Agama Cinta Damai: Sebuah Refleksi

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Agama Cinta Damai: Sebuah Refleksi

Nusantaramengaji.com - Peradaban dunia saat ini di dominasi oleh paham-paham hedonis yang kapitalistik di mana yang mistis terdesak kepinggiran. Orang lebih menyukai kegilaan daripada kewarasan. Agama yang seharusnya menjadi petunjuk arah hidup manusia malah ditinggalkan sehingga tidak heran jika manusia menjadi srigala bagi manusia lainnya. Kita seperti hidup dalam rimba kota dimana yang kuat dialah yang menjadi pemenang. Agama hanya menjadi asesoris dinding rumah supaya tidak terlalu dibilang sekuler atau anti agama.

Padahal agama lahir dan berkembang sebagai bagian dari peradaban manusia. Ia lahir dari rasa kagum sekaligus gentar manusia terhadap segala yang ada, yakni alam dan seisinya. Agama memberikan makna terhadap hidup manusia. Ketika krisis melanda, agama memberikan arah dan penguat harapan.

Sayangnya, agama kini banyak menjadi permainan kekuasaan. Ajaran dan tradisi religius digunakan untuk mengabdi pada kepentingan politik dan ekonomi yang tidak sehat. Akibatnya, agama kini justru menjadi alat pemecah. Ia menjadi ideologi yang keras dan jahat terhadap hal-hal yang berbeda dari dirinya.

Seorang pemikir Jerman, Hank Kueng, pernah menegaskan, bahwa perdamaian dunia hanya mungkin terjadi, jika ada perdamaian antar agama. Ketika agama menjadi pemecah, maka perdamaian dunia tidak akan pernah terwujud.

Tentu saja, ada hal-hal yang bisa dilakukan, supaya itu tidak terjadi. Ada empat hal yang kiranya bisa dilakukan;

Pertama, setiap agama di dunia harus mengembangkan ilmu tafsir kontekstual di dalam memahami dan menerapkan ajarannya. Tafsir kontekstual berarti mampu memahami teks dan ajaran agama sesuai dengan konteks ajaran dan teks itu dibuat, lalu disesuaikan secara kritis dengan keadaan di masa kini yang telah banyak berubah.

Sebuah teks dan ajaran lahir dari keadaan jaman tertentu. Ia tidak bisa diterapkan begitu saja secara harafiah ke jaman sekarang. Maka dari itu, tafsir kontekstual amat penting untuk diterapkan. Penyesuaian dengan keadaan jaman adalah kunci, supaya agama tidak gampang digunakan membenarkan kepentingan ekonomi dan politik licik.

Untuk bisa menafsir, orang perlu menggunakan akal sehat dan pikiran kritisnya. Maka dari itu, agama juga perlu mengajarkan pemeluknya cara-cara untuk mengembangkan akal sehat dan berpikir kritis.

Dua, setiap agama juga perlu memahami dan mengembangkan ajaran sosialnya masing-masing. Ajaran sosial agama selalu merupakan penerapan ajaran-ajaran luhur agama ke dalam konteks hidup bersama. Ia berisi nilai-nilai yang mendorong orang untuk keluar dari kemiskinan dan kebodohan. Ia perlu dirawat, dikembangkan, disebarkan dan diterapkan di dalam hidup sehari-hari orang beragama.

Tiga, setiap agama perlu kembali ke akar mistiknya, yakni akar pengalaman persentuhan dengan “yang transenden”, yang biasa disebut sebagai Tuhan. Ketika masuk ke dalam pengalaman ini, orang menyatu dengan segala sesuatu. Ia tidak melihat lagi orang ataupun mahluk lain sebagai pihak asing, apalagi sebagai musuh. Cinta dan kedamaian yang sejati secara alamiah muncul di dalam hati dan tindakannya. Untuk bisa masuk ke akar mistik ini, orang perlu untuk sungguh mendalami agamanya. Jika hanya terjebak pada permukaan, orang kerap kali jatuh pada salah paham yang mengantarkan pada banyak masalah.

Oleh karena itu, cinta dan kedamaian yang di ajarkan agama jangan sampai tercabik-cabik dimakan rayap nafsu kekuasaan. Ia harus tetap menjadi podasi bagi setiap nilai-nilai dan langkah kita dalam menjalani kehidupan. Kita sedang memasuki masa apa yang disebut Juergen Habermas, pemikir Jerman, sebagai masa pasca sekularisme. Agama memiliki tempat baru untuk menanam dan menyebarkan nilai-nilai luhur peradaban dalam dialog dengan agama-agama ataupun pandangan dunia lainnya. Jangan sampai peran ini terlupakan, dan kita jatuh ke dalam perpecahan, akibat kesempitan berpikir, ataupun pengaruh kepentingan-kepentingan politik ekonomi sesaat.

Contoh terbaru dari kesempitan berfikir pada zaman ini adalah apa yang diucapkan perisiden Amerika Donald Trump, baru-baru ini, tentang para imigran yang membawa pengaruh buruk pada Amerika serta pernyataannya Yerusalem sebagai ibukota Israel. Pernyataan ini jelas merupakan sebuah bentuk kegilaan manusia abad ini. Nilai-nilai luhur agama yang mengajarkan untuk memanusiakan manusia seolah hanya omong kosong bagi Trump dan anehnya orang-orang Amerika memilihnya sebagi orang nomer satu di negeri itu.

Fenomena Trump ini, sengaja penulis singgung sebagai contoh buruk manusia yang tidak memahami agamanya dengan baik. Dia tidak menyadari sikap anti imigran atau anti muslim dapat menimbulkan kekacauan baru bagi dunia. Menyinggung agama dan ras seseorang dapat menghancurkan peradaban yang dibangun secara susuah payah pasca perang dunia II. Agama adalah tentang yang mistis dan transenden yang diyakini penuh oleh seseorang dengan taruhan harta dan nyawa sehingga menyinggungnya sedikit saja dapat membawa pada perang yang tidak berkesudahan. Semoga tidak. Wallahu A’lam Bimurodih.  

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00