Bersaudara atas Nama Bangsa

Kolom

Bersaudara atas Nama Bangsa

Nusantaramengaji.com - Ukhuwah wathaniah merupakan bagian dari dua pilar ukhuwah yang perlu diperhatikan oleh kita sebagai anak bangsa yang beragama dan berperi-kemanusiaan. Dua pilar itu adalah ukhuwah Basyariyah dan ukhuwah Islamiyah. Ketiga pilar ini tidak dapat dipisah-pisahkan karena terkait satu dengan yang lainnya. Sebagai manusia kita terikat dengan ikatan rasa kemanusiaan yang tidak ada beda antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan ikatan ini mengganggu manusia lain sama dengan menganggu manusia seluruhnya. Menzalimi orang lain sama dengan menzalimi manusia secara keseluruhan.

Sedangkan ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan yang didasarkan atas persamaan agama, dalam hal ini adalah agama Islam. Apa yang menjadi prinsip dasar dari ukhuwah Islamiyah sama dengan pirinsip ukhuwah Insaniyah/basyariya, yaitu; larangan mengancam dan menganggu orang lain tanpa dasar yang hak atau dibenarkan melalui agama. Karena pada dasarnya agama diturunkan untuk memanusiakan manusia dan mengangkat derajat mereka sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai manusia. Agama Islam dalam hal ini menjadi petunjuk bagi umatnya agar menjadi manusia terbaik yang saling tolong-menolong dalam kebaikan dan saling menasehati jika keliru. Ukhuwah Islamiyah dengan demikian merupakan ikatan yang menyatukan umat Islam dalam satu bingkai ajaran Islam.

Ukhuwah wathaniyah, tidak jauh berbeda pengertiannya dengan dua ukhuwah sebelumnya. Cuma dalam konteks ini lebih ditekankan pada persaudaran sesama bangsa/negara. Jadi lingkupnya lebih menyempit lagi tapi tetap dalam terang prinsip mamanusiakan manusia seperti yang ada dalam agama dan kemanusiaan. Ukhuwah atas dasar kebangsaan memiliki tujuan kemakmuran bersama sebagai bangsa dan negara baik dalam bidang sosial, politik dan ekonomi. Jadi pada prinsipnya ketiga ukhuwah itu didasarkan pada ikatan prinsip yang sama, yaitu; memanusiakan manusia pada level hak dan kewajibanya yang seimbang tanpa ada yang dilanggar dan dizalimi. Lalu bagaimana cara kita memupuk ukhuwah wathaniyah ini sehingga tujuan kita sebagai bangsa Indonesia tercapai sebagai negara Baldathun, Thayyibatun, Warabbun Ghafur.

Ada dua yang perlu kita lakukan; pertama, kita harus menyadari bahwa kita lahir, makan, minum dan hidup di bumi Indonesia. Di sini kita berpijak dan perlu menjunjung tinggi harkat dan martabat tempat kelahiran sebagai wujud kecintaan kepada bumi pertiwi. Tanpa tanah kelahiran kita tidak memiliki kampung halaman, tanpa kampung halaman kita tidak mungkin memiliki negara dan tanpa negara kita menjadi manusia nomaden yang tidak jelas arah dan tujuannya seperti halnya hayawan yang hidup secara liar.

Kedua, dengan merasa memiliki negara maka kita akan berbuat sesuai kecintaan kepada negara tersebut. Ketika kita mempunyai rasa memiliki tentu tidak rela jika apa yng kita milki diganggu atau diambil orang. Perbuatan kita dapat dilihat dari kecintaan kita kepada negara tersebut, ketika ada rongrongan terhadap negara akan tampak sikapnya sejauh mana pembelaanya terhadap negara tersebut. Dengan kata lain membela negara merupakan wujud membela diri kita sendiri diinjak-injak oleh orang/negara lain.

