Berlomba Meraih Ampunan dan Taqwa

Mutiara Alquran
Foto: 
Ilustrasi

Berlomba Meraih Ampunan dan Taqwa

Pada Mulanya adalah Firman; Mutiara Hikmah Surah Ali Imran ayat 133-134

 

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ()

 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ()

Artinya: “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa,. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Dalam ayat ini Allah memerintahkan hambanya untuk segera memohon ampunan atas segala dosa yang disengaja atau yang tidak. Ayat ini meggambarkan bahwa manusia itu tidak akan pernah lepas dari kesalahan dan dosa. Namun yang penting bagi Allah bukanlah manusia yang selalu terjerumus pada dosa tapi terletak pada bagaimana seseorang ketika berbuat dosa ia segera bertobat dan mohon ampun atas segala dosa yang telah dilakukannya. Allah tidak perduli dosa hamba itu sebesar gunung dan sedalam lautan jika ia mau bertobat dan menyesal, Allah akan mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Surga pada ayat ini digambarkan seluas langit dan bumi dan diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa. Luas langit dan bumi tidak bisa diukur oleh jangkauan manusia. Abu Muslim menandaskan bahwa ukuran langit dan bumi memberikan gambaran bahwa surga itu tidak bisa diukur oleh jangkauan manusia. Luasnya tidak terbatas, ni’matnya tiada terhingga.

Dalam riwayat Ahmad, seperti dikutip oleh Ibnu katsir dalam tafsirnya, mengatakan bahwa Raja Heraklius menanggapi ayat ini dengan mengirim surat yang isinya bertanya kepada Baginda Nabi Muhammad SAW: anda mengajak ku untuk menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, kalau begitu di mana adanya neraka? Rasul SAW menjawab: kalau waktu malam tiba, lalu kemana perginya siang?.

Soal jawab tersebut kelihatan sekali kecanggihan jawaban Nabi. Rasul SAW tahu bahwa pertanyaan Heraklius itu hanya untuk menguji, maka dijawab dengan pertanyaan yang menguji balik. Pertanyaan tentang di mana letaknya neraka, kalau surga seluas langit dan bumi, seperti bertanya tentang di mana letaknya siang tatkala malam tiba. Bukankah siang dan malam itu tidak sama? Oleh karena itu tak perlu timbul tanda tanya tentang luasnya surga yang melebihi langit dan bumi. Surga berada bukan di langit atau di bumi.

Perkataan u’iddat/ disediakan menggunakan kata kerja lampau memberi isyarat makna kepastian bahwa surga itu benar-benar disediakan untuk orang yang bertaqwa, dan surga telah tersedia sejak diciptakan langit dan bumi. Surga yang luas itu sudah disediakan bagi orang yang bertaqwa. Kalimat ini juga memberi isyarat bahwa untuk mencapai maghfirah dan surga, mesti segera bertobat dan menempuh jalan taqwa supaya menjadi muttaqin.

Seperti dalam hadis riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Jabir bin Abdullah berkata; bahwa Rasul SAW pernah berkhuthbah yang menyerukan: Wahai manusia, taubatlah kepada Allah sebelum mati. Bersegeralah amal shalih sebelum disibukkan. Jalinlah hubungan baik antaramu dan Tuhanmu dengan dzikir dan banyak bersedekah, baik dengan cara rahasia ataupun terang-terangan, niscaya kamu mendapat rejeki, mendapat pertolongan dan diberi kecukupan.

Menurut Abu al-Su’ud, awal ayat ini bisa berfungsi sebegai penjelas dari al-Muttaqin, menerangkan sifat orang yang bertaqwa yang mendapat jaminan surga. Namun bisa juga sebagai awal pembicaraan sifat orang yang disebutkan pada kelanjutannya. Orang yang bertaqwa memiliki sifat yang baik, bukan hanya terhadap Allah SWT dengan banyak beribadah ritual, tapi juga dalam sosial, berbuat baik kepada Allah dan pada sesame manusia.

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa ciri dari orang bertaqwa adalah mereka berinfak di jalan Allah, baik di saat sempit maupun luas, pada saat suka maupun duka, menahan amarah dan suka memaafkan kesalahan orang lain. Mutiara hikmah yang dapat kita pahami dari ayat di atas adalah sebagai berikut;

1. (Yunfiquna fissarra wad dharra). Al-Baidlawi menerangkan infaq di sini mengandung arti sepanjang hayat, karena manusia tidak pernah lepas dari dua hal antara suka dan duka, antara kelapangan dan kesempitan. Namun tentu saja infaq yang dikeluarkan juga mengikuti kondisi, besar tatkala kaya, infaq kecil tatkala kekurangan.

