Bahaya Berpanjang Angan

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Bahaya Berpanjang Angan

Nusantaramengaji.com - Thulul Amal atau Panjang Angan-Angan berasal dari bahasa Arab. Al-amal (pakai alif) maknanya adalah  Ar-raja’ yaitu harapan atau angan-angan. Amal  (angan-angan) adalah apa yang diharapkan oleh jiwa dari sesuatu yang  dicintai seperti umur panjang, menginginkan kekayaan, (dan lain-lain).  Dikatakan juga bahwa angan- angan (khayalan) adalah kehendak seseorang  untuk memperoleh sesuatu yang mungkin untuk didapatkannya, dan apabila  hal itu telah berlalu maka ia masih tetap saja mengharapkannya.

Jadi  thulul amal merupakan suatu harapan terhadap suatu hal yang berkaitan  dengan kehidupan kita di dunia ini, seperti angan-angan untuk menjadi  orang yang terkenal, angan-angan supaya menjadi orang yang kaya,  angan-angan supaya mendapatkan orang yang kita cintai padahal orang yang  kita harapkan itu notabene adalah orang yang jauh dari Allah, dan  setumpuk angan-angan dan khayalan-khayalan yang lain yang berkisar tentang dunia yang menyebabkan kita tidak sempat lagi untuk memikirkan  bagaimana azab Allah, bagaimana balasan yang diberikan oleh Allah kepada perbuatan yang kita lakukan.

Para ulama salaf sangat memperhatikan betul masalah thulul amal ini. Meraka sangat mewanti-wanti betul akan bahaya Panjang Angan ini sampai-sampai mereka  tidak pernah lupa menuliskan dan mengingatkan dalam kitab-kitab mereka.  Di antaranya  adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Imam AI-Bukhari. Beliau  membuat bab khusus dalam kitab shahihnya tentang hal ini yaitu ”Bab  Tentang Angan-Angan dan Panjang Angan-Angan”, kemudian setelah itu  beliau menyebutkan beberapa ayat yang berkenaan tentang thulul amal!.

Anas  bin Malik berkata: ”Empat hal yang termasuk bagian dari kecelakaan  yaitu mata yang banyak memandang (tidak ghadhul bashar) dan terlalu  menginginkan dunia…………”

Yahya bin Mu’adz berkata:”Hal  yang menyebabkan manusia enggan untuk bertaubat adalah panjang  angan-angan, tanda-tanda orang yang bertaubat adalah banyak menangis,  senang untuk selalu berkhalwat dengan Allah dan menjadikan muhasabah  sebagai sesuatu yang dipentingkannya”.

Dampak Negatif dari Thulul Amal Menurut Imam Al Ghazali dan Cara Penyembuhannya

Imam  AI-Ghazali menyebutkan bahwa jika kita sudah terjerumus dalam thulul  amal/ panjang angan-angan ini maka ada 4 hal yang akan kita rasakan  sebagai akibat dari adanya thulul amal yang ada dalam hati kita, 4 hal  itu yaitu:

1. Meninggalkan ketaatan, (dan kalaupun  ia mengerjakannya) maka ia akan bermalas-malasan dalam ketaatan  tersebut. Ia akan mengatakan: “Aku akan mengerjakannya besok” padahal  hal itu telah berada di depan matanya.

2.  Meninggalkan taubat, atau dia hanya sekedar menangguhkannya. Ia  mengatakan: “Aku akan bertaubat, hari-hariku masih panjang, aku masih  muda, aku masih kuat untuk melakukannya pada masa yang akan dating”.

3.  Cinta yang berlebihan terhadap harta dan menyibukkan diri terhadap  dunia (hingga ia melupakan) akhirat. Ia berkata: “Aku takut jika pada  masa tua aku dalam kadaan miskin dan aku sudah tidak sanggup lagi untuk  berusaha. Maka aku harus menyimpan hartaku untuk masa tuaku, atau untuk  hari ketika aku sakit nanti, atau untuk hari ketika aku ditimpa  kemiskinan”. Hal itu menyebabkan ia mencintai dunia dan rakus  terhadapnya dan ia selalu memikirkan untuk mencari rizki saja tanpa  memperhatikan urusan setelah kematian.

4.  Mengeraskan hati yang menjadikan kita lupa kepada alam akhirat. Maka  jika kita thulul amal panjang angan-angan berarti kita berfikir bahwa  hidup kita akan lama (beumur panjang), dan hal itu menyebabkan kita  tidak ingat terhadap kematian dan melupakan alam kubur.

Penyembuhan penyakit Thulul Amal

1.  Niat yang ikhlas dalam beramal disertai azam (tekad) yang teguh dan  kokoh untuk menghilangkan penyakit itu. Adanya azam ini akan menjadikan  kita mudah melangkah dan semakin memotivasi kita untuk melakukannya.  Ketika hal ini telah tertanam janganlah  kita merasa tidak mampu untuk melakuknnya. Karena dengan kita merasa  tidak mampu berarti kita telah memberikan peluang kepada syaithan untuk  maasuk kedalam hati kita.

2. Mengingat kematian dan  alam kubur. Banyak orang merasa takut menghadapi sebuah kematian karena  mereka menganggap itu adalah akhir dari semua kehidupan mereka. Namun  tidak demikian bagi orang mukmin, itulah awal babak baru yang harus  mereka lewati. Ketika kematian terus berada dalam pikiran kita maka  tidak akan ada lagi angan-angan untuk kehidupan yang ada di dunia ini.  Kita akan terus mempersiapakan diri dalam kehidupan ini untuk masa yang  lebih jauh dariyang kita khayalkan didunia.

3.  Mengingat ancaman dan pahala yang dijanjikan oleh Allah, bahwasannya  Allah telah menjanjikan kepada hambaNya sesuai dengan apa yang diperbuat  oleh mereka, dan janji itu adalah pasti adanya. Jika kita terus  mengingatnya dan meyakininya maka kita akan bisa melupakan angan-angan  yang selalu terbayang dalam pikiran kita.

4. Selalu  mengingat akan keadaan di alam akhirat nanti yang mana saat itu yang  bermanfaat hanyalah amal yang kita kerjakan ketika di dunia. Maka  sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ali yaitu hendaklah kita menjadi  “Anak-Anak Akhirat”, yaitu orang yang selalu memikirkan akan kehidupan  akhirat.

5. Berdoa kepada Allah supaya kita  dijauhkan dari penyakit hati thulul amal panjang angan-angan ini,  sebagaimana doa yang dipanjatkan oleh Ma’ruf Al-Kurkhi: “Aku berlindung  kepada Allah dari thu/ulama! karena ia bisa mencegah kita untuk  melakukan amal kebaikan”. Wallahu a’lam.

.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00