Dari dua alasan di atas, kita perlu terus membangun saling pengertian sesama warga negara bahwa kita hidup bersama-sama orang lain yang memiliki kepentingan dan tujuan yang sama. Sikap toleransi merupakan sikap yang harus dikedepankan oleh semua warga negara. Karena kita sadar bahwa negara ini dibangun dan terdiri dari beragam suku, ras, agama dan bangsa. Tanpa ada rasa tenggang rasa/toleransi kita akan jatuh pada konflik yang tak berkesudahan.

Oleh karena itu, ukhuwah watahaniyah sebagai sesama anak bangsa harus selalu dibangun dan diwujudkan dalam kehidupan. Tanpa rasa persaudaran antar anak bangsa akan mudah kita terjebak pada adu banteng atau kepentingan masing-masing. Apalagi baru-baru ini ada sekelompok orang yang menamakan diri ISIS yang mencoba menghancurkan ide batas-batas negara dengan sitem khilafah di bawah kepemimpinan tunggal. Hal tersebut tentu saja dapat membahayakan system NKRI yang sudah kita sepakati dan bangun bersama. Namun, terbukti kemudian impian utopis kaum ISIS ternyata kedok untuk memaksakan ambisi kekuasaan mereka yang bar-bar.

Dalam salah satu hasil Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), organisasi kemasyarakatan terbesar di negeri ini, pernah memberikan legitimasi bahwa NKRI sudah merupakan bentuk final bagi bagsa Indonesia. Keberadaan NKRI tidak perlu diutak-atik, bahkan tidak perlu ditafsirkan bermacam-macam. Islam dan NKRI sudah senapas dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Realitas seperti ini sesungguhnya wujud nyata ukhuwah wathaniyah. Keberadaan ukhuwah wathaniyah harus dipertahankan dan harus selalu dipupuk.

Namun, demikiann masih banyak kita temui terjadinys konflik antar sesama meski relatif dapat diredam . Konflik terjadi baik karena perbedaan suku, ras, agama, dan lain sebagainya. Hal ini karena kurangnya toleransi untuk saling menghormati perbedaan. Selain itu juga kurangnya komunikasi untuk dapat saling memahami satu sama lain sehingga dapat hidup berdampingan.

Kasus-kasus kerusuhan antar suku, antar agama, ataupun antar masyarakat di suatu lingkungan, karena masalah-masalah yang sederhana yang tidak dikomunikasikan dengan baik. Hal ini tentu dapat diminimalisasi jika telah terbangun kesadaran untuk merawat ukhuwah wathaniyah mulai dari lingkup kecil hingga yang besar sebagai suatu bangsa.

Kesimpulannya, pada praktiknya, ukhuwah wathaniyah telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dalam bentuk piagam Madinah. Piagam Madinah menjadi contoh wujud ukhuwah wathaniyah yang terjadi pada masa Rasulullah saw. Episode itu terjadi ketika Rasulullah hijrah ke Madinah. Sedangkan di Madinah sendiri penduduknya terdiri dari berbagai suku bangsa, juga berbagai agama seperti Islam, Nasrani, Yahudi, hingga sisa-sisa kaum Musyrik. Untuk itu perlulah dirumuskan seperangkat aturan yang mengatur agar masyarakat Madinah hidup rukun dan damai.

Akhirnya dirumuskanlah sebuah naskah yang dikenal dengan Piagam Madinah yang terdiri dari beberapa poin yang intinya mengandung jaminan keamanan bagi seluruh masyarakat untuk beribadah dan beraktivitas sesuai dengan prinsip yang dianutnya selama tidak berbuat zalim terhadap pihak lainnya. Sejak dulu, konsep ukhuwah wathaniyah tetap dipertahankan dalam dunia Islam di berbagai tempat dan melalui berbagai zaman hingga hari ini.

Marilah kita cintai NKRI ini seperti kecintaan kepada diri kita sendiri, karena mencintai negara itu sebagian dari iman. Begitulah bunyi salah satu hadis atau kamaa qoola. Dan piagam Madinah itu merupakan wujud cinta Nabi kepada Madinah sehingga kalau ada yang melanggar dan menganggagu pasti ditindak oleh Nabi SAW. Wallahu a’lam Bisshowab. (Lutfi Sy)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00