمه فيسب أمه

Dalam hadis lain riwayat Bukhari, Rasululloh saw bersabda :

وأخرج البخاري وغيره عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( إن من أكبر الكبائر أن يلعن الرجل والديه ، قيل يا رسول الله وكيف يلعن الرجل والديه ؟ قال يسب أبا الرجل فيسب أباه ويسب أمه فيسب أمه ) .

Sesungguhnya paling besarnya dosa besar adalah seorang laki-laki yang melaknat kedua orang tuanya, Beliau ditanya ; Wahai Rasululloh, bagaimana bisa seorang laki-laki melaknat kedua orang tuanya ? Beliau menjawab ; Ia mencaci ayahnya laki-laki lain, kemudian si laki-laki tersebut mencaci ayahnya, dan ia mencela ibunya laki-laki tersebut, lalu si laki-lakipun mencaci ibunya.

Oleh karena itu, islam melarang keras menghina dan mencaci sesembahan dan simbol agama lain apalagi sampai menciptakan kerusakan dan permusuhan yang tidak berujung. Rasulullah selalu mengajarkan kepada kita untuk selalau menebarkan salam dan perdamaian di manapun kita berada kecuali diganggu terlebih dahulu.

Betapa indahnya Islam sampai-sampai Allah dan Rasulnya benar mewanti-wanti kita agar tidak mudah terjebak dengan salah atau benarnya agama lain. Tentunya kita yang memiliki kesadaran akan keindahan islam tidak akan menjerumuskan Allah dan rasulnya dalam hinaan dan cacian umat lain karena perbedaan agama. Adalah kebodohan berlapis-lapis (dosa besar) kalau kita lebih dulu menghina dan mencaci agama lain karena itu berarti sama dengan membiarkan Allah dan Rasul kita dihinakan oleh diri kita sendiri. Allah dan Rasulnya melarang perbuatan seperti itu apalagi sampai menimbulkan kerusakan dan kematian seperti yang dilakukan Pelaku Penyerangan Gereja Lidwina di Jogya kemaren. Na’udzu billahi min Dzalik.  (Lutfi Sy)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00