Belajar Struktur AlQuran (Bagian-I)

Oleh: H. Ziyad Ulhaq., SQ., MA (Kandidat Doktor Tafsir IIUM (Internasional Islamic University Malaysia)

Salah satu sisi Alquran yang jarang diperbincangkan para ulama zaman dahulu bahkan di era sahabat adalah struktur Alquran. Bisa jadi karena situasi dan kondisi yang belum memungkinkan untuk mendiskusikan hal tersebut. Tenaga dan pikiran para sahabat Nabi saat itu masih terpusat pada perjuangan mempertahankan diri dari serangan musuh Islam dan mendakwahkan Islam ke segenap penjuru dunia. Jangankan bicara struktur Alquran di era sahabat, tulisan (rasm) Alquran saja masih sangat terbatas, hanya sahabat ahli Alquran yang dapat membacanya. Demikian juga perkembangan ilmu lainnya. Hadis saja, sebagai induk semua disiplin ilmu Islam, baru dikodifikasikan sekitar 200 tahun sesudah Nabi saw wafat, meski secara tatbiiqy (penerapannya) telah ada. Tentu, bicara struktur Alquran, di benak kita pasti akan muncul pertanyaan, benarkah Alquran memiliki struktur? Namun sebelum menjawab pertanyaan ini, kita musti mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan struktur. Merujuk kamus besar bahasa Indonesia, struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun; susunan, bangunan atau pengaturan unsur-unsur dari suatu objek atau benda. Dengan kata lain struktur yaitu yang disusun dengan pola tertentu. Sehingga, struktur Alquran adalah pola tertentu yang menghubungkan unsur-unsur dalam Alquran sehingga tersusun dan membentuk suatu pengertian, Alquran itu sendiri. Kembali ke pertanyaan di atas, ada dua pendekatan untuk menjelaskan nya. Pertama, pendekatan makna. Nabi telah mengisyaratkan hal itu melalui tafsir al ay bil ay (menafsirkan ayat dengan ayat Alquran sendiri) . Beliau menegaskan bahwa ayat Alquran tak dapat berdiri sendiri, ia terikat dengan ayat lainnya baik dalam satu surah ataupun di lain surah, demikian halnya dengan variable lainnya. Sebagai contoh, ketika Nabi menafsirkan ayat QS. Al An’am (6) 82 mengenai pengertian dzulm pada ayat berikut: Maka Nabi menjawabnya dengan menyebutkan ayat yang sesungguhnya merupakan satu rangkaian dari ayat tersebut namun berada di surah lainnya, yakni QS. Luqman (31) ayat 13 yang menjelaskan maksud dari kata dzulm pada ayat sebelumnya Padahal, kedua surah ke-6 dan ke-31 tersebut selisih banyak, baik dari waktu turunnya maupun jarak urutannya dalam tertib mushaf. Bila korelasi ini dihubungkan dengan garis yang menghubungkan antara satu ayat dengan ayat lainnya, niscaya akan membentuk suatu pola yang menggambarkan satu konstruksi. Ini baru satu unsur saja, ayat, belum yang lainnya. Hal ini membuktikan bahwa Alquran memiliki suatu sistem atau korelasi yang merupakan indikasi kuat keberadaan suatu struktur di dalamnya. Secara detail, pendekatan ini dibahas dalam bidang ilmu korelasi (munasabah) Alquran. Nah, rubrik ini tak membahas struktur dari pendekatan ini namun hanya akan fokus membahas pendekatan yang kedua, yakni pendekatan angka. Kedua, pendekatan simbol atau angka. Dengan menggunakan versi perhitungan kufy, misalnya QS. Al Hijr (15) jumlah ayatnya 99. Angka 15 merupakan angka pertengahan juz dari total 30 juz. Nah, bila kita jumlahkan  urutan surah dan jumlah ayatnya maka akan kita dapatkan 114 yang merupakan total jumlah surah Alquran. Lihat Ilustrasi: Ini salah satu contoh indikator dari sisi bilangan bahwa Alquran memiliki suatu sistem korelasi antar unsur yang merupakan indikasi kuat adanya suatu struktur. Seperti kita ketahui bersama, Alquran terdiri dari beberapa unsur, baik yang bersifat Tauqify seperti surah sebagai unsur yang terbesar, ayat, kalimat dan huruf dan juga yang bersifat Ijtihaady. Dengan kata lain, AlQuran merupakan kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang terdiri dari gabungan unsur-unsur tersebut. Ada beberapa indikator kuat lainnya mengenai keberadaan struktur Alquran ini, diantaranya ;

  1. Ayat yang pertama kali diturunkan adalah ayat 1-5 dari surah Al ‘alaq. Harusnya, yang pertamakali diturunkan ditempatkan pada urutan surat yang pertama dalam mushaf. Nyatanya,  Alfatihah yang turun jauh setelah surah Al’alaq justru ditempatkan pada urutan pertama. Demikian juga dengan surah-surah lainnya. Singkat kata, Alquran yang diturunkan kepada Nabi saw dan dituliskan pada mushaf tidak disusun berdasarkan tartiibun nuzuul (urutan diturunkan) melainkan berdasar satu urutan pola struktur misterius  yang menjadi tugas kita untuk mengkajinya.

 

  1. Ada beberapa data menarik terkait dengan korelasi angka antara nomor surah dan jumlah ayatnya (versi kufy) yang bila dijumlahkan akan menghasilkan angka 114.

Versi satu tingkat : a. Azzumar, surah ke 39 dalam Alquran dengan jumlah ayat 75. Bila dijumlahkan maka 39 + 75 = 114. b. QS. Alma’arij surah ke 70 dengan jumlah ayat 44, bila kita jumlahkan 70 + 44 = 114. c. Alghasyiah yang merupakan surah ke 88 dengan jumlah ayat 26, bila kita jumlahkan maka akan kita dapatkan angka 114. d. Alma’un (107) dengan jumlah ayat 7, bila dijumlahkan maka akan kita dapatkan 107+7=114. Versi dua tingkat : a. Addahr (76) dengan jumlah ayat 31, bila kita jumlahkan maka akan kita dapatkan 76+31=107, 107+7=114. b. Annur surah ke 24 dengan jumlah ayatnya 64, bila dijumlahkan maka akan didapatkan angka 88 (surah Al Ghasyiah) yang ayatnya berjumlah 26 dan bila dijumlahkan kembali hasilnya 114. Versi tiga tingkat; Muhammad (47) dengan jumlah ayat 38, bila kita jumlahkan nomor surah dan jumlah ayat akan kita dapatkan 47+38=85, 85+22= 107, 107+7=114 yang merupakan jumlah total surah Alquran. Lihat illustrasi : 3. Muqadimah setiap surah dalam Al Quran diawali oleh Basmallah (lihat illustrasi), kecuali surah At Taubah, berarti seluruhnya ada 113 buah kalimat Basmallah di dalam muqadimah surah. Namun apabila kita perhatikan, QS.27 An Naml ayat 30 mengandung kalimat Basmallah. Ilustrasi 1. Data atau muqoddimah surah. Illustrasi 2. Qs. Basmalah bagian dari surah Qs. An Naml (27) ayat 30. Bersambung...

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00