Berkah Memaafkan Kesalahan

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Berkah Memaafkan Kesalahan

Nusantaramengaji.com - Dalam surat Al A’raf ayat 199. Allah SWT berfirman

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”.

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi menjadi seorang pemaaf dan tidak perlu memperdulikan orang-orang bodoh yang dapat menghambat dakwahnya. Inti dari ayat ini adalah mengajarkan kepada kita semua untuk menjadi seorang pemaaf seberapa besar pun kesalahan orang lain terhadap kita. Karena dalam proses untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik, seseorang tidak akan pernah luput dari kesalahan. Hal itu merupakan hal yang wajar, karena tidak akan ada manusia yang sempurna luput dari kesalahan. Kita sebagai manusia juga harus bisa untuk memaafkan kesalahan orang lain. Sikap memaafkan ini adalah sifat mulia yang harus dipupuk secara terus menerus. Ia membutuhkan latihan batin yang ajeg dan kuat.

Alasan orang sulit memaafkan biasanya adalah karena hal tersebut sudah melukai hati yang paling dalam. Tetapi sebesar apapun kesalahan tersebut, kita sebagai manusia harus mampu untuk memaafkannya. Karena dengan begitu kita bisa terhindar dari bahaya tidak memaafkan, yaitu menghancurkan rantai dendam dalam diri dan melangkah menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Bahkan dalam agama islam sendiripun memaafkan adalah hal yang sangat dianjurkan, diterangkan dalam ayat al-qur’an dan hadits bahwa ketika manusia memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain. Allah akan memberikan kepadanya ketenangan jiwa dan kekuatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam beberap hadisnya Rasulullah SAW juga sangat menganjurkan untuk mudah memaafkan kesalahan orang lain. Di antaranya adalah;

“Tidak halal apabila seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Apabila telah lewat waktu tiga hari tersebut maka berbicaralah dengannya dan beri salam. Jika ia menjawab salam maka keduanya akan mendapat pahala dan jika ia tidak membalasnya maka sungguhlah dia kembali dengan membawa dosanya, sementara orang yang memberi salah akan keluar dari dosa.”(HR. Muslim).

“Pintu-pintu surga akan dibukakan pada hari Senin dan Kamis, lalu Allah akan memberi ampunan kepada siapapun yang tidak menyekutukan-Nya kecuali seorang laki-laki yang berpisah dengan saudaranya. Maka Allah berkata: tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga ia berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai.” (HR. Muslim)

“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; Tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.”(HR. Thabrani)

Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa kekuatan memaafkan itu sangat luar biasa dan besar pahalanya di sisi Allah. Karena sikap memaafkan tidaklah mudah dan butuh latihan batin yang sangat kuat. Memaafkan ini merupakan salah satu sifat Rasulullah yang agung sehingga memang tidak mudah mencapainya.

Bahkan, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memaafkan orang-orang musyrik atas tindakan mereka menyakiti dan mendustakan beliau.  Sebab, Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang berbuat kebajikan dan memaafkan. Seperti dalam firmanNya dalam surah As- Syuura ayat 43 yang artinya; ''Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.'' .

Menurut Syekh Mahmud al-Mishri dalam kitab mausu'ah min Akhlaqir-Rasul, memaafkan adalah pintu terbesar menuju terciptanya rasa saling mencintai di antara sesama manusia. ''Jika orang lain mencerca kita, sebaiknya kita membalasnya dengan memberi maaf dan perkataan yang baik,'' ungkap Syekh al-Mishri.

Begitu juga ketika seorang berbuat jahat kepada kita, papar Syekh al-Mishri, seharusnya kita membalas dengan berbuat baik kepadanya.  Menurut dia, Allah SWT akan selalu memberikan pertolongan kepada kita selama memiliki sifat memaafkan dan kebaikan. Memaafkan adalah ciri orang-orang yang baik.

Allah SWT juga berfirman dalam surat  asy-Syuraa ayat 40, ''Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah''. Demikian tentang berkah memaafkan kesalahan orang lain. Wallahu A’lam bisshowab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00