Adab Membaca Alquran

Kolom
Foto: 
Ilustrasi

Adab Membaca Alquran

Nusantaramengaji. com - Alquran adalah mu’jizat tertinggi yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai kitab suci tidak sembarang orang boleh meyentuh dan dan membacanya. Maksudnya, ada adab tersendiri bagi orang yang membacanya. Adab tersebut telah diatur dengan baik demi menjaga keagungan dan juga penghormatan terhadap Alquran. Setiap orang yang akan atau tengah membaca Alquran haruslah memperhatikan adab-adab tersebut. Di antara adab-adab yang dimaksud ialah:

1. Dalam Keadaan Berwudhu

Pastikan saat membaca Alquran dalam keadaan berwudhu. Sangat lah baik sebelum membaca Alquran kita dalam keadaan berwudhu atau diawali berwudhu terlebih dahulu, karena kita hendak membaca kitab suci yang agung. Tatkala membaca, mulut pun hendaknya dalam keadaan bersih atau tidak berisi makanan. Lebih baik lagi jika kita menggosok gigi terlebih dahulu.

Namun demikian tidak terlarang hukumnya membaca Alquran dalam keadaan berhadas kecil atau tidak dalam keadaan berwudhu. Imam al-Haramain mengatakan bahwa orang yang membaca Alquran dalam keadaan berhadas kecil, tidak dikatakan melakukan perbuatan makhruh tetapi ia hanya meninggalkan sebuah keutamaan. Tapi mayoritas ulama mewajibkan seseorang untuk berwudhu terlebih dahulu ketika ingin membaca atau memegang Alquran. Hukum kebolehan membaca Alquran dalam keadaan hadas kecil/tidak berwudhu diniati/dianggap dzikir bukan membaca.

Sedangkan yang di haramkan membaca Alquran sedikit atau banyak adalah orang yang berhadas besar, seperti dalam keadaan junub atau haid. Walaupun demikian menurut imam an-Nawawi, boleh melafalkan dengan lidahnya seperti para huffadz yang murajaah dengan di niati dzikir. Boleh juga bagi yang berhadas besar tersebut melihat mushaf dan membacanya dengan hati tanpa menggerakkan lidah.

2. Menghadap ke Kiblat

Disunahkan membaca Alquran di luar shalat dengan menghadap kiblat karena sebaik-baiknya tempat beribadah adalah menghadap kiblat. Seiring dengan itu pembaca Alquran hendaknya duduk dengan tenang, penuh kekhusyuan, dan menundukan kepala pertanda khidmat. Inilah sikap yang paling mulia dan sempurna. Namun demikian, membaca Alquran sambil berdiri, tiduran atau berbaring, tetap dibolehkan dan berpahala. Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘’Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka. (Q.S. 3 Ali ‘Imran: 190-191)

3. Membaca dengan Tartil

Alquran harus dibaca dengan tartil sebagaimana diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surah Al Muzammil ayat 4.

    … Dan bacalah Alquran dengan tartil. (Q.S. Al Muzammil: 4)

Ilmu Tajwid merupakan washilah (perantara) bagi seseorang agar dapat membaca Alquran dengan tartil.

4. Membaca Alquran di Tempat Suci atau Bebas dari Najis

Adab membaca Alquran lainnya yaitu membaca di tempat suci. Disunahkan membaca Alquran di tempat yang suci dan bersih. Dengan kata lain, janganlah membaca Alquran di tempat yang najis, kotor, atau hina. Asy Sya’bi berkata, “Adalah makruh membaca Alquran di tiga tempat: kamar mandi, tempat buang air besar atau kecil, dan tempat penggilingan yang sedang berputar.”

Sedangkan menurut Abu Maisarah, “tidaklah dikatakan mengingat Allah, kecuali ditempat yang baik.” Membaca Alquran di jalanan tidak terlarang asalkan bacaan Alqurannya tidak teganggu atau menjadi kacau. Jika terjadi gangguan atau kekacauan, sebaiknya tidak dilakukan sebagaimana Rasulullah saw. melarang orang yang mengantuk membaca Alquran karena dikawatirkan melakukan kesalahan.