Jangan malas berinfaq ketika berkecukupan dan jangan malu pula berinfaq di saat kekurangan meski bernilai kecil. Kualitas infaq bukan diukur dari nilai kecil-besarnya tapi pada keikhlasan yang mendasarinya. Jumlahnya tidak ditentukan dengan berapa nominal, tapi pada apa yang dapat ia sisihkan dari apa yang dimiliki. Dengan demikian, orang kaya maupun miskin, pasti mampu berinfaq.

2. Sedangkan makna (wal-Kaadzimiina) ialah orang yang menahan amarah tatkala dicaci atau dizalimi, padahal dia memiliki kekuasaan untuk memarahinya. Rasul SAW bersabda; “Barangsiapa yang menahan amarah, padahal dia memiliki kekuatan untuk memarahinya, maka Allah akan memanggilnya di hari kiamat sebagai pembesar makhluq sehingga dipilihkan baginya para bidarari yang diinginkannya”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan al-Turmidzi).

Jadi, yang memiliki derajat tinggi itu adalah orang yang menahan marah ketika ia mampu melampiaskan amarahnya. Kalau menahan marah, karena tidak bisa marah, bukanlah sesuatu yang diunggulkan. Menahan amarah lebih mengarah pada pengendalian diri dalam berucap, sikap dan tindakan.

Dalam riwayat lain dari Bukhori dan Muslim menyatakan bahwa Rasul bersabda; “Orang kuat, bukanlah orang yang mampu menaklukkan orang lain dengan ototnya, tapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikian dirinya tatkala marah”. Orang yang mampu menahan amarah belum tentu bebas dari rasa sakit hati, bahkan dendam tapi kalau ia mampu menahan dendam dan amarahnya maka hal itu lebih baik baginya".

3. (wal ‘Afiina ‘anin-Naas). Seorang mu`min yang baik, bukan hanya menahan amarah, tapi mampu memaafkan orang yang bersalah, sebagaimana mana ditegaskan pada ayat di atas. Memberi maaf paling berat pada manusia yang berdosa, adalah tatkala marah. Oleh karena itu, sifat mu`min yang baik, bukan hanya mampu menahan amarah, tapi juga memberi maaf ketika marah.

Allah SWT memuji orang yang pemaaf sebagai manusia yang memiliki derajat tinggi sebagaimana dalam surah As-Syura ayat 37; “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi ma`af”.

Menurut al-Baydhawi, memaafkan manusia yang paling utama adalah pada orang yang berbuat salah, meskipun ia sebenarnya berhak untuk menghukum atau membalas kesalahannya. Bagi orang yang mudah memaafkan orang lain, maka ampunan Allah akan tercurah pada mereka.

Ayat ini bukan berarti melarang malawan atau membalas kezhaliman, tapi lebih daripada itu menganjurkan bahwa memaafkan itu lebih baik dan utama daripada membalas atau berlaku serupa dengannya. Karena memaafkan itu bagian dari kesabaran. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman dalam surah An-Nahl ayat 126 yang berbunyi:

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar”.

Allah SWT sangat mencintai orang yang bertaqwa dan berbuat kebaikan (muhsin). Jika taqwa mengacu pada menyegerakan taubat karena takut kepada Allah maka muhsin mengarah pada berbuat baik pada sesama manusia. Namun bisa juga kata muhsin ini menyangkut keduanya yaitu, kewajiban berbuat baik kepada Allah dan kepada manusia seperti digambarkan ayat di atas.

Wujud Ihsan kepada Allah SWT telah disabdakan Rasul SAW ketika mendapat pertanyaan dari Malaikat Jibril yakni: “Ihsan ialah menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”.

Dengan demikian, ciri-ciri orang bertaqwa atau muhsin pada dua ayat ini adalah di samping berbuat baik kepada Allah dalam bentuk mematuhi perintah dan larangan juga anjuran bebuat baik pada sesama dalam bentuk infaq, menahan marah, dan memaafkan orang lain (sabar). (eLut NM). 

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00