Bahaya Berita Hoax

Kolom
Foto: 
ilustrasi

Bahaya Berita Hoax

Nusantaramengaji.com - Tertangkapnya mafia penyebar hoax oleh polisi baru-baru ini sangat mengejutkan publik. Ternyata penyebaran ujaran kebencian dan fitnah di medsos/ masyarakat kita dipelopori oleh setidaknya dua kelompok mafia hoax yang menamakan dirinya SARACEN dan MCA. Tentu kita semua tidak menyangka bahwa ujaran-ujaran kebencian dan permusuhan yang berseliweran di dunia maya selama ini merupakan rekayasa yang sudah diatur dengan sangat rapihnya.

Akibat yang ditimbulkan oleh dua kelompok ini pun cukup terasa hingga saat ini. Meski keduanya telahh ditangkap tapi jejak atau hasil yang mereka lakukan sangat berdampak pada masyarakat. Sekurang-kurangnya masyarakat kita sudah muali terbelah karena perbedaan paham baik agama maupun politik yang berujung pada saling menyalahkan. Fenomena ini tidak boleh dianggap ringan mengingat beberapa negara sudah hancur lebur akibat berita hoax ini. Oleh karena itu, untuk melawan berita hoax ini selayaknya dibiasakan tabayun sebelum memutuskan untuk komentar atau share. 

Seharusnya kita sudah harus belajar tentang berita hoax ini dari kisah Sayidah Aisyah yang menjadi korban hoax pada zaman Nabi SAW. Dua Imam besar di bidang hadis yang kedua kitabnya secara validitas dan akurasi berada di bawah Al-Qur’an, yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim mengabadikan dalam kedua kitab beliau tentang berita bohong dan penyebarannya diantara para Sahabat, berita bohong itu namanya adalah Haditsul Ifki. Zaman Now disebut dengan Hoax.Yaitu peristiwa yang dialami oleh Sayidah Aisyah, istri Rasulullah Ummul Mukminin. Dengan tuduhan telah berbuat ‘serong’.

Sayidah Aisyah memulai dengan kronologi yang panjang. Kata beliau bahwa ketika perjalanan pulang dari peperangan Bani Mushtaliq, seperti biasanya Sayidah Aisyah diangkut di atas tumpangan unta yang ada tutupnya (Haudaj). Ketika berhenti di suatu tempat, Sayidah Aisyah turun karena gelangnya terputus, beliau pun mencarinya. Sahabat yang lain mengira beliau ada di tandu unta tadi. Rombongan Rasulullah pun berangkat menuju Madinah dan Sayidah Aisyah tertinggal.

Sayidah Aisyah berdiri di tempat beliau tertinggal, mengharap rombongan tadi kembali menyusulnya. Namun dari arah belakang ada Sahabat Shafwan bin Muathal As-Sulami, yang memiliki kebiasaan berjalan di belakang pasukan Rasulullah untuk menyisir hal-hal yang tertinggal. Kali ini Shafwan menemukan Sayidah Aisyah tertinggal dari rombongan.

Karena saat itu belum turun ayat tentang hijab maka ia mengenali Sayidah Aisyah. Ia pun menyuruh Sayidah Aisyah naik ke untanya dan ia yang menuntun sampai Madinah. Sayidah Aisyah berkata:

ﻭﻭاﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻳﻜﻠﻤﻨﻲ ﻛﻠﻤﺔ ﻭﻻ ﺳﻤﻌﺖ ﻣﻨﻪ ﻛﻠﻤﺔ ﻏﻴﺮ اﺳﺘﺮﺟﺎﻋ

"Demi Allah, Shafwan tidak mengeluarkan sepatah katapun kepadaku dan tidak kudengar apa-apa darinya selain ajakan untuk pulang ke Madinah". (HR Muslim)

Begitu tiba di Madinah langsung heboh, kabar tersiar kemana-mana. Penyebar pertama berita bohong adalah pemimpin kaum Munafikin Abdullah bin Ubay bin Salul. Suasana di Madinah tidak seperti biasanya. Sayidah Aisyah sampai sakit dan minta kepada Nabi agar sementara pulang berkumpul dengan ayahnya, Sayidina Abu Bakar. Wahyu dari Allah pun tak kunjung turun selama sebulan.

Setelah wahyu turun Allah menyatakan bahwa Aisyah suci dan tidak berbuat apa-apa dengan Shafwan. Allah mengawali wahyu tentang kebohongan berita dengan dengan firman-Nya dalam surah An-Nur ayat 11 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga…”

Di akhir ayat ini Allah memberi ancaman kepada penyebar berita bohong:

ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“… Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”

Tidak cukup sampai disana, Allah menegaskan kembali ancaman Azab bagi orang yang senang menyebarkan berita bohong:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَة فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

(An-Nūr: 19) – “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”

Jika Al-Quran memberikan vonis berat pada pelaku dan orang yang senang menyebarkan berita bohong (Hoax), masihkah kita menjadi bagian dari mereka?

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00