Beragama Di Tepi Jurang

Mutiara Alquran
Foto: 
Ilustrasi

Beragama Di Tepi Jurang

Nusantaramengaji.com - Allah berfirman dalam surah Al haj ayat 11

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Artinya: Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

Menurut Ibnu Kastir. Yang dimaksud dengan 'ala harfin adalah keraguan, jadi jika menyembah Allah jangan dilaksanakan atas rasa ragu. Menurut yang lainnya, maksud dari 'ala harfin adalah 'ala torfin atau pingirnya saja. Maksudnya, dia masuk agama islam hanya di pinggirnya saja, jika dia menemukan yang disukai didalamnya maka dia akan terus disana dan jika tidak maka dia akan keluar.

Dari ibnu abbas mengenai ayat " Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah ala harfin ", berkata : ada seorang lelaki yang mendatangi madinah, jika istrinya melahirkan anak dan kudanya beranak maka dia berkata :"ini adalah agama yang bagus ", dan jika istri dan kudanya tidak beranak dia berkata :" ini agama yg buruk " (HR Bukhori).

Dalam kitab tafsir al qurtuby dijelaskan ada beberapa makna dari 'alaa harfin ini :

1. 'Ala harfin maksudnya keraguan sebagaimana pendapat mujahid dan selainnya.

2. Pada hakekatnya bahwa dia lemah dalam beribadah sebagaimana lemahnya orang yang berdiri di tepi yang bergonjang, jadi maksud ala harfin disini adalah tepi/pinggir.

3. Ada yang berpendapat ala harfin maksudnya cuma satu saja, yaitu dia beribadah kepada Allah ketika lapang saja, dan ketika susah dia tidak mau beribadah, padahal jika dia beribadah dengan cara syukur ketika lapang dan sabar ketika susah maka dia tidak termasuk beribadah kepada Allah ala harfin.

4. Waqila ala harfin maksudnya ala syartin, yaitu mau beribadah kepada Allah tapi ada syaratnya, sebagaimana kisah syaibah bin robi'ah yang berkata kepada Nabi shollallohu alaihi wasallam : " doakan aku kepada Tuhanmu agar meberi rizki harta, onta, kuda dan anak hingga aku mau beriman kepadamu dan pindah masuk agamamu ". Kemudian Nabi mendoakannya kemudian Allah azza wajalla memberikan harapannya, lalu Allah hendak mengujinya dengan mengambil semua rizki yang diberikan-Nya setelah masuk islam, kahirnya dia murtad dari islam. Kemudian Allah menurunkan ayat tersebut.

5. Menurut Al Hasan, ala harfin maksudnya adalah orang munafiq yang menyembah Allah dengan lisannya bukan dengan hatinya. Secara umum orang orang yang menyembah kepada Allah ala harfin tidaklah masuk secara keseluruhan, karena jika dia mendapat kebaikan misalnya badan yang sehat, penghidupan yang nyaman maka dia ridlo dan menetapi agamanya, namun jika dia mendapat fitnah maksudnya yang bertentangan dengan yang disebut sebelumnya yaitu cobaan cobaan dari Allah maka dia berpaling dan murtad yaitu kembali pada keadaan sebelumnya yaitu kekufuran.

Intinya, ayat di atas mengajarkan kita dalam mejalani kehidupan Islam janganlah sesuka hati sendiri. Di dalamnya sudah ada seperangkat aturan yang dapat menyelamatkan dan yang mencelakakan. Syariah ada sebagai petunjuk suapaya manusia selamat di dunia dan di akherat. Menyembah Allah bukan karena factor kesenangan dan kepentingan diri sendiri tapi semata lebih pada mengabdi dan menyembahnya dengan Ikhlas. Wallahu a’lam bisshowab.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00