Belajar Ridha Dari Rabiah Al-Adawiyah

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Belajar Ridha Dari Rabiah Al-Adawiyah

Nusantaramengaji.com - Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang sufi wanita yang nama dan ajaran-ajarannya telah memberi inspirasi bagi para pecinta Ilahi. Rabi’ah adalah seorang sufi legendaries. Sejarah hidupnya banyak diungkap oleh berbagai kalangan, baik di dunia sufi maupun akademisi. Rabi’ah adalah sufi pertama yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi).

Rabi’ah memang tidak mewarisi karya-karya sufistik, termasuk sya’ir-sya’ir Cinta Ilahinya yang kerap ia senandungkan. Namun begitu, Sya’ir-sya’ir sufistiknya justru banyak dikutip oleh para penulis biografi Rabi’ah, antara lain J. Shibt Ibnul Jauzi (w. 1257 M) dengan karyanya Mir’at az-Zaman (Cermin Abad Ini), Ibnu Khallikan (w. 1282 M) dengan karyanya Wafayatul A’yan (Obituari Para Orang Besar), Yafi’I asy-Syafi’i (w. 1367 M) dengan karyanya Raudl ar-Riyahin fi Hikayat ash-Shalihin (Kebun Semerbak dalam Kehidupan Para Orang Saleh), dan Fariduddin Aththar (w. 1230 M) dengan karyanya Tadzkirat al-Auliya’ (Memoar Para Wali).

Di samping dikenal dengan ajaran Mahabbahnya, Rabi’ah juga dikenal dengan kezuhudannya dan memiliki karomah yang tidak sedikit seperti yang diceritakan oleh para ulam di ata, di antaranya adalah kisah sebagai berikut;

Dikisahkan ada dua orang pemuka agama datang mengunjungi Rabi’ah Al-‘Adawiyah dan keduanya merasa lapar.  “Mudah-mudahan Rabi’ah menyuguhkan makanan kepada kita,” kata mereka.  “Makanan yang disuguhkan Rabi’ah pasti diperolehnya secara halal.”

Sesampainya di rumah Rabi’ah ternyata di hadapan mereka telah tersedia serbet dan di atasnya ada dua potong roti.  Melihat hal itu mereka pun merasa sangat gembira.  Tetapi, ketika hendak memakannya, seorang pengemis datang dan Rabi’ah memberikan kedua potong roti itu kepadanya.  Kedua pemuka agama itu sangat kecewa, namun mereka tidak berkata apa-apa.  Tak berapa lama kemudian tibalah seorang pelayan wanita membawa beberapa potong roti yang masih panas.

“Aku diutus majikanku untuk memberikan roti ini kepadamu,” ucapnya.

Setelah dihitung ternyata jumlah roti tersebut adalah delapan belas potong.  Rabi’ah lalu berkata, “Roti ini bukan untukku, kau mungkin salah alamat.”

Si pelayan berusaha untuk meyakinkan Rabi’ah bahwa dia tidak salah alamat, tetapi Rabi’ah tetap bersikeras bahwa roti-roti itu bukan untuknya.  Ia pun membawa roti-roti itu kembali.  Sebenarnya, pelayan itu telah mengambil dua potong roti tersebut.  Ia lalu meminta dua potong roti lagi kepada majikannya dan kemudian mengantarkan keseluruhan roti itu kepada Rabi’ah.  Sekali lagi Rabi’ah menghitungnya.  Setelah yakin bahwa jumlah roti itu dua puluh potong, maka Rabi’ah bersedia untuk menerimanya.  Beliau kemudian berkata, “Majikanku memang telah mengirimkan roti ini untukku.”  Kemudian Rabi’ah menyuguhkan roti-roti tersebut kepada kedua tamunya.

Keduanya lalu menyantap hidangan tersebut dengan keheranan.  “Apakah rahasia dari semua peristiwa yang kami saksikan ini?  Mengapa engkau berikan kedua roti tadi kepada pengemis pada saat kami akan memakannya?  Dan mengapa engkau mengatakan kepada pelayan tersebut bahwa dia mungkin salah alamat dan delapan belas roti itu bukan untukmu?  Dan mengapa setelah dia kembali membawa dua puluh potong roti, engkau menerimanya? tanya mereka kepada Rabi’ah.

“Sewaktu kalian datang aku tahu bahwa kalian sedang lapar.  Dalam hati aku berkata, ‘Tegakah aku menyuguhkan dua potong roti kepada dua tamu terhormat ini?’  Itulah sebabnya mengapa ketika si pengemis tadi datang, aku segera memberikan dua potong roti itu kepadanya.  Aku berkata kepada Allah yang Maha Besar, ‘Ya Allah, Engkau telah berjanji bahwa untuk setiap kebaikan minimal akan Kau balas sepuluh kali lipat.  Dan aku sangat percaya akan janji-Mu.  Kini telah kusedekahkan dua potong roti untuk menyenangkan-Mu, semoga Engkau berkenan untuk memberiku dua puluh potong roti sebagai imbalannya. ‘  Ketika pelayan tersebut datang membawa delapan belas roti, aku yakin bahwa sebagian roti tersebut telah dicuri atau memang roti-roti itu bukan untukku.  Dan setelah dia kembali membawa dua puluh potong roti, maka aku yakin bahwa itu adalah milikku.  Karena itulah kuucapkan, ‘Majikanku (Allah) memang telah mengirimkan roti ini untukku.’

Hidup Rabi’ah memang hanya diperuntukkan untuk Allah dan mengharap Ridha-Nya semata. Kerelaan Rabia’ah dalam meraih Ridha Allah tidak perlu diragukan lagi. Dalam satu kisah misalnya disebutkan, sahabatnya Malik bin Dinar pada suatu waktu mendapati Rabi’ah sedang terbaring sakit di atas tikar tua dan lusuh, serta batu bata sebagai bantal di kepalanya. Melihat pemandangan seperti itu, Malik lalu berkata pada Rabi’ah, “Aku memiliki teman-teman yang kaya dan jika engkau membutuhkan bantuan aku akan meminta kepada mereka.” Rabi’ah mengatakan, “Wahai Malik, engkau salah besar. Bukankah Yang memberi mereka dan aku makan sama?” Malik menjawab, “Ya, memang sama.” Rabi’ah mengatakan, “Apakah Allah akan lupa kepada hamba-Nya yang miskin dikarenakan kemiskinannya dan akankah Dia ingat kepada hamba-Nya yang kaya dikarenakan kekayaannya?” Malik menyahut, “Tidak.” Rabi’ah lalu kembali mengatakan, “Karena Dia mengetahui keadaanku, mengapa aku harus mengingatkan-Nya? Apa yang diinginkan-Nya, kita harus menerimanya.” Allah yarhamha. Amiinn

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00