Bangunlah Ukhuwah,Tinggalkan 'Adawah

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Bangunlah Ukhuwah,Tinggalkan 'Adawah

Nusantaramengaji.com - Sebagai sesama manusia yang diciptakan Allah, kita memiliki hubungan yang disebut dengan ukhuwah basyariyah. Persaudaraan sesama manusia ini dimaksudkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan tanpa melihat ras, suku dan agamanya. Sedangkan kita sebagai sesama manusia beriman dan berislam maka kita mempunyai ikatan yang disebut dengan ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah Islamiyah ini menjadi tolak ukur keberhasilan Islam dalam masa-masa awal.

Munculnya persaudaraan kaum muhajirin dan Anshor pada peristiwa hijrah mencerminkan ketikhlasan dan ketulusan di antara saudara seiman dan timbulnya kasih-sayang sampai mendahulukan saudaranya daripada kepentingan dirinya menunjukkan bahwa agama islam sangat menkankan pada cinta kasih dan senasib dan sependeritaan baik di waktu senang maupun di waktu susah. Bahkan ada sebagian dari saudara Anshor yang rela menyerahkan sebagian harta dan istrinya terhadap saudaranya dari kalangan Muhajirin.

Hal tersebut Allah SWT gambarkan dalam dalam surah Al Hasyr ayat 9 sebagai berikut;

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”.

Ukhuwah Islamiyah yang terbangun sejak masa Nabi kemudian menjadi tonggak bersatunya umat islam dalam barisan dakwah amar ma’ruf - nahi mungkar. Lalu Islam berkembang dan semakin kokoh menyebar ke seluruh dunia. Betapa pentingnya Ukhuwah Islamiyah ini sampai Nabi seringkali bersabda dalam banyak hadisnya untuk selalu bersatu dan saling tolong menolong di antara umat islam.

Diantaranya adalah hadis dari Nu’man bin Basyir bahwasanya Nabi SAW bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam”.

Dalam hadis tersebut Rasul menggambrakan bagaimana seharusnya persaudaraan antara umat Islam. Jika satu/sekalompok umat Islam merasakan derita maka saudarnya yang lain akan merasakan sakit. Ia seperti satu tubuh yang secara otomatis mersakan sakit pula begitu sebaliknya jika bergembira maka yang lainnya juga ikut bergembira. Hadis ini mengandung filosofi mendalam dalam arti menghilangkan kepentingan diri itu lebih diutamakan daripada memenuhinya demi kebaikan saudaranya yang lain. Inilah tujuan umu dari sabda nabi lainnya yang mengatakan bahwa sebail-baik manusia itu adalah yang memberi manfaat kepada manusia lainnya.

Persaudaraan yang dibangun atas nama Allah dan Rasulnya janganlah dinodai dengan perselisihan paham dan pertikaian yang tidak ada gunanya. Cukuplah Allah dan rasulnya menjadi saksi keikhlasan dan ketulusan kita dalam menolong dan menjaga kesatuan umat islam tanpa didorong oleh pamrih apapun.

Membuat saudaranya bahagia merupakan keutamaan sedangakan membuatnya sedih merupakan kesalahan. Keimanan yang sempurna ditunjukkan dalam bentuk menyanyangi saudaranya dan tidak membuatnya terganggu atau menderita. Hal tersebut bisa terjadi apapbila hatinya bersih dari hawa nafsu iri hati dan kedengkian. kedengkian membuat pelakunya tidak mau diungguli oleh siapa dan merasa marah jika ada yang menyainginya.

Dalam salah satu hadisnya Riwayat Bukhori-Muslim dari Abu hamzah, Anas bin Malik r.a  Nabi SAW mengatakan;

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”.

Kesempurnaan iman yng dimaksud di sini adalah puncak keimanan yang diwujudkan dalam bentuk nyata berupa berbuat kebaikan bagi sesama muslim. Tidak dianggap sempurna iman seseorang jika ia masih suka menyakiti dan mengganggu saudaranya yang lain. Karena ia belum merasakan betapa tidaknya enaknya disakiti dan diganggu sehingga ia cenderung egois, sombong dan meremehkan orang lain. Padahal sabda Rasul menyakiti saudaranya pada hakekatnya dia telah menyakiti dirinya sendiri. Dengan kata lain, kelak ia akan mendpat akibat dari apa yang telah diperbuatnya terhadap orang lain.

Dengan demikian, mempererat ukuwah Islamiyah dengan menanamkan kebaikan merupakan kewajiban setiap muslim. Sebaliknya meninggalkan permusuhan adalah sebuah keharusan. Melanggarnya berarti ia telah mengabaikan firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 103 berikut ini;

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Imam Al Qurthubi berkata dalam tafsirnya Al-Jami’ Li-Ahkamil Qur’an, tentang tafsir ayat ini; “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasaan dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan. Selanjutnya beliau mengatakan pula, “Maka Allah Ta’ala mewajibkan kita berpegang kepada kitabNya dan Sunnah NabiNya, serta -ketika berselisih- kembali kepada keduanya. Dan memerintahkan kita bersatu di atas landasan Al Kitab dan As Sunnah, baik dalam keyakinan dan perbuatan. Hal itu merupakan sebab persatuan kalimat dan tersusunnya perpecahan (menjadi persatuan), yang dengannya mashlahat-mashlahat dunia dan agama menjadi sempurna, dan selamat dari perselisihan. Dan Allah memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan yang telah terjadi pada kedua ahli kitab”.

Oleh karena itu, ditengah perpecahan umat islam yang terjadi saat ini, kembali kepada firman Allah dan Sabda rasulnya merupakan sebuah kewajiban. Setiap paham dan kepentingan yang dapat merusak rasa persatuan sudah seharusnya ditinggalkan. Orang mukmin yang memahami betul pentingnya Ukhuwah Islamiyah ini selayaknya meninggalkan permusuhan dan mendahulukan persaudaraan dan persatuan.

Hal tersebut, memang tidaklah mudah karena membutuhkan kebersihan batin berupa keikhlasan, ketulusan serta sikap tawadhu’ di antara kaum muslimin. Tanpa sikap seperti ini umat islam akan selalu terpuruk dalam perselisihan dan pertikaian yang tak berkesudahan seperti yang tejadi saat ini. Padahal kita dianggap umat beriman yang terbaik yang menganjurkan kebaikan dan menahan diri dari perbuatan mungkar tapi realitanya malah terbalik terlibat perselisiahn dan permusuhan.

Di saat umat-umat lain berlomba-lomba membangun negeri dan agamanya, kita umat islam justru berlomba-lomba dalam perselisihan dan permusuhan. Sungguh sebuah ironi jika kita masih mendahulukan sikap nafsiyah daripada sikap ukhuwah yang sudah jelas-jelas diperintahkan Allah dan rasulnya. Demi kemajuan Islam, Marilah kita bangun ukhuwah dan tinggalkan ‘adawah (permusuhan). wallahu A'lam Bisshowab. (lutfi Sy)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00