5. Mengawali dengan Membaca Isti’adzah dan Basmalah

Sebelum memulai bacaan, disunahkan membaca isti’adzah dan basmalah terlebih dahulu. Maksudnya adalah dalam rangka memohon hati dan pikiran tetap tenang saat membaca Alquran. Niat dan amalan kita juga diluruskan semata-mata mengharap berkahNya ;

“Apabila kamu membaca Al Quran,hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. (Q.S 16 an-nahl: 98)

Setiap urusan yang tidak dimulai dengan bismillah akan terputus (berkahnya). (H.R. Abu Dawud)

6. Dibaca dengan Penuh Perenungan

Selanjutnya, adab membaca Alquran yaitu berusaha memahami isi kandungannya. Bagi orang yang mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al Quran, disunnahkan membacanya dengan penuh perhatian dan perenungan akan maksud ayat tersebut. Cara membaca seperti inilah yang dikehendaki, yakni tatkala lidah bergerak membaca, hati turut memperhatikan serta memikirkan isi kandungan ayatnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Apakah mereka tidak memperhatikan (isi) Al Quran… (Q.S. An Nisa: 82)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam sering menangis tatkala membaca Al Quran karena meresapi ayat yang tengan dibaca. Demikian pula dengan para sahabatnya r.a. banyak yang mencucurkan air mata ketika membaca ayat-ayat Allah yang menggambarkan nasib yang akan ditanggung oleh orang-orang yang berdosa.

7. Sunnah dengan Suara yang Merdu

Disunnahkan membaca Alquran dengan suara yang merdu dan bagus sehingga menambah keindahan Alquran. Rasulullah SAW. bersabda:

“Hendaklah kalian menghiasi Alquran dengan suara kalian (yang merdu)”. (H.R. Ahmad)

Membaca Alquran dengan suara yang merdu tetap wajib memperhatikan berbagai aturan dan ketentuan dalam Ilmu Tajwid. Jika seseorang mempelajari seni membaca Alquran dengan tujuan agar dapat menghias Alquran lewat alunan suaranya yang merdu, maka Ilmu Tajwid menjadi syarat baginya sebelum ia mendalam seni tersebut.

Adalah naif bila seorang qari membaca Alquran dengan suara yang merdu dan irama yang indah tetapi cara membacanya salah. Sehingga yang terjadi bukanlah menghias Alquran melainkan merusak Alquran.

8. Hindari Membaca Alquran dengan Cara Dinyanyikan

Dilarang membaca Alquran dengan dinyanyikan dalam bentuk tar’id (suara pembaca menggelegar seperti halilintar atau memekik seperti orang kesakitan), tarqish (seperti orang bernyanyi sambil menari), dan tardid (membaca Alquran yang diikuti jemaah pada setiap akhir bacaan dengan cara yang tidak tepat karena tidak mengindahkan bagian waqaf dan ibtida-nya).

9. Tidak Memutus Bacaan Kecuali pada Waqaf

Jangan lah memutuskan bacaan Alquran sembarangan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain atau memenuhi hajat yang tidak mendesak. Tetapi hentikan lah bacaan sampai batas ayat/ lafazh Alquran yang sempurna dan tidak tergolong sebagai Waqaf Qabih.

10. Berhenti Ketika Ada Keperluan

Apabila ketika membaca Alquran, perut terasa ingin membuang angin atau mulut terasa hendak menguap, maka hentikanlah bacaan Alquran sejenak untuk menyelesaikan hajat tersebut. Jika telah sempurna, barulah bacaan Alquran dilanjutkan kembali (ibtida’) dari tempat yang cocok dan baik. Inilah adab yang bagus

Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan adab membaca Alquran. Sebenarnya masih banyak adab-adab lainnya yang tidak dibahas di sini. Kajian lengkap mengenai adab-adab membaca Alquran dapat dilihat langsung pada kitab At-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran karya Imam an-Nawawi rahimahullah.

Akhirnya, semoga Allah Yang Maha Penyayang senantiasa menjaga hati dan lisan kita dari kesalahan membaca ayat-ayatNya yang Agung. Menaungi hidup kita dengan petunjukNya yang lurus. Serta memasukan kita kedalam golongan hamba-hambaNya yang ikhlas dan selalu berkhidmat kepada Al Quran. Amin Ya Mujibas Sailin.

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00