8 Hal yang Bikin Pembaca Alquran Bergetar Hatinya

Sahabat Nusantara Mengaji yang dikasihi Allah. Membaca Alquran tidaklah seperti membaca buku dan majalah. Buku berbahasa Indonesia ataupun majalah berbahasa asing yang dimengerti artinya.

Membaca Alquran menambah iman seseorang (mukmin dan mukminat). Getaran sakralitas ayat-ayat-Nya meyakinkan kita betapa membaca Alquran adalah kenikmatan luar biasa. Allah SWT berfirman :

(Artinya) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2).

Lantas bagaimana kita dapat merasakan getaran sakralitas itu kala membaca Alquran? berikut 8 hal yang perlu kita tunaikan.

Pertama, hendaklah Pembaca Alquran dengan niat  yang ikhlas, semata-mata mengharapkan ridha Allah, bukan berniat cari dunia atau pujian.

 Kedua, disunnahkan membaca Alquran dalam keadaan mulut bersih. Bau mulut tersebut bisa dibersihkan dengan siwak atau bahan semisalnya.

Ketiga, disunnahkan membaca Alquran dalam keadaan suci. Namun jika membacanya dalam keadaan berhadats dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun sebagai catatan bahwa dalam kaitannya menyentuh Alquran, ulama mensyaratkan agar seseorang dalam keadaan suci (bersuci). Dalil yang mendukung hal ini adalah :

(Artinya) Dari Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah menulis surat untuk penduduk Yaman yang isinya, “Tidak boleh menyentuh Alquran melainkan orang yang suci”. (HR. Daruquthni no. 449).

Keempat, mengambil tempat yang bersih untuk membaca Alquran. Oleh karena itu, para ulama sangat menganjurkan seseorang yang membaca Alquran di masjid. Di samping masjid adalah tempat yang bersih dan dimuliakan, juga ketika itu dapat meraih fadhilah i’tikaf.

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Hendaklah setiap orang yang duduk di masjid berniat i’tikaf baik untuk waktu yang lama atau hanya sesaat. Bahkan sudah sepatutnya sejak masuk masjid tersebut seseorang sudah berniat untuk i’tikaf. Adab seperti ini sudah sepatutnya diperhatikan dan disebarkan, apalagi pada anak-anak dan orang awam (yang belum paham). Karena mengamalkan seperti itu sudah semakin langka.” (At-Tibyan, hlm. 83).

Kelima, menghadap kiblat ketika membaca Alquran. Duduk demikian menciptakaan keadaan sakinah dan penuh ketenangan.

Keenam, mulai membaca Alquran dengan membaca ta’awudz. Bacaan ta’awudz menurut jumhur (mayoritas ulama) adalah “a’udzu billahi minasy syaithonir rajiim”. Membaca ta’awudz ini dihukumi sunnah, bukan wajib. Allah SWT berfirman :

(Artinya) “Apabila kamu membaca Alquran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

Ketujuh, membaca “bismillahirrahmanirrahim” di setiap awal surat selain surat Bara’ah (surat At-Taubah). Catatan: Memulai pertengahan surat cukup dengan ta’awudz tanpa bismillahir rahmanir rahim.

Kedelapan, hendaknya ketika membaca Alquran dalam keadaan khusyu’ dan berusaha untuk mentadabbur (merenungkan) setiap ayat yang dibaca. Allah SWT berfirman :

(Artinya) Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Ayat ini mencela orang-orang kafir dan munafik. Mereka tidak mengerti tentang kerasulan Nabi Muhammad SAW dan tidak mau memahami Alquran yang menjelaskan tentang kerasulan beliau. Karena bila mereka mau mengerti dan mau memperhatikan, niscaya mereka mengetahui bahwa kerasulan Nabi Muhammad SAW dan Alquran itu sebenarnya dari allah SWT. Ayat ini juga mengindikasikan bahwa merenungi kandungan alquran menjadi sulit bila hati mengingkarinya dan kotor oleh debu kemunafikan.

Imam Nawawi Rahimahullah menyatakan, “Hadits yang membicarakan tentang perintah untuk tadabbur banyak sekali. Perkataan ulama salafiyah pun amat banyak tentang anjuran tersebut. Ada cerita bahwa sekelompok ulama teladan (ulama salaf) yang hanya membaca satu ayat yang terus diulang-ulang dan direnungkan di waktu malam hingga datang Shubuh. Bahkan ada yang membaca Alquran karena saking mentadabburinya hingga pingsan. Lebih dari itu, ada di antara ulama yang sampai meninggal dunia ketika mentadabburi Alquran.” (At-Tibyan, hlm. 86)

Diceritakan oleh Imam Nawawi, dari Bahz bin Hakim, bahwasanya Zararah bin Aufa, seorang ulama terkemuka di kalangan tabi’in, ia pernah menjadi imam untuk mereka ketika shalat Shubuh. Zararah membaca surat hingga sampai pada ayat,

“Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit.” (QS. Al-Mudattsir: 8-9).

Ketika itu Zararah tersungkur lantas meninggal dunia. Bahz menyatakan bahwa ia menjadi di antara orang yang memikul jenazahnya.  (At-Tibyan, hlm. 80-87)

Demikian kekuatan ayat-ayat-Nya. Getaran itu menusuk jantung. Rasakan kerinduan dan kesyahduan untuk dekat dengan-Nya. Getaran itu menambah keimanan. Semoga kita dicucuri rahmat-Nya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. Semoga Bermanfaat. (Nusantara Mengaji)

Yayasan Nusantara Mengaji
Gedung Wisma Usaha UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Lantai 2)
JL. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten Kode Pos 15412, Telp: 021-27599252, SMS / WA: 081212535126, BBM: 5EA14C00